EKSISTENSI DAN MARTABAT GURU DALAM AL-QUR’AN


Pendidikan merupakan pondasi yang harus dijaga eksistensinya untuk menopang sebuah peradaban. Sistem pendidikan yang baik akan mencetak sumber daya manusia yang unggul. Semakin tinggi kualitas pendidikan suatu bangsa maka negara tersebut semakin maju, begitu juga sebaliknya.[1]Negara-negara maju dibeberapa belahan dunia juga menjunjung tinggi pendidikan, seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Kanada.[2]  Negara tersebut dapat dikategorikan maju karena beberapa syarat. Guna memenuhi syarat tersebut suatu negara harus memiliki kualitas sumber daya manusia yang tinggi.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam dunia pendidikan ialah aspek guru. Guru adalah orang yang bertanggungjawab terhadap perkembangan anak didiknya dengan mengupayakan seluruh potensinya, baik potensi afektif, potensi kognitif, maupun potensi psikomotorik.[3] Guru di beberapa negara maju telah mendapatkan upah yang sangat layak. Seperti negara Luksemburg, gaji per bulan guru di negara tersebut dapat mencapai 133 hingga 250 juta rupiah.[4] Hal tersebut sangat berbanding balik dengan negara Indonesia. Guru honorer di negara Indonesia hingga saat ini belum mendapatkan upah yang layak dibeberapa daerah. Berdasarkan hasil survei oleh lembaga Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) dan Dompet Dhuafa pada Mei 2024 sebanyak 117 responden dari guru honorer atau kontrak di 25 provinsi ditemukan bahwa sebanyak 74,3% responden guru honorer atau kontrak memiliki penghasilan di bawah 2 juta per bulan.[5] Data ini menunjukkan bahwa pendapatan guru honorer atau kontrak di Indonesia masih di bawah UMR seluruh daerah di Indonesia. Hal ini menegaskan bahwa pemerintah Indonesia belum memprioritaskan aspek pendidikan sebagai pondasi kemajuan peradaban di Indonesia.

Guru merupakan aspek krusial dalam proses pendidikan. Guru memiliki peran yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Bukan hanya sebagai pengajar, melainkan juga sebagai fasilitator, motivator, dan agen perubahan.[6] Selain itu, di dalam undang-undang No. 14 Tahun 2005 & Perpres No. 87 Tahun 2017 dijelaskan bahwa guru memiliki tugas membentuk moral, akhlak, rasa religiositas, nasionalisme, serta integritas.[7] Lantas bagaimana mungkin seorang guru yang memiliki beban moral sedemikian besar, namun hanya mendapatkan secuil imbalan atas kontribusi mereka dalam mencerdaskan peradaban bangsa Indonesia.

Al-Qur'an juga telah menjelaskan mengenai beberapa kemuliaan-kemuliaan guru. Seperti di dalam surat al-Mujadalah ayat 11

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

"Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan."[8]

Ayat tersebut menerangkan secara jelas bahwa orang-orang yang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah.

Beberapa penjelasan di atas dapat menarik perhatian tersendiri di antaranya bagaimana konsep dan kedudukan guru dalam al-Qur'an?


Asbabun Nuzul

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. Al-Alaq ayat 5)[9]

Wahyu yang pertama kali dialami oleh Rasulullah adalah ar-ru'yah ash-shadiqah "mimpi yang benar" dalam tidur. Setelah mengalami hal tersebut Rasulullah mulai suka menyendiri di gua Hira. Hingga pada akhirnya, pada suatu hari datanglah malaikat kepadanya seraya berkata "hai Muhammad, engkau utusan Allah". Rasulullah langsung luluh berlutut kemudian pulang meminta Khadijah untuk menyelimutinya. Kemudian malaikat datang lagi dan berkata " hai Muhammad, engkau utusan Allah". Kemudian malaikat berkata ٱقرأ bacalah" lalu Rasulullah menjawab, "aku tidak bisa membaca". Malaikat kemudian merengkuh Rasulullah tiga kali hingga Rasulullah kehabisan tenaga, lalu Rasulullah membaca al-alaq ayat 1-5.[10]

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

“Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.” (Q.S. Al-Isra' ayat 24)[11]

وَتَرَى الشَّمْسَ اِذَا طَلَعَتْ تَّزٰوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِيْنِ وَاِذَا غَرَبَتْ تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِيْ فَجْوَةٍ مِّنْهُۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ ۗمَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًا

