BERKATA JUJUR UPAYA MEMBANGUN KEHARMONISAN SOSIAL DALAM PERSPEKTIF QS. AL-AHZAB:70-71
Berbicara antar manusia harus memiliki etika dan nilai
kejujuran. Hal ini menjadi persoalan yang sangat penting pada kehidupan
masyarakat modern. Zaman modern seperti saat ini begitu pesatnya dengan
perkembangan media sosial dan komunikasi digital. Banyak ditemukan fenomena penyebaran berita palsu (hoaks), tuduhan
yang tidak benar, serta kata-kata yang menyakiti orang lain tanpa memikirkan
akibatnya. Tidak sedikit orang yang berbicara atau menulis sesuatu tanpa
memikirkan kebenarannya serta dampak ucapan yang mereka bicarakan. Berarti
dengan kondisi seperti ini, menunjukan bahwa etika berbicara yang diajarkan
oleh islam semakin berkurang. Tanpa kita sadari, lisan dan ucapan kita sangat
berpengaruh terhadap hubungan antar sesama manusia, serta mengukur kualitas
diri kita dihadapan Allah Swt.
Berbagai ayat didalam Al-Qur’an menerangkan bahwa kita
sebagai umat islam harus mengambil ucapan yang bijak dalam berbicara agar tidak
terdapat kesalahan kata saat berucap dan bahkan dapat menyakiti hati orang
lain. Allah Swt, selalu memerintahkan kepada kita umat islam agar senantiasa
mengucapkan perkataan yang hasan perkataan yang baik dan jujur, sebab Allah membenci dan murka terhadap
perilaku tercela seperti dusta dan lebih lagi jika perbuatan itu di gunakan untuk
mendustakan Allah dan nikmat yang telah Allah beri kepada kita. Oleh sebab itu,
hendaknya setiap apa yang kita perbuat dan kita ucapkan hendaknya menggunakan
akhlak mulia dan perkataan mulia yang berisi kejujuran, kebenaran, kebaikan dan
tidak melanggar ajaran islam dan larangan-Nya.
Perintah untuk berkata benar ini
dijelaskan dalam QS. Al-Ahzab ayat 70–71 yang berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا
قَوْلًا سَدِيْدًاۙ ٧٠يُّصْلِحْ
لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ
وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا ٧١
Artinya: “Wahai
orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah
perkataan yang benar (dan tepat). Niscaya Allah memperbaiki bagimu
amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan Barangsiapa mentaati
Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang
besar.”
Ayat
diatas menegaskan sebuah kejujuran didalam berbicara bukan hanya menjadi
pengaruh dalam hubungan antar individu manusia namun juga menjadi nilai pada
kualiatas seseorang di hadapan Allah Swt. Mengucapkan perkataan jujur
menjadikan hidup seseorang dalam kebaikan dan keharmonisan, terhindar dari
kesalahan menjadikan hati damai tentram dan terhindar dari larangan-Nya
Allah
menganugerahkan kepada kita hambanya yaitu sebuah panca indera yang berupa
lisan untuk berbicara, kita sebagai hamba yang taat hendaknya menjaga lisan
tersebut menjaga terhadap perkataan yang buruk. Dalam islam juga di tegaskan
hendaknya seorang muslim selalu menjaga perkataan dan perbuatan. Dalam Qs.
Al-Ahzab di atas sangat jelas di sebutkan bahwa kewajiban menjaga tutur kata,
hendaknya menjadi insan yang bertaqwa mengucapkan perkataan mulia, jujur, dan
jauh dari dusta.[1]
Lebih
lanjut, ujung dari QS. Al-Ahzab ayat 71 yang berbunyi: “Dan Barangsiapa
mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan
yang besar”. Dalam penjelasan ayat
ini mengajarkan kita untuk selalu memikirkan terlebih dahulu segala sesuatu
yang akan kita perbuat sebelum kita bertindak untuk menjalankan sesuatu
tersebut, terlebih lagi fokus terhadap etika berbicara .terutama masalah etika
berbicara. Sebab dengan memilih perkataan dan menggunakan perkataan yang jujur
akan mempengaruhi perbuatan yang akan terjadi selanjutnya.[2]
Munasabah QS. al-Ahzab ayat 70-71
Keterkaitan qs. al-Ahzab ayat 70-71 dalam kajian munasabah
begitu erat dengan ayat sebelumnya ataupun makna yang terkandung dalam kedua ayat tersebut. Yang
pertama, diayat 69 terkandung bahwa Allah telah melarang orang-orang beriman
untuk menyakiti Rasulullah, seperti yang pernah dilakukan oleh kaum Musa
terhadap Nabi Musa as., ada beberapa pandangan mengenai tuduhan dan ucapan yang
tidak terdapat kebenarannya terhadap Nabi Musa. Dalam riwayat muslim yang
disampaikan oleh Abu Hurairah, dikatakan bahwa ada orang yang menuduh beliau
tidak mempunai alat kelamin, serta ada yang menuduh bahwa beliau mempunyai
ppenyakit kulit. Saking banyaknya tuduhan terhadap Nabi Muhammad yang terjadi
berkali-kali, Ibn ‘Asyur menekankan tuduhan yang dituduhkan kebapa Nabi Muhammad
tidak seberat dibandingkan tuduhan kaum Nabi Musa terhadap Nabi Musa.
