KEADILAN GENDER DALAM NARASI KEPEMIMPINAN RATU BALQIS (Studi Tafsir Mudhu’i Surah An-Naml [27] ayat 23-44)


Perdebatan mengenai peran perempuan sebagai pemimpin dalam Islam terus menjadi topik yang hangat diperbicangkan belakangan ini. Dalam dunia politik dan sosial yang ada sekarang, wanita telah menunjukkan kemampuan mereka untuk memimpin lembaga, kelompok, hingga negara. Namun sepanjang sejarah, ada anggapan bahwa wanita lebih mengutamakan perasaan, sehingga dianggap kurang cocok untuk menjadi pemimpin. Padahal, cerita Ratu Balqis dalam QS. An-Naml ayat 23-44 justru menunjukkan hal yang berlawanan, dia adalah seorang wanita yang mengatur sebuah kerajaan besar, memiliki kekuasaan atas pengikutnya, dan mendapatkan berbagai sarana serta kemewahan. Dalam kitab tafsir Al-Azhar yang ditulis oleh Buya Hamka, misalnya, Ratu Balqis digambarkan memiliki sifat kepemimpinan yang ideal, seperti bijaksana dan demokratis, serta berjiwa diplomatik dan mencintai perdamaian.[1] Selain itu, ia juga dianggap cerdas dan teliti. Temuan Setiawati dan timnya tahun 2024 menunjukkan bahwa perspektif ini menjadikan Ratu Balqis sebagai contoh pemimpin perempuan yang efektif dan sesuai dengan kondisi saat ini.[2]

Selanjutnya, dalam kajian konseptual, cerita ini ditempatkan dalam kerangka yang berbicara tentang keadilan gender. QS. Ayat Al-Hujurat 13 menjelaskan bahwa kehormatan seseorang ditentukan oleh tingkat ketakwaannya, bukan oleh jenis kelaminnya. Tafsir klasik seperti karya Ibn Katsir dan Al-Qurtubi[3] lebih menekankan pada nilai-nilai universal tentang ketaqwaan, sedangkan tafsir modern seperti karya Quraish Shihab dan Amina Wadud lebih menyoroti aspek keadilan gender dalam ayat tersebut. Dalam QS. Surah An-Nisa Ayat 58-59, Allah menyatakan bahwa amanah, termasuk kekuasaan untuk memimpin, harus diberikan kepada orang yang layak, dan hukum antar manusia harus diberlakukan secara adil.[4] Prinsip itu menjelaskan bahwa baik orang yang memimpin maupun yang diikutinya harus bertanggung jawab, serta bahwa seorang pemimpin harus menggunakan kekuasaannya secara adil. Ini selaras dengan tema gender, keadilan harus diperjuangkan tanpa ada pemisahan atau perlakuan tidak adil. QS. Surah At-Taubah ayat 71 bahkan meminta laki-laki dan perempuan bekerja sama dalam melakukan hal-hal yang baik. Dengan kata lain, dari sudut pandang Islam, kerja sama antara laki-laki dan perempuan dalam berbakti dan bertaqwa justru diberikan dukungan secara jelas.

Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap cerita tentang kepemimpinan Ratu Balqis dalam QS. An-Naml: 23-44 dan memahami nilai-nilai kepemimpinan yang terdapat di dalamnya. Selanjutnya, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari kesetaraan gender dalam Islam. Ini berarti menekankan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam hal kepercayaan (amanah) serta keadilan sosial QS. Surah An-Nisa Ayat 58, serta petunjuk lain seperti dalam Surah Al-Hujurat Ayat 13 mengenai keistimewaan yang universal. Tujuan akhirnya adalah mencari pesan yang bisa dipelajari dari kisah Ratu Balqis, yaitu bahwa Al-Qur'an tidak menganggap peran perempuan dalam kepemimpinan sebagai hal yang rendah, melainkan menjelaskan prinsip-prinsip yang adil dan menyertakan semua pihak. Penelitian ini menggunakan metode tafsir tematik yang mengumpulkan berbagai ayat serta penjelasan dari para mufasir klasik dan modern untuk mendapatkan pemahaman yang benar dan tepat. Penelitian sebelumnya oleh Rahmah (2026), misalnya, telah membahas secara detail perubahan kepercayaan Ratu Balqis dalam surah Al-Qasas.[5] Studi sekarang lebih fokus pada aspek keadilan gender karena An-Naml. Studi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan pemahaman mengenai hubungan antara narasi dalam Al-Qur'an tentang kepemimpinan perempuan dengan prinsip keadilan.[6]