“Engkau akan melihat matahari yang ketika terbit condong ke sebelah kanan dari gua mereka dan yang ketika terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedang mereka berada di tempat yang luas di dalamnya (gua itu). Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Siapa yang Allah memberinya petunjuk, dialah yang mendapat petunjuk. Siapa yang Dia sesatkan, engkau tidak akan menemukan seorang penolong pun yang dapat memberinya petunjuk. (Q.S. Al-Kahfi ayat 17)[12]

Ayat ini merupakan rangkain penjelasan mengenai kisah Ashabul Kahfi ayat 9-26. Terdapat tokoh Quraisy (Nadhar bin Harits dan Uqbah bin Abi Mu'it) bertanya kepada pendeta Yahudi di Madinah, bagaimana cara menguji kebenaran Nabi Muhammad. Pendeta Yahudi menyarankan untuk menanyakan tiga hal. Kisah Ashabul Kahfi, kisah Zulkarnain, hakikat ruh. Rasulullah menjawab pertanyaan tersebut setelah wahyu turun, yaitu surat al-kahfi.[13]

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

"Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Al-Mujadalah ayat 11)[14]

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Muqatil bahwa tersebut turun pada hari jum’at ketika sekelompok pengikut perang Badar tiba, sedangkan tempat sempit. Sementara itu, orang-orang yang duduk di sana tidak memberi kelapangan kepada mereka sehingga mereka berdiri saja. Lantas Rasulullah menyuruh berdiri kepada beberapa orang sesuai dengan jumlah pengikut Badar lalu beliau menyuruh mereka untuk duduk di tempatnya. Tentu saja orang-orang yang disuruh berdiri itu merasa tidak suka sehingga turunlah ayat tersebut.[15]

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِۗ  لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, (Allah) yang menegakkan keadilan. (Demikian pula) para malaikat dan orang berilmu. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Ali-Imran ayat 18)[16]

Ayat ini merupakan tanggapan dari dua orang pendeta dari Syam yang datang menemui Rasulullah setelah beliau hijrah ke Madinah. Mereka bertanya kepada Rasulullah mengenai persaksian yang paling agung di dalam kitab Allah. Kemudian Allah menjawab dengan menurunkan ayat ini.[17]

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

“(Demikian pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S. Fatir ayat 28)[18]

ANALISIS KEBAHASAAN

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

Kata عَلَّمَ (allama) berasal dari akar kata ع-ل-م (‘ain-lam-mim) yang berarti tahu atau ilmu. Dalam bahasa Arab, kata عَلَّمَ mengikuti pola wazan فَعَّلَ (fa’ ’ala) dengan adanya tasydid pada huruf lam. Penambahan tasydid pada wazan ini berfungsi untuk mengubah kata kerja yang semula hanya mengenai diri sendiri (lazim) menjadi kata kerja yang membutuhkan objek (muta’addi). Jika ‘alima berarti ia tahu, maka ‘allama berarti dia membuat orang lain tahu atau dia mengajar. Tentu kalimat ini akan sempurna jika terdapat objek untuk menjadi sasaran dari kata kerja ini. Kemudian Quraish Shihab di dalam tafsir al-Misbah juga menjelaskan bahwa kata allama dalam ayat ini menggunakan bentuk yang menujukkan proses pengajaran yang dilakukan secara bertahap dan berulang, sehingga manusia yang tadinya tidak tahu menjadi tahu.[19]

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

Kata rabbayaanii berasal dari akar kata ر-ب-و (ra’-ba’-wawu) atau ر-ب-ب (ra’-ba’-ba’). kata ini secara bahasa berarti al-ziyadah (bertambah) dan an-numuw (tumbuh). Kata rabbaya merupakan bentuk kata kerja (fi'il) yang mengandung makna mengasuh, memelihara, dan mengembangkan. Kata ini satu akar dengan nama Allah, Ar-Rabb. Menurut para ulama, Rabb adalah Dia yang menciptakan sesuatu kemudian mengaturnya dan menumbuhkannya tahap demi tahap hingga mencapai kesempurnaan. Quraish Shihab juga menjelaskan di dalam tafsir al-Mishbah bahwa beliau menggarisbawahi pemilihan kata rabbaya (yang sealiran dengan pendidikan) menunjukkan bahwa orang tua melakukan proses pendidikan yang berkelanjutan, mulai dari hal terkecil hingga anak tersebut dapat mandiri.[20]

وَتَرَى الشَّمْسَ اِذَا طَلَعَتْ تَّزٰوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِيْنِ وَاِذَا غَرَبَتْ تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِيْ فَجْوَةٍ مِّنْهُۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ ۗمَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًا

Kata mursyidan adalah bentuk isim fa’il (kata benda pelaku) yang berasal dari kata kerja أَرْشَدَ (arsyada). Memiliki akar kata ر-ش-د (ra’-syin-dal) yang berarti benar, lurus, atau matang secara mental. Mengikuti wazan af'ala - yuf'ilu – if’alan. Maka, mursyid berarti orang yang menunjukkan jalan yang benar. Dalam ayat ini, kata tersebut berfungsi sebagai objek yang dicari: falan tajida lahu waliyyan mursyida (maka kamu tidak akan mendapatkan seorang penolong pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya). Quraisy Shihab juga memberikan penjelasan di dalam tafsir al-Mishbah bahwa mursyid adalah orang yang mampu memberi petunjuk sehingga yang dipimpinnya mencapai kebenaran yang hakiki.[21]

HADIS-HADIS YANG BERKAITAN

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَامًا، وَلَكِنْ وَرَّثُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

 

“Para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka dari itu, barang siapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang cukup.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah; dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6297).[22]

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

إِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، حَتَّى الْحِيتَانِ فِي الْبَحْرِ

 

“Sesungguhnya makhluk yang ada dilangit dan bumi akan memohonkan ampunan kepada orang-orang alim, sampai-sampai (ikan-ikan kecil) di lautan turut memohonkan ampunan juga” (HR. Ibnu Majah).[23]

 

ANALISIS AYAT

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. Al-Alaq ayat 5)[24]

 

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

“Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.” (Q.S. Al-Isra' ayat 24)[25]

 

وَتَرَى الشَّمْسَ اِذَا طَلَعَتْ تَّزٰوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِيْنِ وَاِذَا غَرَبَتْ تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِيْ فَجْوَةٍ مِّنْهُۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ ۗمَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًا

“Engkau akan melihat matahari yang ketika terbit condong ke sebelah kanan dari gua mereka dan yang ketika terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedang mereka berada di tempat yang luas di dalamnya (gua itu). Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Siapa yang Allah memberinya petunjuk, dialah yang mendapat petunjuk. Siapa yang Dia sesatkan, engkau tidak akan menemukan seorang penolong pun yang dapat memberinya petunjuk.” (Q.S. Al-Kahfi ayat 17)[26]

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ

 

“Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Jumu’ah ayat 2)[27]

Keempat ayat di atas tidak ada yang menyebutkan secara spesifik dari kata “guru” tersendiri. Akan tetapi jika dianalisis secara teliti maka dapat memunculkan benang merah yang menyambung kepada kata “guru”. Keempat ayat di atas terdapat penjelasan mengenai tugas atau tanggungjawab seorang guru, yaitu mengajar, mendidik, dan memberi petunjuk, menyucikan jiwa (akhlak). Oleh karena itu, guru dapat dinisbatkan kepada orang yang mengajar, mendidik, dan memberi petunjuk, menyucikan jiwa (akhlak).[28]

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

"Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Al-Mujadalah ayat 11)[29]

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِۗ  لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, (Allah) yang menegakkan keadilan. (Demikian pula) para malaikat dan orang berilmu. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Ali-Imran ayat 18)[30]

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

(Demikian pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S. Fatir ayat 28)[31]

Kemudian ketiga ayat di atas merupakan penjelasan-penjelasan mengenai kemuliaan seseorang yang dinisbatkan sebagai guru.

KESIMPULAN

Berdasarkan beberapa penjelasan dan data di atas dapat disimpulkan bahwa guru merupakan orang yang mengajar, mendidik, memberi petunjuk dan menyucikan jiwa. Guru merupakan seorang yang mulia, bahkan kemuliaannya telah dijelaskan di dalam al-Qur’an dan hadis. Akan tetapi guru masih tidak mendapatkan kesejahteraan di bangsa Indonesia sendiri.



[1]Thaus Sugihilmi Arya Putra, Pendidikan Kunci Utama Kemajuan Bangsa, https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/15010/Pendidikan-Kunci-Utama-Kemajuan Bangsa.html#:~:text=Sistem%20pendidikan%20yang%20baik%20akan,maka%20negara%20tersebut%20akan%20terbelakang, diakses pada 26 April 2026.

[2] Ibid

[3] Nurdin Muhammad, Kiat Menjadi Guru Profesional (Yogyakarta: Prismasopie, 2004), h. 156

[4] Kanthi Malikhah, 30 Negara Dengan Gaji Guru Tertinggi, Ada Yang Tembus Rp 1,7 Miliar, https://www.cnbcindonesia.com/research/20260420122333-128-728162/30-negara-dengan-gaji-guru-tertinggi-ada-yang-tembus-rp-17-miliar, diakses pada 26 April 2026.

[5] Erlina Fury Santika, 20,5% Guru Honorer Diupah Kurang Dari Rp 500 Ribu Per Bulan, https://databoks.katadata.co.id/pendidikan/statistik/444179928bebd7f/205-guru-honorer-diupah-kurang-dari-rp500-ribu-per-bulan, diakses pada 25 April 2026.

[6] Devi Harisah Elmumtazah, "Guru Sebagai Agen Perubahan: Peran Guru Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan", Journal of Innovation in Teaching and Instructional Media, Vol. 5 No. 2, 2024, h. 653-658.

[7] Rozan Arkhan Daifullah, dkk, "Peran Dasar-Dasar Kependidikan Dalam Pengembangan Karakter Dan Kepribadian Siswa", Jurnal Sadewa: Publikasi Ilmu Pendidikan, Pembelajaran dan Ilmu Sosial, Vol. 2 No. 4, 2024, h. 313-325.

[8] Kemenag, Qur'an Kemenag, Qur’an Kemenag https://share.google/rB9qaSzOBsPgDvF6c, diakses pada 25 April 2026.

[9] Ibid.

[10] Ahmad Abdurraziq Al Bakri dkk, Tafsir Ath-Thabari Juz ‘Amma sesuai dengan manuskrip asli dan revisi serta penyempurna atas naskah Syaikh Ahmad Muhammad Syakir & Syaikh Mahmud Muhammad Syakir, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), h. 799-801.

[11] Kemenag, Qur'an Kemenag, Qur’an Kemenag https://share.google/rB9qaSzOBsPgDvF6c, diakses pada 25 April 2026.

[12] Ibid.

[13]Bahrun Abu Bakar dkk, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir Juz 15, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000), h. 416-418.

[14] Kemenag, Qur'an Kemenag, Qur’an Kemenag https://share.google/rB9qaSzOBsPgDvF6c, diakses pada 25 April 2026.

[15] Qaraa, Kalam Al-Qur’an, https://kalam.alquran.ai/asbabun-al-mujadilah/ayat-11, diakses pada tanggal 25 April 2026.

[16] Kemenag, Qur'an Kemenag, Qur’an Kemenag https://share.google/rB9qaSzOBsPgDvF6c, diakses pada 25 April 2026.

[17] Alwi Jamalulel Ubab, Tafsir Ali-Imran Ayat 18: Kesaksian Allah, Malaikat, dan Orang Berilmu, https://nu.or.id/tafsir/tafsir-al-imran-ayat-18-kesaksian-allah-malaikat-dan-orang-berilmu-J9pSO, diakses pada tanggal 26 April 2026.

[18] Kemenag, Qur'an Kemenag, Qur’an Kemenag https://share.google/rB9qaSzOBsPgDvF6c, diakses pada 25 April 2026.

[19] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Juz ‘Amma, (Malang: Lentera Hati, 1991), h. 392-397.

[20] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Volume 7, (Malang: Lentera Hati, 1991), h. 446-450.

[21] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Volume 8, (Malang: Lentera Hati, 1991), h. 26-29.

[22] Sunnah.Com, Sunnah.Com, https://sunnah.com/riyadussalihin:1388,diakses pada 26 April 2026.

[23] Sunnah.Com, Sunnah.Com, https://sunnah.com,diakses pada 26 April 2026.

[24] Kemenag, Qur'an Kemenag, Qur’an Kemenag https://share.google/rB9qaSzOBsPgDvF6c, diakses pada 25 April 2026.

[25]Ibid.

 

[26]Ibid.

[27] Ibid.

[28] Ahmad Hadi Wiyono, “Profesi Guru Dalam Perspektif Al-Qur’an”, Jurnal Samawat, Vol. 2 No. 1, 2018, h. 30-37.

[29] Kemenag, Qur'an Kemenag, Qur’an Kemenag https://share.google/rB9qaSzOBsPgDvF6c, diakses pada 25 April 2026.

[30] Ibid.

[31] Ibid.

 


Penulis:

Awdzi’ni Samhana Sholihin   (241111004)

M. Wildan Nasrulloh               (241111030)

Wardana Irfa Al Bukhori        (241111016)



Dosen Pembimbing
Dr. KH. Moh. Abdul Kholiq Hasan Lc.MA.M.Ed

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tafsir Surat An-Nisa' (4): Ayat 31-32

Tafsir Surat An-Nisa' (4): Ayat 43

Tafsir Surat An-Nisa' (4): Ayat 20-21