Salah satu cara untuk melindungi diri dari kesalahan
berbicara yang menimbulkan kerusakan hubungan sosial saat berinterksi, kita
harus menghidari mengucapkan kebohongan atau tuduhan yang tidak benar, dan
menyaring kembali kata-kata yang ingin diucapkan. Pada ayat 70, Allah telah menyuruh kepada
orang-orang beriman supaya menjaga ketakwaan kepada-Nya, Allah Swt juga
mengingatkan kepada orang-orang beriman supaya berkata jujur atau benar, sebagaimana sesuai dengan apa yang mereka
niatkan dan ucapkan. Karena kata-kata ang mereka ucpkan akan dicatat oleh
malaikat Raqib dan Atid. مَا
يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيد “Tidak terdapat satu kata saja yang terucap, kecuali ada sisi malaikat pengawas yang
selalu siap (mencatat)”.[3]Kemudian
Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang beriman dalam perkataan atau
perbuuatan yang seperti merekamembimbing orang-orang beriman dalam perkataan
atau tindakan yang seperti mereka lakukan. Allah berfirman q.s al-Ahzab ayat
70-71, yang artinya Wahai semua yang beriman, takutlah kaliah kepada Allah
Swt. dan jangan sampai kalian berbuat dosa kepada-Nya dan sampaikanlah kepada
Rasulullah dan orang-orang beriman dengan perkataan yang baik, jujur, tidak
kasar, serta perkataan yag hoax. Dengan penuh keyakinan kalian akan diberi
petunjuk olehh Allah, sehingga kamu bisa melakukan amal-amal yang baik, dan
Allah Swt. akan mengampuni dosa-dosamu.[4]
Sesungguhnya
Allah telah mengingatkan dua hal kepada orang beriman, yaitu berbicara dengan
jujur dan melakukan perbuatan yang baik. Ayat ini juga menekankan betapa pentingnya akhlak dalam berbicara yang berperan besar dalam menciptakan
keharmonisan sosial. Sebagaimana kita tahu bahwa, berbicara dengan benar atau
kejujuran menjadi dasar utama dalam hubungan anatara manusia.
Analisis
Kebahasaan
Aspek kebahasaan yang terdapat pada surah al-Ahzab
ayat 70-71 secara umum bahasanya sangat jelas dan lugas. Serta menggunakan gaya
bahsa pnggilan, perintah, penegasan, dan motivasi yang terkandung dalam ayat
tersebut supaya perintah dilaksanakan tanpa adanya tekanan.
Tabel 1. Analisis Kebahsaan Q.S. Al-Ahzab ayat 70-71.