Munasabah QS. An-Naml ayat 23-44

Munasabah QS. An-Naml ayat 23-44 menunjukkan keterkaitan yang utuh dalam menggambarkan perjalanan kepemimpinan Ratu Balqis sekaligus menegaskan prinsip keadilan gender dalam perspektif Al-Qur’an. Ayat-ayat ini dimulai dengan laporan burung hud-hud tentang seorang perempuan yang memimpin negeri Saba’ dengan kekuasaan besar dan singgasana yang megah. Menurut al-Tabari dan Ibn Katsir, penyebutan Balqis sebagai pemimpin perempuan bukanlah bentuk celaan, melainkan deskripsi atas realitas politik yang ada.[7] Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak memandang jenis kelamin sebagai patokan kepemimpinan, tetapi lebih pada kualitas kepemimpinan dan keyakinan yang dianutnya. Dengan demikian, kita dapat memahami bahwa perempuan juga dapat memegang otoritas politik dan mengelola pemerintahan secara efektif.

Keterkaitan ayat-ayat berikutnya tampak ketika Nabi Sulaiman menyampaikan dakwah melalui surat dan Balqis meresponsnya dengan sikap yang penuh pertimbangan. Dalam tafsir al-Razi dan al-Qurthubi dijelaskan bahwa tindakan Balqis yang mengumpulkan para pembesarnya untuk bermusyawarah menunjukkan kecerdasan politik, kebijaksanaan, dan kepemimpinan yang demokratis.[8] Al-Qur’an menggambarkannya sebagai pemimpin yang tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, melainkan mengedepankan dialog dan pertimbangan rasional. Ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir strategis, bermusyawarah, dan mengambil kebijakan bukanlah kemampuan yang terbatas pada laki-laki, melainkan dapat dimiliki oleh siapa saja yang memiliki kompetensi dan amanah.

Puncak dari kisah ini terdapat pada ayat 36-44 yang menggambarkan transformasi intelektual dan spiritual Balqis hingga akhirnya menerima ajaran tauhid. Menurut Ibn ‘Asyur, seluruh peristiwa yang dialami Balqis merupakan proses dakwah yang bertahap untuk membimbingnya menuju kebenaran. Pengakuannya dalam ayat 44 bahwa ia berserah diri kepada Allah bersama Nabi Sulaiman menjadi klimaks dari rangkaian ayat sebelumnya. Dalam konteks keadilan gender, kisah ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an menilai manusia berdasarkan keimanan, kebijaksanaan, dan ketakwaannya, bukan berdasarkan jenis kelaminnya. Oleh karena itu, narasi Ratu Balqis menjadi bukti bahwa perempuan memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin yang bijaksana, dihormati, dan mampu menerima kebenaran ketika bukti telah tampak jelas di hadapannya.


A.    Gambaran Kepemimpinan Ratu Balqis dalam QS. An-Naml (27): 23-44

Kisah dalam QS. surah An-Naml Ayat 23 menceritakan bahwa Raja Sulaiman ﷺ mendengar kabar dari burung hud-hud bahwa ia menemukan seorang wanita yang berkuasa atas rakyatnya, diberi segala sesuatu yang ia mau, dan diberikan takhta yang sangat megah. Perempuan itu adalah Ratu Balqis, sang raja dari kerajaan Saba’.

اِنِّيْ وَجَدْتُّ امْرَاَةً تَمْلِكُهُمْ وَاُوْتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَّلَهَا عَرْشٌ عَظِيْمٌ (23)

Innī wajattumra'atan tamlikuhum wa ūtiyat min kulli syai'iw wa lahā ‘arsyun ‘aẓīm(un).

“Sesungguhnya aku mendapati ada seorang perempuan[9] yang memerintah mereka (penduduk negeri Saba’). Dia dianugerahi segala sesuatu dan memiliki singgasana yang besar.” (27:23)

وَجَدْتُّهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُوْنَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ اَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُوْنَۙ (24)

Wajattuhā wa qaumahā yasjudūna lisy-syamsi min dūnillāhi wa zayyana lahumusy-syaiṭānu a‘mālahum fa ṣaddahum ‘anis-sabīli fahum lā yahtadūn(a).

