EKSISTENSI DAN MARTABAT GURU DALAM AL-QUR’AN
Pendidikan
merupakan pondasi yang harus dijaga eksistensinya untuk menopang sebuah
peradaban. Sistem pendidikan yang baik akan mencetak sumber daya manusia yang
unggul. Semakin tinggi kualitas pendidikan suatu bangsa maka negara tersebut
semakin maju, begitu juga sebaliknya.[1]Negara-negara
maju dibeberapa belahan dunia juga menjunjung tinggi pendidikan, seperti
Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Kanada.[2]
Negara tersebut dapat dikategorikan maju karena beberapa syarat. Guna memenuhi
syarat tersebut suatu negara harus memiliki kualitas sumber daya manusia yang
tinggi.
Salah satu
hal yang perlu diperhatikan dalam dunia pendidikan ialah aspek guru. Guru
adalah orang yang bertanggungjawab terhadap perkembangan anak didiknya dengan mengupayakan
seluruh potensinya, baik potensi afektif, potensi kognitif, maupun potensi
psikomotorik.[3]
Guru di beberapa negara maju telah mendapatkan upah yang sangat layak. Seperti
negara Luksemburg, gaji per bulan guru di negara tersebut dapat mencapai 133
hingga 250 juta rupiah.[4]
Hal tersebut sangat berbanding balik dengan negara Indonesia. Guru honorer di
negara Indonesia hingga saat ini belum mendapatkan upah yang layak dibeberapa
daerah. Berdasarkan hasil survei oleh lembaga Institute for Demographic and
Poverty Studies (IDEAS) dan Dompet Dhuafa pada Mei 2024 sebanyak 117 responden
dari guru honorer atau kontrak di 25 provinsi ditemukan bahwa sebanyak 74,3%
responden guru honorer atau kontrak memiliki penghasilan di bawah 2 juta per
bulan.[5]
Data ini menunjukkan bahwa pendapatan guru honorer atau kontrak di Indonesia
masih di bawah UMR seluruh daerah di Indonesia. Hal ini menegaskan bahwa
pemerintah Indonesia belum memprioritaskan aspek pendidikan sebagai pondasi
kemajuan peradaban di Indonesia.
Guru
merupakan aspek krusial dalam proses pendidikan. Guru memiliki peran yang
sangat strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Bukan hanya sebagai
pengajar, melainkan juga sebagai fasilitator, motivator, dan agen perubahan.[6]
Selain itu, di dalam undang-undang No. 14 Tahun 2005 & Perpres No. 87 Tahun
2017 dijelaskan bahwa guru memiliki tugas membentuk moral, akhlak, rasa
religiositas, nasionalisme, serta integritas.[7]
Lantas bagaimana mungkin seorang guru yang memiliki beban moral sedemikian
besar, namun hanya mendapatkan secuil imbalan atas kontribusi mereka dalam
mencerdaskan peradaban bangsa Indonesia.
Al-Qur'an juga telah
menjelaskan mengenai beberapa kemuliaan-kemuliaan guru. Seperti di dalam surat
al-Mujadalah ayat 11
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا
الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
"Allah niscaya akan
mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan."[8]
Ayat tersebut
menerangkan secara jelas bahwa orang-orang yang berilmu akan diangkat
derajatnya oleh Allah.
Beberapa penjelasan di atas dapat menarik perhatian tersendiri di antaranya bagaimana konsep dan kedudukan guru dalam al-Qur'an?