|
No
Ayat |
Kaidah
Kebahasaan |
Lafadz |
|
Pemakaian
kata panggilan (nida’) yang ditujukan kepada orang-orang beriman berfungsi
dengan langsung dan kuat. Karena sebagai bentuk perhatian serta penegasan pentingnya
sebuah pesan. Hal ini menegaskan bahwa perintah ini di samapaikan untuk
seluruh umat islam. |
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا |
|
|
70 |
terdapat kata perintah (amr) untuk
bertakwa, yang berarti melindungi diri dari dosa serta mengikuti dan
melasanakan perintah-Nya. |
اتَّقُوا اللَّهَ |
|
70 |
Kata tersebut juga termasuk
perintah (amr) untuk berbicara atau berkata. |
وَقُولُوا |
|
70 |
قَوْلًا سَدِيدًا terdiri dari
dua kata yaitu, qoul yang berarti perkataan atau pernyataan, dan sadid
yang meemiliki makna tepat atau benar. Selain itu, Qoulan Sadidan merupakan
ungkapan majazi yang berarti perkataan yang benar, tepat, jujur, serta tidak
menyakiti. Dan kata Qoulan Sadid ditujukan kepda orang-orang yang
meliki keimanan, agar selalu mengatakan suatu kebenaran atau perkataan yang
tepat dalam situasi dan kondisi apapun.[5] |
قَوْلًا سَدِيدًا |
|
71 |
Allah Swt. sudah berjaniji dalam ayat ini, akan memberikan
ganjaran kepada orang yang selalu berkata jujur atau benar, dengan meperbaiki
perbuatan yang mereka lakukan serta mengampuni mereka yang telah berbuat
dosa.[6]
Sehingga
kedudukan mereka dan diangka derajatnya sudah cukup bagi mereka. |
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ |
|
71 |
Kalimat ini diawali dengan kata “وَ” berfungsi sebagai penghubung
dengan pembahasan sebelumnya. Kemudian kata “مَنْ ” yang berarti ayat ini ditujukan oleh siapa
saja tanpa terkecuali. Sehingga secara keseluruhan ayat ini mengandung maksud
dalam kalimat tersebut adalah, melaksanakan segala yang diperintahkan dan
menjauhi segala yang dilarang.[7]
Struktur bahasa yang digunakan juga menunjukan sifat umum dan pasti, tidak
dibatasi kepada orang tertentu saja. |
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَ |
|
71 |
Awal kalimat ini, “فَ” yang menunjukan hubungan akibat
atau hasil dari pertanyaan sebelumnya, sehingga maknanya adalah “maka”. Fauzan
‘aziman terdiri dari dua kata yang berarti kemenangan, kebahagiaan,
kesuksesan, ataupun yang lainnya. Dan ‘azim yang berarti besar atau
agung. Dalam konteks ayat di atas, kalimat fauz ‘azim yang berarti
kemenangan yang besar atau agung yang ditujukan oleh orang-orang yang secara
tulus taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan mereka meraih kemenangan besar
atau sejati, maka mereka mendapatkan balasan kemenangan di dunia dan akhirat.[8] |
فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا |
Analisis kebahasaan mengenai kejujuran pada pilihan
kata yang mencerminkan pesan moral untuk membangun keharmonisan sosial. Secara
kebahasaan ini pesan moran tentang kejujuran sangat kuat dalam mencerminkannya.
Terdapat kalimat:
يٰۤاَیُّهَا الَّذِیْنَ
اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِیْدًا
Makna dari kata سَدِیْدًا adalah yang tepat atau sebenarnya. Sedangkan Ibnu Abbas
menafsirkan bahwa makna ayat ini adalah yang benar. Struktur bahasa ayat ini menunjukan
perintah yang tegas, berurutan, dan saling berkaitan antara iman, ketakwaan dan
akhlak jujur dalam berbicara.
يُصْلِحْ لَكُمْ
اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ
Pada
frasa ini, secara tegas menyampiakan mengenai janji Allah yang pasti dan
menyeluruh karena benruk konsenkuensi dari kejujuran dan ketaatan suatu ucapan.
وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
Dan ini mengeskan bahwa ketaatan yang paling sempurna itu dapat membawa
keberhasilan sejati, kedalam uruusan dunia maupun akhirat.