“Aku (burung Hudhud) mendapati dia dan kaumnya sedang menyembah matahari, bukan Allah. Setan telah menghiasi perbuatan-perbuatan (buruk itu agar terasa indah) bagi mereka sehingga menghalanginya dari jalan (Allah). Mereka tidak mendapat petunjuk.” (27:24)

Ayat ini menyebutkan bahwa dia memiliki posisi sebagai seorang perempuan yang berkuasa secara penuh dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas kerajaan yang cukup banyak dan melimpah. Balqis memimpin rakyatnya dengan baik, karena itu Sulaiman memutuskan untuk menguji kebenarannya dengan memberikan hadiah. Sulaiman kemudian menulis surat undangan untuk meminta dia menyembah Allah dan mengirimkan surat itu ke istana Balqis (Ayat 29–30).

(29) قَالَتْ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَؤُا اِنِّيْٓ اُلْقِيَ اِلَيَّ كِتٰبٌ كَرِيْمٌ

Qālat yā ayyuhal-mala'u innī ulqiya ilayya kitābun karīm(un).

“Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar, sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang penting.” (27:29)

 

اِنَّهٗ مِنْ سُلَيْمٰنَ وَاِنَّهٗ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (30

Innahū min sulaimāna wa innahū bismillāhir-raḥmānir-raḥīm(i).

“Sesungguhnya (surat) itu berasal dari Sulaiman yang isinya (berbunyi,) “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (27:30)

اَلَّا تَعْلُوْا عَلَيَّ وَأْتُوْنِيْ مُسْلِمِيْنَ ࣖ(31)

Allā ta‘lū ‘alayya wa'tūnī muslimīn(a).

“Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri!” (27:31)

Balqis membalas surat itu dengan mengumpulkan para penasihatnya dan mulai menyusun rencana strategi. Sulaiman mengirimkan pasukan berupa jin untuk memindahkan kursi kerajaan Balqis dalam waktu yang sangat singkat, yaitu dalam sekejap (Ayat 38-40).

قَالَ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَؤُا اَيُّكُمْ يَأْتِيْنِيْ بِعَرْشِهَا قَبْلَ اَنْ يَّأْتُوْنِيْ مُسْلِمِيْنَ (38)

Qāla yā ayyuhal-mala'u ayyukum ya'tīnī bi‘arsyihā qabla ay ya'tūnī muslimīn(a).

“Dia (Sulaiman) berkata, “Wahai para pembesar, siapakah di antara kamu yang sanggup membawakanku singgasananya sebelum mereka datang menyerahkan diri?” (27:38)

قَالَ عِفْرِيْتٌ مِّنَ الْجِنِّ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ تَقُوْمَ مِنْ مَّقَامِكَۚ وَاِنِّيْ عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ اَمِيْنٌ (39)

Qāla ‘ifrītum minal-jinni ana atīka bihī qabla an taqūma mim maqāmik(a), wa innī ‘alaihi laqawiyyun amīn(un).

Ifrit dari golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari singgasanamu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat lagi dapat dipercaya.” (27:39)

قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ (40)

Qālal-lażī ‘indahū ‘ilmum minal-kitābi ana ātīka bihī qabla ay yartadda ilaika ṭarfuk(a), falammā ra'āhu mustaqirran ‘indahū qāla hāżā min faḍli rabbī, liyabluwanī a'asykuru am akfur(u), wa man syakara fa'innamā yasykuru linafsih(ī), wa man kafara fa'inna rabbī ganiyyun karīm(un).

“Seorang yang mempunyai ilmu dari kitab suci[10] berkata, “Aku akan mendatangimu dengan membawa (singgasana) itu sebelum matamu berkedip.” Ketika dia (Sulaiman) melihat (singgasana) itu ada di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau berbuat kufur. Siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Siapa yang berbuat kufur, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (27:40)