Asbabun
Nuzul
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ
يَعْلَمْۗ
“Dia mengajarkan manusia
apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. Al-Alaq ayat 5)[9]
Wahyu
yang pertama kali dialami oleh Rasulullah adalah ar-ru'yah ash-shadiqah
"mimpi yang benar" dalam tidur. Setelah mengalami hal tersebut
Rasulullah mulai suka menyendiri di gua Hira. Hingga pada akhirnya, pada suatu
hari datanglah malaikat kepadanya seraya berkata "hai Muhammad, engkau
utusan Allah". Rasulullah langsung luluh berlutut kemudian pulang meminta
Khadijah untuk menyelimutinya. Kemudian malaikat datang lagi dan berkata "
hai Muhammad, engkau utusan Allah". Kemudian malaikat berkata ٱقرأ bacalah" lalu Rasulullah menjawab, "aku
tidak bisa membaca". Malaikat kemudian merengkuh Rasulullah tiga kali
hingga Rasulullah kehabisan tenaga, lalu Rasulullah membaca al-alaq ayat 1-5.[10]
وَاخْفِضْ
لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا
رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ
“Rendahkanlah dirimu
terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku,
sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik
aku pada waktu kecil.” (Q.S. Al-Isra' ayat 24)[11]
وَتَرَى الشَّمْسَ اِذَا طَلَعَتْ تَّزٰوَرُ عَنْ
كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِيْنِ وَاِذَا غَرَبَتْ تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ
وَهُمْ فِيْ فَجْوَةٍ مِّنْهُۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ ۗمَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ
فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًا ࣖ
“Engkau akan melihat
matahari yang ketika terbit condong ke sebelah kanan dari gua mereka dan yang
ketika terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedang mereka berada di tempat
yang luas di dalamnya (gua itu). Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)
Allah. Siapa yang Allah memberinya petunjuk, dialah yang mendapat petunjuk.
Siapa yang Dia sesatkan, engkau tidak akan menemukan seorang penolong pun yang
dapat memberinya petunjuk. (Q.S. Al-Kahfi ayat 17)[12]
Ayat
ini merupakan rangkain penjelasan mengenai kisah Ashabul Kahfi ayat 9-26.
Terdapat tokoh Quraisy (Nadhar bin Harits dan Uqbah bin Abi Mu'it) bertanya
kepada pendeta Yahudi di Madinah, bagaimana cara menguji kebenaran Nabi
Muhammad. Pendeta Yahudi menyarankan untuk menanyakan tiga hal. Kisah Ashabul
Kahfi, kisah Zulkarnain, hakikat ruh. Rasulullah menjawab pertanyaan tersebut
setelah wahyu turun, yaitu surat al-kahfi.[13]
يَرْفَعِ
اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ
دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
"Allah niscaya akan
mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
(Q.S. Al-Mujadalah ayat 11)[14]
Ibnu
Abi Hatim meriwayatkan dari Muqatil bahwa tersebut turun pada hari jum’at
ketika sekelompok pengikut perang Badar tiba, sedangkan tempat sempit.
Sementara itu, orang-orang yang duduk di sana tidak memberi kelapangan kepada
mereka sehingga mereka berdiri saja. Lantas Rasulullah menyuruh berdiri kepada
beberapa orang sesuai dengan jumlah pengikut Badar lalu beliau menyuruh mereka
untuk duduk di tempatnya. Tentu saja orang-orang yang disuruh berdiri itu
merasa tidak suka sehingga turunlah ayat tersebut.[15]
شَهِدَ
اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ
قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِۗ لَآ اِلٰهَ
اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Allah menyatakan bahwa
tidak ada tuhan selain Dia, (Allah) yang menegakkan keadilan. (Demikian pula)
para malaikat dan orang berilmu. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Ali-Imran ayat 18)[16]
Ayat
ini merupakan tanggapan dari dua orang pendeta dari Syam yang datang menemui
Rasulullah setelah beliau hijrah ke Madinah. Mereka bertanya kepada Rasulullah
mengenai persaksian yang paling agung di dalam kitab Allah. Kemudian Allah
menjawab dengan menurunkan ayat ini.[17]
وَمِنَ
النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ
اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ
غَفُوْرٌ
“(Demikian pula) di
antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang
bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut
kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
(Q.S. Fatir ayat 28)[18]
ANALISIS KEBAHASAAN
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
Kata
عَلَّمَ (allama) berasal dari akar kata ع-ل-م (‘ain-lam-mim) yang berarti tahu
atau ilmu. Dalam bahasa Arab, kata عَلَّمَ mengikuti
pola wazan فَعَّلَ (fa’
’ala) dengan adanya tasydid pada huruf lam. Penambahan tasydid pada
wazan ini berfungsi untuk mengubah kata kerja yang semula hanya mengenai
diri sendiri (lazim) menjadi kata kerja yang membutuhkan objek (muta’addi).