ANALISIS
SURAT AL-AHZAB AYAT 70-71
يٰۤاَیُّهَا الَّذِیْنَ
اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِیْدًا ۙ يُصْلِحْ لَكُمْ
اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ
وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
Artinya:
“Wahai
orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah
perkataan yang benar [dan tepat], niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu
dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka
sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung"
Analisis Isi Ayat
1. Perintah Bertakwa kepada Allah
Ayat 70 diawali dengan perintah terhadap orang yang beriman (yā ayyuha allażīna āmanū) untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Swt. Menurut Tafsir Al-Azhar (Hamka), mengumpulkan sebuah iman hendaknya memiliki dasar yaitu kesadaran sebagai hamba dan dengan bertakwa kepada Allah. Yaitu dengan menjaga hubungan baik antara hamba dan tuhan-Nya, sebagai seorang muslim ketakwaan bukan hanya sebuah ritual namun hubungan ini menyeluruh mencakup perilaku sikap didalam hidup seseorang terhadap tuhan-Nya. Menjadikan tutur kata yang baik bisa membuat kualitas seseorang baik dan menjaga dari larangan Allah Swt, Tafsir Al-Misbah (Quraish Shihab) memperjelas bahwa bertakwa merupakan perilaku atau perbuatan yang menghindari diri seorang hamba dari siksa Allah, bagaimana agar seseorang selalu bertakwa kepada tuhan-Nya? Yaitu dengan selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
2. Makna Qaulan Sadidan (Perkataan yang Tepat)
Ayat ini terdapat perintah utama
yaitu mengucapkan qaulan sadidan. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan
sebuah kata yang didalamnya terdapat kebenaran, sesuai dengan ucapan yang
tersimpan dalam hati dan tidak berbelit-belit
Quraish Shihab dalam Tafsir
Al-Misbah menjelaskan sebuah analisis linguistik yang mendalam. Sadidan disini
berasal dari huruf sin dan juga dal, yang menurut ibn faris mempunyai sebuah
makna merobohkan sesuatu dan kemudian mendirikannya,dapat dipahami bahwa kata
qaulan sadidan bukan hanya sekedar kata yang berarti ‘benar’ Dengan demikian,
qaulan sadidan tidak sekadar berarti "benar", tapi juga sesuai
konteks yang memberikan pendidikan yang baik, mendidik dan juga benar. [9]
3. Dampak Perkataan yang Tepat: Perbaikan Amal dan
Pengampunan Dosa
Ayat
71 terdapat dua janji Allah bagi siapa saja yang mengamalkan qaulan sadidan:
1. Allah akan memperbaiki amalan-amalan mereka (yushlih lakum a'mālakum),
2. Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka.
Tafsir Al-Azhar menerangkan ucapan
yang benar menjadi dasar baik nya perbuatan seseorang tersebut, dan begitu pula
sebaliknya. Quraish Shihab menjelaskan bahwa jika seseorang terbiasa
mengucapkan kalimat yang baik akan menjauhkan dari sebuah dusta, hingga akan
menjadikan pribadi yang shaleh dan selalu dalam lindungan Allah[10]
4. Ketaatan kepada Allah dan Rasul sebagai Kemenangan Besar
Akhir ayat 71 menerangkan jika
siapapun yang menaati Rasul-Nya akan meraih fauzan adziman (kemenangan yang
besar), yaitu ampunan dan surga. Dalam tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa jika
seorang hamba berlaku taat juga harus mencakup perintah dari Allah, menjauhi
larangan-Nya, selalu berbuat dalam kebaikan, dan senantiasa menjauhi keburukan.
Dalam tafsir Al-Azhar karya hamka beliau selalu menegaskan bahwa perintah taat
ini bersifat umum dimana seharusnya seorang muslim menjalankan agar tidak ada
yang saling menyakiti, baik kepada Allah, rasul, dan sesama hamba yang lain.
Tujuan dan Relevansi
kejujuran dalam Upaya Membangun Keharmonisan Sosial
Salah
satu nilai kebaikan yang telah diajarkan agama islam yaitu kejujuran, dengan
tujuan utamnya adalah membentuk kehidupan masyarakat yang damai dan selaras.
Kejujuran bukan hanya sesuai apa yang ia katakan dan itu benar, tetapi juga
menunjukan kejujuran dari hati, niat, dan Tindakan seseorang. Tujuan utamanya
dari sikap jujur adalah membangun rasa percaya antar orang. Apabila seseorang
bersikap jujur, ia memperkuat kepercayaan dan timbul rasa nyaman dalam
berinteraksi dengan orang lain, sehingga hubungan antar manusia itu dapat
berjalan dengan terbuka tanpa adanya keraguan, dan dari situ muncul
keharmonisan dalam berkomunikasi Bersama.
Karena sekalinya kita berbohong atau tidak berkata dengan jujur, maka
akan susah dipercaya lagi oleh orang.
Selain
itu, kejujuran memiliki tujuan supaya keadilan itu tetap terjaga di tengah
masyarakat. Sehingga, ketika memberikan
informasi harus disampaikan dengan jujur dan tidak memanipulasi, untuk mencegah
terjadinya kesalahpahaman , fitnah, dan konflik sosial. Dalam konteks ini,
kejujuran merupakan yang paling dasar dalam mempertahankan nilai-nilai moral.