Ketika Balqis datang ke istana Sulaiman, ia melihat lantai istana yang dilapisi kaca, sehingga terlihat seperti permukaan air. Karena itu, ia menaikkan kainnya, lalu baru sadar bahwa itu adalah sebuah trik. Sulaiman menekankan bahwa tindakan itu bertujuan untuk menunjukkan kekuatan Allah. Akhirnya, Balqis masuk ke istana dengan berdiri rapi dan mengucapkan pujian kepada kebesaran istana Sulaiman. Dalam pertemuan tersebut (ayat 43-44), Balqis merasa percaya bahwa Sulaiman adalah kekasih Allah karena ia melihat istana dan kekayaan yang sangat luar biasa. Ia pun mengucapkan keyakinannya (Islam).[11]

Cerita ini menjelaskan peran penting Ratu Balqis dalam memimpin, dia mengelola pemerintahan dengan menunjukkan bahwa rakyatnya hidup nyaman dan makmur, sehingga menarik perhatian Sulaiman. Ia juga mengirimkan utusan dan berdiskusi bersama para menterinya untuk membuat keputusan. Meskipun interpretasi klasik umumnya tidak menjelaskan secara tuntas tentang sifat-sifat kepemimpinan Balqis, para penafsir masa kini justru lebih menekankan tindakan dan kebijaksanaannya. Menurut Setiawati dan timnya, Hamka menyatakan bahwa Balqis adalah seorang pemimpin yang bijak dan demokratis[12], karena ia menguji kebijaksanaan Sulaiman dengan mengirimkan hadiah, seperti yang disebutkan dalam Ayat 28, sebagai cara untuk ber diplomasi dan menunjukkan kecerdasannya.[13] Selain itu, Balqis juga ditampilkan mampu berbicara dengan orang lain secara bijak dan mencintai perdamaian saat memimpin negeri Saba’. Tafsir kontemporer lainnya menyatakan bahwa Balqis menggunakan akal untuk memimpin rakyatnya dan berbicara dengan Sulaiman setelah dia memeriksa ide-idenya bersama para pemimpin negara. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Balqis adalah jenis kepemimpinan yang suka berdiskusi dan penuh bijak.[14]

Tabel Berikut menampilkan analisis kebahasaan beberapa ayat dalam QS. An-Naml ayat 23-44 yang relevan dengan Gambaran kepemimpinan Ratu Balqis.

Analisis Ayat

Nomor Ayat

Lafadz Ayat

Kata تَمْلِكُهُمْ berasal dari kata malaka-yamliku, yang berarti menguasai, memiliki keuasaa, atau memerintah. Pengunaan fi’il mudhari’ menunjukkan keberlangsungan kekuasaan yang sedang dijalankan oleh Ratu Balqis atas Kaumnya.

 

اِنِّيْ وَجَدْتُّ امْرَاَةً تَمْلِكُهُمْ

Kata وَاُوْتِيَتْ merupakan fi’il majhul yang berarti “telah dianugerahi”. Bentuk pasif menunjukkan bahwa kekuasaan dan kemampuan Balqis dipahami sebagai karunia yang diberikan kepadanya.

23

وَاُوْتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

Kata عَرْشٌ عَظِيْمٌ menunjukkan simbol legitimasi politik dan kemegahan pemerintahan. Dalam tradisi Arab, ‘Arsy sering digunakan sebagai lambing otoritas negara.

 

وَّلَهَا عَرْشٌ عَظِيْمٌ

Tabel 1. Analisis Kebahasaan Gambaran Kepemimpinan ratu Balqis dalam QS. An-Naml: 23

 

B.     Nila-nilai Kepemimpinan yang Ditunjukkan oleh Ratu Balqis.

Dari narasi Qs. An-Naml: 23-44, tampak beberapa nilai kepemimpinan yang ditampilkan oleh Ratu Balqis:

·       Kebijaksanaan dan Kepemimpinan Demokratis

Ratu Balqis ditampilkan sebagai pemimpin yang menggunakan kecerdasan dan kebijaksanaan. Setiawati dan teman-temannya dalam penelitian yang mereka lakkan menyatakan bahwa menurut tafsir Hamka, Ratu Balqis mempunyai sifat kepemimpinan kebijaksanaan dan demokratis.[15] Contohnya, ia menggunakan diplomasi melalui surat dan menguji hikmah dari Nabi Sulaiman dengan penasihatnya sebelum mengambil keputusan. Lalu keputusan Ratu Balqis “untuk menguji kebijaksanaan Nabi Sulaiman dengan mengirim hadiah” menunjukkan kemampuan berpikir terbuka dan demokratis dalam kepemimpinan.