Jika ‘alima berarti ia tahu, maka ‘allama berarti dia membuat
orang lain tahu atau dia mengajar. Tentu kalimat ini akan sempurna jika
terdapat objek untuk menjadi sasaran dari kata kerja ini. Kemudian Quraish
Shihab di dalam tafsir al-Misbah juga menjelaskan bahwa kata allama
dalam ayat ini menggunakan bentuk yang menujukkan proses pengajaran yang
dilakukan secara bertahap dan berulang, sehingga manusia yang tadinya tidak
tahu menjadi tahu.[19]
وَاخْفِضْ لَهُمَا
جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ
صَغِيْرًاۗ
Kata
rabbayaanii berasal dari akar kata ر-ب-و (ra’-ba’-wawu) atau ر-ب-ب (ra’-ba’-ba’). kata
ini secara bahasa berarti al-ziyadah (bertambah) dan an-numuw
(tumbuh). Kata rabbaya merupakan bentuk kata kerja (fi'il) yang
mengandung makna mengasuh, memelihara, dan mengembangkan. Kata ini satu akar
dengan nama Allah, Ar-Rabb. Menurut para ulama, Rabb adalah Dia
yang menciptakan sesuatu kemudian mengaturnya dan menumbuhkannya tahap demi
tahap hingga mencapai kesempurnaan. Quraish Shihab juga menjelaskan di dalam
tafsir al-Mishbah bahwa beliau menggarisbawahi pemilihan kata rabbaya (yang
sealiran dengan pendidikan) menunjukkan bahwa orang tua melakukan proses
pendidikan yang berkelanjutan, mulai dari hal terkecil hingga anak tersebut
dapat mandiri.[20]
وَتَرَى الشَّمْسَ
اِذَا طَلَعَتْ تَّزٰوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِيْنِ وَاِذَا غَرَبَتْ
تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِيْ فَجْوَةٍ مِّنْهُۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ
اللّٰهِ ۗمَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ
لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًا ࣖ
Kata
mursyidan adalah bentuk isim fa’il (kata benda pelaku) yang
berasal dari kata kerja أَرْشَدَ (arsyada). Memiliki akar kata ر-ش-د (ra’-syin-dal) yang berarti benar,
lurus, atau matang secara mental. Mengikuti wazan af'ala - yuf'ilu – if’alan.
Maka, mursyid berarti orang yang menunjukkan jalan yang benar. Dalam
ayat ini, kata tersebut berfungsi sebagai objek yang dicari: falan tajida
lahu waliyyan mursyida (maka kamu tidak akan mendapatkan seorang penolong
pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya). Quraisy Shihab juga memberikan
penjelasan di dalam tafsir al-Mishbah bahwa mursyid adalah orang yang
mampu memberi petunjuk sehingga yang dipimpinnya mencapai kebenaran yang
hakiki.[21]
HADIS-HADIS
YANG BERKAITAN
Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
اَلْعُلَمَاءُ
وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا
وَلَا دِرْهَامًا، وَلَكِنْ وَرَّثُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ
وَافِرٍ
“Para ulama adalah
pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun
dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka dari itu, barang siapa mengambilnya, ia
telah mengambil bagian yang cukup.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu
Majah; dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no.
6297).[22]
Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
إِنَّهُ
لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، حَتَّى
الْحِيتَانِ فِي الْبَحْرِ
“Sesungguhnya makhluk
yang ada dilangit dan bumi akan memohonkan ampunan kepada orang-orang alim,
sampai-sampai (ikan-ikan kecil) di lautan turut memohonkan ampunan juga” (HR.