Tanpa adanya rasa jujur, hubungan sosial bisa cepat berantakan karena dilandasi
dengan keboohongan yang akibatnya timbul rasa yang tidak percaya dan perpecahan
dalam masyarakat.[11]
Kejujuran diciptakan untuk
memnculkan keharmonisan sosial, hal tersebut termasuk dalam konteks akhlak. Sehingga
ada hadist yang memberikan dasar paling kuat, didalamnya menjelaskan bahwa
kejujuran dalam berbicara menunjukan hati yang bersih, dan niat yang tulus.
Rasulullah Saw. telah bersabda dalam
kitab hadist karya Imam Muslim, hadist tersebut berbunyi:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اقْتَرَبَ
الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ تَكْذِبُ وَأَصْدَقُهُمْ رُؤْيَا
أَصْدَقُهُمْ حَدِيثًا
Artinya: Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Apabila zaman telah mendekati (hari Kiamat), nyaris mimpi seorang mukmin tidak (disertai) dengan
kebohongan, maka orang yang paling benar mimpinya
adalah orang yang paling jujur pembicaraannya."
Hadist yang tertera diatas merupakan sifat dasar yang tidak hanya memperbaiki hunbungan manusia dengan Allah, tetpi juga menjadi cara penting terciptanya ketenangan dan keharmonisan dalam masyarakat. Oleh karena itu, dengan kejujuran timbul rasa percaya, ketenangan dan sikap terbuka, kehidupan sosial dengan kedamaian sebagai hal penting yang terkandung didalamna.
KESIMPULAN
Berdasarkan QS. Al-Ahzab ayat
70-71, kejujuran merupakan salah satu akhlak yang sangat penting dalam
kehidupan seorang muslim. Kejujuran tidak hanya menunjukkan ketakwaan kepada
Allah, tetapi juga berperan dalam membangun hubungan yang baik dengan sesame.
Dengan berkata jujur, seseorang dapat memperoleh kepercayaan, menjaga
keharmonisa, serta menghindari berbagai konflik yang dapat merusak hubungan
sosial.
Selain itu, kejujuran mencerminkan keselarasan antara hati,
ucapan, dan perbuatan. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya membiasakan
diri untuk selalu berkata benar dan bersikap jujur dalam setiap keadaan. Dengan
menerapkan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tidak hanya
mendapatkan kebaikan dalam hubungan sosial, tetapi juga memperoleh Ridha,
ampunan, dan keberkahan dari Allah SWT.
[1] Siti Mariam Ulfa et al., “Nilai-Nilai Pendidikan Dari
QS . Al-Ahzab Ayat 70-71 Tentang Etika Terhadap Pembentukan Akhlak,” n.d.,
39–44.
[2] Yunia Mar’atus Solichah, “Etika Berbicara Dalam
Al-Qur’an Surah Al-Ahzab Ayat 70-71 Dalam Tafsir Al-Azhar Karya Buya Hamka Dan
Relevansinya Dengan Pembentukan Akhalakul Karimah,” 2018.
[3] Lajnah Kementrian Agama Islam, Al-Qur’an Dan Tafsirnya (Jakarta: Lembaga Percetakan Agama Islam,
2010).
[4] Al Maraghi Ahmad Mustafa, Tafsir Al-Maraghi, Cetakan ke (Semarang: PT. Karya Toha Putra
Semarang, 1992).
[5] Islam, Al-Qur’an
Dan Tafsirnya.
[6] Syaikh Imam Al Qurtubi, Al Jami’ Li Ahkaam Al Qur’an, Cetakan Ke (Jakarta Selatan: Pustaka
Azzam, 2015).
[7] Mustafa, Tafsir
Al-Maraghi.
[8] Qurtubi, Al
Jami’ Li Ahkaam Al Qur’an. Hlm. 46
[9] Quraish Muhammad Shihab, Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur’an (Pisangan, Ciputat:
PT.Lentera Hati, n.d.).
[10] Hamka, Tafsir
Al-Azhar Juz 22 (Jakarta: Pustaka Panjimas, n.d.).
[11] Febrina Tesa and Sarwadi, “Pendidikan Akhlak Dan
Karakter Berdasarkan QS. Al-Ahzab Ayat 70 – 71” 1 (2025): 73–81.
Nurul
Ghofar (241111039)
Asya
Zakkiyah Adznani (241111042)
Ali
Firdausi Diah Ayu Fitria (241111054)
Wahid
Monte Casan (241111068)

Komentar
Posting Komentar