·        Diplomasi dan Cinta Damai

Balqis disebut sebagai pemimpin yang diplomatis dan cinta damai. Sikap ini tampak saat ia dengan hormat mendengarkan ajakan Sulaiman dan berdialog, bukan langsung menolak. Ia menempatkan misi dari Sulaiman sebagai tawaran, bukan ultimatum. Dalam diskusi dengan para menterinya, Balqis berusaha merundingkan cara yang terbaik tanpa memicu konflik. Hal ini mencerminkan nilai diplomasi dalam kepemimpinan, yaitu mempengaruhi pengikut untuk menerima kesepakatan tanpa paksaan.[16]

·        Kecermatan dan Ketelitian

Tafsir Hamka juga menyoroti Balqis sebagai pemimpin yang cerdas dan teliti. Ketelitian Balqis terlihat ketika ia datang menemui Sulaiman, ia spontan menegakkan kain roknya dan akhirnya menyadari realitas lantai istana Sulaiman yang berlapis kaca. Kesadaran yang cepat ini menandakan kemampuan membaca situasi dengan akurat, keputusan akhir Balqis untuk mengakui kekuasaan Sulaiman dan menerima kebenaran menunjukkan sikap dewasa dan analitis, yaitu mengakui kebenaran setelah didapati yang jelas.[17]

Nilai-nilai kepemimpinan ini sejalan dengan prinsip kepemimpinan Islam secara umum. Misalnya dalam Qs. An-Nisa (4):58-59 yang menegaskan bahwa kepemimpinan Islam didasarkan atas amanah dan keadilan. Balqis mendapat amanah sebagai pemimpin di Saba’ dan ia diperintahkan untuk memerintah rakyatya dengan adil. Narasi Al-Qur’an menegaskan bahwa mereka yang memerintah rakyatnya dengan adil. Narasi dalam Al-Qur’an menegaskan bahwa mereka yang menegakkan kekuasaan wajib menggunakan kekuatan untuk memerintah rakyatnya secara adil.

Analisis Kebahasaan

Nomor Ayat

Lafadz

Kata اَفْتُوْنِيْ berasal dari akar kata fatā-yaftī yang berarti memberikan pertimbangan atau fatwa. Penggunaannya menunjukkan bahwa Balqis meminta masukan sebelum mengambil keputusan politik.

 

32

قَالَتْ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَؤُا اَفْتُوْنِيْ فِيْٓ اَمْرِيْۚ

Frasa مَا كُنْتُ قَاطِعَةً menunjukkan sikap tidak tergesa-gesa dalam memutuskan perkara. Kata qāṭi'ah berarti memutus secara final.

 

مَا كُنْتُ قَاطِعَةً اَمْرًا حَتّٰى تَشْهَدُوْنِ

Kata هَدِيَّةٍ berati hadiah diplomatic. Dalam konteks politik kuno, pemberian hadiah sering digunakan sebagai sarana untuk membangun hubungan antara Kerajaan dan menghindari konflik.

 

35

وَاِنِّيْ مُرْسِلَةٌ اِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ

Kata فَنٰظِرَةٌ berasal dari akar naẓara yang berarti mengamati dan mempertimbangkan. menunjukkan sikap strategis sebelum mengambil tindakan.

 

فَنٰظِرَةٌ ۢبِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُوْنَ

Kata اَهٰكَذَا merupakan bentuk istifham yang menunjukkan proses verifikasi dan pengujian inforasi.

42

اَهٰكَذَا عَرْشُكِۗ

Kata كَاَنَّهٗ menunjukkan kehati-hatian dalam menjawab dan menghindari keputusan yang premature.

42

                          قَالَتْ كَاَنَّهٗ هُوَۚ

Tabel 2. Analisis Kebahasaan Nilai-nilai Kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Ratu Balqis dalam Qs. An-Naml:32, 35, dan 42

 

C.    Nilai-nilai Kepemimpinan Ratu Balqis dalam Perspektif keadilan Gender

Dari sudut keadilan gender, kisah Ratu Balqis menunjukkan bahwa Islam mengakui peran penting perempuan dalam masyarakat tanpa diskriminasi. QS. An-Nisa [4]:58 mengingatkan bahwa Allah memerintahkan penyampaian amanah kepada orang yang berhak. Dalam konteks pemerintahan, amanah tersebut tidak dibedakan antara laki-laki atau perempuan. Srifariyati & Nugraha menjelaskan bahwa sistem kepemimpinan Islam adalah fitrah bagi semua manusia, dengan pemimpin (imāmah) dan rakyat memikul mandat bersama.[18] Prinsip keadilan (al-‘adl) harus ditegakkan dalam setiap pengambilan keputusan kepemimpinan. Ratu Balqis, sebagai pemimpin wanita, telah memerintah dengan adil dan jujur (ditandai kemakmuran rakyatnya). Dengan demikian, kepemimpinannya memenuhi prinsip amanah dan keadilan yang tidak memandang gender.