Ibnu Majah).[23]
ANALISIS
AYAT
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
“Dia mengajarkan manusia
apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. Al-Alaq ayat 5)[24]
وَاخْفِضْ لَهُمَا
جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ
صَغِيْرًاۗ
“Rendahkanlah dirimu
terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku,
sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik
aku pada waktu kecil.” (Q.S. Al-Isra' ayat 24)[25]
وَتَرَى الشَّمْسَ
اِذَا طَلَعَتْ تَّزٰوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِيْنِ وَاِذَا غَرَبَتْ
تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِيْ فَجْوَةٍ مِّنْهُۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ
اللّٰهِ ۗمَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ
لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًا ࣖ
“Engkau akan melihat
matahari yang ketika terbit condong ke sebelah kanan dari gua mereka dan yang
ketika terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedang mereka berada di tempat
yang luas di dalamnya (gua itu). Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)
Allah. Siapa yang Allah memberinya petunjuk, dialah yang mendapat petunjuk.
Siapa yang Dia sesatkan, engkau tidak akan menemukan seorang penolong pun yang
dapat memberinya petunjuk.” (Q.S. Al-Kahfi ayat 17)[26]
هُوَ
الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ
اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ
كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ
“Dialah yang mengutus
seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan)
mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa)
mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (sunah),
meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Jumu’ah
ayat 2)[27]
Keempat
ayat di atas tidak ada yang menyebutkan secara spesifik dari kata “guru”
tersendiri. Akan tetapi jika dianalisis secara teliti maka dapat memunculkan
benang merah yang menyambung kepada kata “guru”. Keempat ayat di atas terdapat
penjelasan mengenai tugas atau tanggungjawab seorang guru, yaitu mengajar,
mendidik, dan memberi petunjuk, menyucikan jiwa (akhlak). Oleh karena itu, guru
dapat dinisbatkan kepada orang yang mengajar, mendidik, dan memberi petunjuk,
menyucikan jiwa (akhlak).[28]
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا
الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
"Allah niscaya akan
mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
(Q.S. Al-Mujadalah ayat 11)[29]
شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ
وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِۗ
لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Allah menyatakan bahwa
tidak ada tuhan selain Dia, (Allah) yang menegakkan keadilan. (Demikian pula)
para malaikat dan orang berilmu. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Ali-Imran ayat 18)[30]
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ
كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ
عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ
“(Demikian pula) di
antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang
bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut
kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
(Q.S. Fatir ayat 28)[31]
Kemudian
ketiga ayat di atas merupakan penjelasan-penjelasan mengenai kemuliaan
seseorang yang dinisbatkan sebagai guru.
KESIMPULAN
Berdasarkan
beberapa penjelasan dan data di atas dapat disimpulkan bahwa guru merupakan
orang yang mengajar, mendidik, memberi petunjuk dan menyucikan jiwa. Guru
merupakan seorang yang mulia, bahkan kemuliaannya telah dijelaskan di dalam
al-Qur’an dan hadis. Akan tetapi guru masih tidak mendapatkan kesejahteraan di
bangsa Indonesia sendiri.
[1]Thaus Sugihilmi Arya
Putra, Pendidikan Kunci Utama Kemajuan Bangsa, https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/15010/Pendidikan-Kunci-Utama-Kemajuan Bangsa.html#:~:text=Sistem%20pendidikan%20yang%20baik%20akan,maka%20negara%20tersebut%20akan%20terbelakang,
diakses pada 26 April 2026.
[2] Ibid
[3] Nurdin
Muhammad, Kiat Menjadi Guru Profesional (Yogyakarta: Prismasopie, 2004),
h. 156
[4] Kanthi Malikhah, 30
Negara Dengan Gaji Guru Tertinggi, Ada Yang Tembus Rp 1,7 Miliar, https://www.cnbcindonesia.com/research/20260420122333-128-728162/30-negara-dengan-gaji-guru-tertinggi-ada-yang-tembus-rp-17-miliar,
diakses pada 26 April 2026.
[5] Erlina Fury Santika, 20,5%
Guru Honorer Diupah Kurang Dari Rp 500 Ribu Per Bulan, https://databoks.katadata.co.id/pendidikan/statistik/444179928bebd7f/205-guru-honorer-diupah-kurang-dari-rp500-ribu-per-bulan,
diakses pada 25 April 2026.