QS. At-Taubah [9]:71 menegaskan bahwa “orang-orang beriman laki-laki dan perempuan adalah penolong satu sama lain” dalam kebaikan. Ayat ini menyiratkan kerjasama lintas gender dalam menjalankan perintah Allah (seperti dakwah dan keadilan). Kisah Balqis pun menunjukkan kerja sama antara laki-laki (Sulaiman) dan perempuan (Balqis) dalam menyebarkan ajaran tauhid. Meskipun awalnya melalui konflik diplomatik, akhirnya Balqis bergabung dalam barisan orang beriman (Ayat 44).

QS. Al-Hujurāt [49]:13 (yang dibahas Hidayah) menyatakan bahwa kemuliaan manusia berdasarkan ketaqwaan, bukan gender. Tafsir klasik terhadap ayat ini menekankan taqwa sebagai tolok ukur kemuliaan, tanpa eksplisit membahas gender. Kontemporer, tafsir Al-Hujurāt 13 cenderung mereinterpretasi nilai-nilai yang inklusif gender. Sebagaimana ayat tersebut menunjukkan kesetaraan hak-hak kemanusiaan, narasi Balqis juga menyiratkan bahwa perempuan bisa menerima amanah kepemimpinan. Sebagaimana Hidayah (2025) temukan, penafsiran klasik belum menyoroti hak kepemimpinan perempuan, tetapi penafsiran modern “menekankan pentingnya keadilan gender dan pengakuan peran aktif perempuan dalam masyarakat”.[19] Kisah Balqis, dilihat dari kaca mata kontemporer, menunjukkan perempuan juga memiliki hak dan kapasitas untuk memimpin karena kesalehan dan kebijaksanaannya.

Tafsir Ulama seperti Ibnu ‘Āsyūr menggambarkan bahwa proses transformasi keimanan Balqis tidak hanya soal peralihan pribadi, tetapi juga memperlihatkan metode dakwah yang adil, memberikan hujjah dan kesadaran secara bertahap. Ini menegaskan bahwa pesan Al-Qur’an tidak memonopoli jenis kelamin tertentu dalam menyebarkan ajaran Islam. Balqis tidak diposisikan sebagai pengecualian mitis, melainkan contoh nyata dari perempuan pemimpin yang dituntun keimanan dan kesetaraan. Hal ini sejalan dengan gagasan Wahyuni & Sulistyaningsih (2024) bahwa Islam menyediakan “jalur kesetaraan dan keadilan gender” demi keadilan sosial umat (meskipun kutipan spesifik tidak tersedia di sini, kesimpulan tersebut umum dibahas dalam kajian gender Islam).[20]

Dengan demikian, nilai-nilai kepemimpinan Balqis seperti kebijaksanaan, keadilan, dan kejujuran tidak dipandang berbeda antara perempuan maupun laki-laki. Islam menilai semua pemimpin berdasarkan amanah dan kemampuan moral, bukan gender. Narasi QS. An-Naml tersebut mengajarkan bahwa perempuan berkuasa (seperti Balqis) dapat menjadi teladan kepemimpinan adil dan jujur. Seperti disimpulkan oleh para ahli tafsir, penting melakukan pembacaan kontekstual ayat agar isu kesetaraan gender dapat dijawab dan terwujud pemahaman Islam yang adil serta inklusif. Kisah Balqis, setelah menganut Islam, juga menjadi contoh bahwa syariat memberi tempat terhormat bagi pemimpin perempuan yang amanah.

Analisis Kebahasaan

Nomor Ayat

Lafadz

Kata امْرَاَةً disebutkan tanpa konotasi negative. Penyebutan jenis kelamin hanya berfungsi sebagai identifikasi sementara, fokus ayat justru pada kapasitas kepemimpinnanya.

 

23

اِنِّيْ وَجَدْتُّ امْرَاَةً تَمْلِكُهُمْ

Kata مِنْ كُلِّ شَيْءٍ Mneunjukkan keleluasaan saranadan kemampuan yang dimiliki oleh pemerintahan Balqis.

23

وَاُوْتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

Kata اَسْلَمْتُ menunjukkan sikap tunduk dan menerima kebenaran setelah memperoleh bukti yang meyakinkan.

 

 

 

44

قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمٰنَ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ

Kata مَعَ سُلَيْمٰنَ menunjukkan kebersamaan dalam ketundukan kepada Allah SWT, bukan relasi superioritas gender.

 

وَاَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمٰنَ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

Tabel 3. Analisis Kebahasaan Nilai kepemimpinan Ratu Balqis dalam Perspektif Keadilan Gender dalan Qs. An-Naml:23 dan 44.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan analisis terhadap QS. Dari ayat 23 sampai 44 dalam An-Naml, dapat diketahui bahwa cerita Ratu Balqis menggambarkan seorang pemimpin perempuan yang memiliki kemampuan dalam memimpin, berpikir bijak, dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Al-Qur’an menggambarkan Balqis sebagai seorang pemimpin yang memiliki kekuatan politik yang besar, mampu mengurus pemerintahan dengan baik, serta selalu mengutamakan musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan. Sikapnya yang menjunjung tinggi diplomasi, menghindari perang, dan terbuka terhadap kebenaran menunjukkan kepemimpinan yang ideal dan berfokus pada kesejahteraan rakyat.

Nilai-nilai kepemimpinan yang tercermin dalam diri Ratu Balqis meliputi kebijaksanaan, kecermatan, keadilan, sikap demokratis, serta kemampuan berpikir strategis. Nilai-nilai tersebut selaras dengan prinsip kepemimpinan dalam Islam yang menekankan amanah dan keadilan sebagaimana dijelaskan dalam QS. An-Nisa ayat 58-59. Oleh karena itu, ukuran keberhasilan seorang pemimpin dalam Islam tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh kualitas moral, integritas, kompetensi, dan tanggung jawabnya dalam menjalankan amanah.

Dalam pandangan tentang keadilan gender, kisah Ratu Balqis menggambarkan bahwa Islam memberikan peluang yang setara bagi pria dan wanita untuk berpartisipasi dalam masyarakat dan kepemimpinan. Ini sejalan dengan ajaran Al-Qur'an yang menekankan bahwa kehormatan seseorang di hadapan Allah ditentukan oleh tingkat ketaqwaannya, seperti yang dijelaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, serta pentingnya kolaborasi antara pria dan wanita dalam mempromosikan kebaikan seperti yang tercantum dalam QS. At-Taubah ayat 71.

Dengan kata lain, cerita mengenai Ratu Balqis dapat dipahami sebagai simbol kepemimpinan perempuan yang sukses dan berlandaskan prinsip-prinsip Islam. Cerita ini menegaskan bahwa perempuan memiliki kemampuan dan hak untuk memimpin asalkan dapat melaksanakan tugas dengan baik, menegakkan keadilan, serta memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, kisah Ratu Balqis tetap penting sebagai acuan dalam memahami keterkaitan antara kepemimpinan perempuan dan keadilan gender dari sudut pandang Al-Qur’an dalam konteks kehidupan saat ini.



[1] Poppy Setiawati et al., “Islam Dan Kepemimpinan Perempuan: Prototipe Leadership Ratu Balqis Perspektif Tafsir Al-Azhar,” Al-Qudwah 2, no. 2 (2024): 137–51, https://doi.org/10.24014/alqudwah.v2i2.27172.

[2] Setiawati et al.

[3] Rizki Nur Amaliah and Siti Munawaroh, “Kepemimpinan Perempuan Dalam Al-Qur’an: Analisis Tafsir Al-Qurṭubĭ Dan Pemikiran Husein Muhammad,” REVELATIA Jurnal Ilmu Al-Qur`an Dan Tafsir 4, no. 1 (2023): 3, https://doi.org/10.19105/revelatia.v4i1.7860.

[4] Jurnal Studi et al., “AL-QUDWAH Islam Dan Kepemimpinan Perempuan : Prototipe Leadership Ratu” 2, no. 2 (2024): 137–51, https://doi.org/10.24014/alqudwah.v2i2.27172.

[5] Jurnal Studi, Ilmu Quran, and D A N Hadis, “Kepemimpinan Perempuan Dalam Al- Qur ’ an : Komparasi Hermeneutika Amina Wadud Dan Asma Barlas Pada Kisah Ratu Balqis” 3, no. 1 (2025): 39–62.

[6] Studi, Quran, and Hadis.

[7] Miranti Kesuma Dewi, “Epistemologi Penafsiran Ibnu Katsir Tentang Kepemimpinan Perempuan,” UIN Sunan Kalijaga, no. 1 (2018): 430–39.

[8] Mar’atul Mochhtar, “Kepemimpinan Perempuan Dalam Al- Qur ’ an : Komparasi Hermeneutika Amina Wadud Dan Asma Barlas Pada Kisah Ratu Balqis,” Jurnal Studi ILMU QURAN DAN HADIS 3, no. 1 (2025): 8.

[9] Yang dimaksud Perempuan dalam ayat ini Adalah Ratu Balqis yang memerintas Kerajaan Saba’ pada Nabi Sulaiman a.s.

[10] Kitab Suci yang dimaksud dalam ayat ini Adalah Kitab suci yang diturunkan sebelum Nabi Sulaiman A.S, yaitu Taurat dan Zabur.

[11] “Tafsir Ibnu Katsir Surat An-Naml | Tafsir Ayat 41-44,” Enjoy Qur’an, n.d., 1–5.

[12] Setiawati et al., “Islam Dan Kepemimpinan Perempuan: Prototipe Leadership Ratu Balqis Perspektif Tafsir Al-Azhar.”

[13] Studi et al., “AL-QUDWAH Islam Dan Kepemimpinan Perempuan : Prototipe Leadership Ratu.”

[14] Nur Amaliah and Munawaroh, “Kepemimpinan Perempuan Dalam Al-Qur’an: Analisis Tafsir Al-Qurṭubĭ Dan Pemikiran Husein Muhammad.”

[15] Devi Suraya Az-zahra, Eka Prasetiawati, and Muhamad Agus Mushodiq, “AL-AFKAR : Journal for Islamic Studies Kepemimpinan Perempuan Dalam Surat An-Naml Ayat 23- 44 ( Kajian Ma ’ Na Cum Maghza )” 8, no. 1 (2025): 1502–28, https://doi.org/10.31943/afkarjournal.v8i1.2175.Women.

[16] Mochhtar, “Kepemimpinan Perempuan Dalam Al- Qur ’ an : Komparasi Hermeneutika Amina Wadud Dan Asma Barlas Pada Kisah Ratu Balqis.”

[17] Mochhtar.

[18] Annis Rizqina et al., “Akhlak Independent Woman Dalam Al- Qur ’ an Surah An -Naml Ayat 23 : Perspektif Ulama-Ulama Perempuan Di Kabupaten Aceh Tamiang , Aceh” 02 (2025): 882–97.

[19] Studi, Quran, and Hadis, “Kepemimpinan Perempuan Dalam Al- Qur ’ an : Komparasi Hermeneutika Amina Wadud Dan Asma Barlas Pada Kisah Ratu Balqis.”

[20] Studi, Quran, and Hadis.

 Tabel 1. Analisis Kebahasaan Gambaran Kepemimpinan ratu Balqis dalam QS. An-Naml: 23

Tabel 2. Analisis Kebahasaan Nilai-nilai Kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Ratu Balqis dalam Qs. An-Naml:32, 35, dan 42

Tabel 3. Analisis Kebahasaan Nilai kepemimpinan Ratu Balqis dalam Perspektif Keadilan Gender dalan Qs. An-Naml:23 dan 44.



Penulis:

Muhammad Ibrahim           (241111036)

Mirzanul Zulmi                  (241111038)

Fina Nailatul Izzah            (241111055)

Fikri Ristrian Nugraha       (241111067)

Dosen Pembimbing 
Dr. KH. Moh. Abdul Kholiq Hasan Lc.MA.M.Ed

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tafsir Surat An-Nisa' (4): Ayat 31-32

Tafsir Surat An-Nisa' (4): Ayat 43

Tafsir Surat An-Nisa' (4): Ayat 20-21