[6] Devi Harisah
Elmumtazah, "Guru Sebagai Agen Perubahan: Peran Guru Dalam Meningkatkan
Mutu Pendidikan", Journal of Innovation in Teaching and Instructional
Media, Vol. 5 No. 2, 2024, h. 653-658.
[7] Rozan Arkhan Daifullah,
dkk, "Peran Dasar-Dasar Kependidikan Dalam Pengembangan Karakter Dan
Kepribadian Siswa", Jurnal Sadewa: Publikasi Ilmu Pendidikan,
Pembelajaran dan Ilmu Sosial, Vol. 2 No. 4, 2024, h. 313-325.
[8] Kemenag, Qur'an
Kemenag, Qur’an Kemenag https://share.google/rB9qaSzOBsPgDvF6c, diakses
pada 25 April 2026.
[9] Ibid.
[10] Ahmad Abdurraziq Al
Bakri dkk, Tafsir Ath-Thabari Juz ‘Amma sesuai dengan manuskrip asli dan
revisi serta penyempurna atas naskah Syaikh Ahmad Muhammad Syakir & Syaikh
Mahmud Muhammad Syakir, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), h. 799-801.
[11] Kemenag, Qur'an
Kemenag, Qur’an Kemenag https://share.google/rB9qaSzOBsPgDvF6c, diakses
pada 25 April 2026.
[12] Ibid.
[13]Bahrun
Abu Bakar dkk, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir Juz 15, (Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 2000), h. 416-418.
[14] Kemenag, Qur'an
Kemenag, Qur’an Kemenag https://share.google/rB9qaSzOBsPgDvF6c, diakses
pada 25 April 2026.
[15] Qaraa, Kalam
Al-Qur’an, https://kalam.alquran.ai/asbabun-al-mujadilah/ayat-11, diakses pada tanggal
25 April 2026.
[16] Kemenag, Qur'an
Kemenag, Qur’an Kemenag https://share.google/rB9qaSzOBsPgDvF6c, diakses
pada 25 April 2026.
[17] Alwi Jamalulel Ubab, Tafsir
Ali-Imran Ayat 18: Kesaksian Allah, Malaikat, dan Orang Berilmu, https://nu.or.id/tafsir/tafsir-al-imran-ayat-18-kesaksian-allah-malaikat-dan-orang-berilmu-J9pSO, diakses pada tanggal
26 April 2026.
[18] Kemenag, Qur'an
Kemenag, Qur’an Kemenag https://share.google/rB9qaSzOBsPgDvF6c, diakses
pada 25 April 2026.
[19] M. Quraish Shihab, Tafsir
Al-Mishbah Juz ‘Amma, (Malang: Lentera Hati, 1991), h. 392-397.
[20] M. Quraish Shihab, Tafsir
Al-Mishbah Volume 7, (Malang: Lentera Hati, 1991), h. 446-450.
[21] M. Quraish Shihab, Tafsir
Al-Mishbah Volume 8, (Malang: Lentera Hati, 1991), h. 26-29.
[22] Sunnah.Com, Sunnah.Com,
https://sunnah.com/riyadussalihin:1388,diakses pada 26 April 2026.
[23] Sunnah.Com, Sunnah.Com,
https://sunnah.com,diakses pada 26 April 2026.
[24] Kemenag, Qur'an
Kemenag, Qur’an Kemenag https://share.google/rB9qaSzOBsPgDvF6c, diakses
pada 25 April 2026.
[25]Ibid.
[26]Ibid.
[27] Ibid.
[28] Ahmad Hadi
Wiyono, “Profesi Guru Dalam Perspektif Al-Qur’an”, Jurnal Samawat, Vol.
2 No. 1, 2018, h. 30-37.
[29] Kemenag, Qur'an
Kemenag, Qur’an Kemenag https://share.google/rB9qaSzOBsPgDvF6c, diakses
pada 25 April 2026.
[30] Ibid.
[31] Ibid.
Awdzi’ni Samhana
Sholihin (241111004)
M. Wildan Nasrulloh (241111030)
Wardana Irfa Al Bukhori (241111016)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar