PENDIDIKAN ALA LUQMANUL HAKIM (Q.S LUQMAN AYAT 13-19)

                                       

PENDAHULUAN            

            Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam hidup manusia. Melalui pendidikan, manusia mulai mendapatkan pengetahuan, nilai serta kemampuan yang dibutuhkan untuk menjalani hidup secara optimal. Berbicara tentang pendidikan, Islam sudah membahasnya sejak berabad abad lalu. Dalam perspektik Islam, pendidikan tidak hanya berorientasi pada seseorang mendapatkan pengetahuan, namun juga membahas tentang penanaman akhlak yang baik, aqidah serta nilai nilai agama yang diperlukan manusia agar bisa hidup sesuai poros agama. Pendidikan menjadi sarana bagi seseorang agar selama hidupnya dapat bermanfaat dengan baik bagi masyarakat dan agama.

            Pendidikan anak memiluiki kedudukan yang utama dan strategis karena pada masa itu seorang manusia masih pada kondisi kosong sehingga siap menerima hal hal baru. Tentu untuk mendapatkan pendidikan yang baik ketika masa anak anak tidak selalu didapatkan pada lembaga formal. Akan tetapi justru data menunjukkan bahwa pendidikan anak banyak didapatkan di lingkungan keluarga. Pendidikan anak dihitung sejak dari dalam kandungan kemudian senantiasa didapatkan hingga dia berkembang dan tumbuh. Maka dari itu, sangat optimal bilamana pada masa ini adalah masa emas untuk membentuk sebuah generasi yang berakhlah, beragama dan bertanggungjawab.[1]

            Keluarga merupakan wadah yang pertama dan utama terhadap perjalanan hidup anak. Sejak lahir hingga dewasa, anak hidup dengan kondisi interaksi yang intens dengan orangtua atau anggota keluarga lainnya. Sehingga pada kondisi seperti ini sangat memungkinkan bilamana seorang anak tumbuh sesuai dengan apa yang didapatkan dalam keluarga. Melalui proses komunikasi, pengasuhan, bimbingan serta keteladanan yang diberikan orangtua, seorang anak akan otomatis belajar untuk mengembangkan sikap, emotional intelligence, nilai moral dan keterampilan sosial yang menjadi bekal utama untuk menghadapi tantangan zaman.

            Pada era modern yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan sosial yang begitu cepat manambah nilai penting peran kelaurga terhadap tumbuh kembang anak. Kurangnya perhatian orangtua terhadap pendidikan anak akan berdampak negatif pada kehidupan anak tersebut. Dampak negatif yang akan muncul antara lainnya, rendahnya kemampuan sosial anak, kurang bisa mengontrol emosi, rendahnya harga diri dan kemungkinan terburuknya seorang anak akan menyimpang dari ajaran agama. Namun berlaku juga sebaliknya bilamana orangtua memberikan perhatian yang intens terhadap pendidikan anak maka anak akan tumbuh dengan baik dan akan menjadi pribadi yang mempunyai karakter kuat, mandiri dan mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang cepat.

            Baiknya pendidikan anak dalam keluarga dipengurahi oleh beberapa faktor, seperti pendidikan orangtua, ekonomi keluarga, lingkungan keluarga dan penanaman nilai nilai agama. Orangtua yang memiliki pengetahuan dan kesadaran penuh terhadap pendidikan anak cenderung bisa mengatur dan memberikan perhatian yang optimal pada pendidikan anak. Keluarga yang nyaman, tenang dan harmonis tentu akan menciptakan ruang aman bagi seorang anak sehingga anak akan dengan mudah menemukan teladan yang baik dan hal itu akan mendukung pembentukan karakter positif pada anak dan meningkatkan peluang keberhasilan anak dalam pendidikan maupun kehidupan sosial. Dengan demikian, pendidikan keluarga dapat dipandang sebagai investasi jangka panjang yang menentukan kualitas hidup anak. Keluarga yang baik akan menciptkan calon generasi bangsa yang baik pula bagi bangsa dan agamanya.[2]


PEMBAHASAN

Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membentuk kualitas sumber manusia yang unggul dan berdaya saing. Terlebih lagi, pendidikan pada anak memiliki peran yang sangat penting karena masa kanak-kanak merupakan fase emas (golden age) dalam perkembangan kognitif, emosional, dan sosial. Pada tahap ini, anak sangat mudah menyerap nilai, pengetahuan, serta kebiasaan yang akan memengaruhi kehidupannya di masa depan. Ki Hajar Dewantara  menuturkan bahwasannya pendidikan adalah satu upaya untuk memajukan budi pekerti, rohani dan jasmani anak agar mencapai kesempurnaan hidup yang selaras dengan lingkungan dan masyarakatnya.[3] Sesuai dengan yang dikatakan oleh Imam al-Ghazali :

وَالصَّبِيُّ أَمَانَةٌ عِنْدَ وَالِدَيْهِ، وَقَلْبُهُ الطَّاهِرُ جَوْهَرَةٌ نَفِيسَةٌ سَاذَجَةٌ خَالِيَةٌ عَنْ كُلِّ نَقْشٍ وَصُورَةٍ، وَهُوَ قَابِلٌ لِكُلِّ مَا نُقِشَ، وَمَائِلٌ إِلَى كُلِّ مَا يُمَالُ بِهِ إِلَيْهِ

"Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang suci merupakan permata yang sangat berharga, polos, bersih dari segala ukiran dan gambaran. Ia siap menerima setiap ukiran (didikan) dan cenderung kepada apa saja yang diajarkan kepadanya."[4]

            Dalam berbagai kajian Islam, keluarga seringkali dinilai sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama bagi setiap manusia. Keluarga memiliki peran penting dan strategis dalam membentuk generasi kepribadian, sikap sosial dan sikap keagamaan anak. Kesalahan dalam pola interaksi keluarga terhadap anak akan menimbulkan permasalahan permasalahan yang kompleks dan berpengaruh pada tumbuh kembang anak, sedangkan keluarga yang memberikan pendidikan secara optimal dipercaya akan menjadi fondasi penting untuk menciptakan generasi yang berkualitas. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan dalam keluarga bisa menjadi factor berhasilnya pendidikan ditahap tahap berikutnya.[5]

            Pada era modern yang segalanya terasa lebih cepat dan singkat menjadi tantangan tersendiri bagi pendidikan seorang anak. Berbagai penelitian menunjukkan hasil bahwa keterlibatan orangtua dalam mendidik anak akan berpengaruh besar terhadap akademik, kondisi sosial dan emosional anak. Heinz menuturkan bahwa kolaborasi antara orangtua dan pendidik sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kepercayaan diri anak, menumbuhkan motivasi belajar serta secara otomatis prestasi dalam bidang akademik akan ikut meningkat.[6] Dapat disimpulkan bahwasannya pendidikan keluarga tidak bisa dipisahkan dari upaya membentuk generasi yang siap menghadapi berbagai tantangan zaman.

            Konsep pendidikan yang seperti ini sebenarnya sudah sangat jelas diterangkan di dalam al-Quran melalui kisah pendidikan Luqmanul Hakim terhadap anaknya. Abdullah Katutu dan Abur Hamdi Usman menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Luqmanul Hakim mencakup pembinaan keimanan, hukum Islam, moral serta keselarasan antara islam, iman dan ihsan.[7] Pendidikan Luqmanul Hakim menekankan pada hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan sesama manusia, penghormatan kepada orang tua, pembentukan etika, dan penanaman akhlak yang mulia. Dengan kata lain pendidikan ini tidak hanya terfokus pada aspek kognitif, tetapi juga mencakup definisi spiritual, sosial dan moral secara terpadu.

            Lebih lanjut lagi, sering dijelaskan dibeberapa kajian bahwa metode pendidikan Luqmanul Hakim dilakukan melalui nasihat yang penuh kasih sayang, kesabaran, keteladanan, dialog serta pemberian nasihat dan motivasi. Materi pendidikan yang diajarkan meliputi aqidah, syariat, dan akhlak yang disampaikan dengan cara bertahap sesuai dengan perkembangan anak. Pendidikan ini menjadi contoh bahwa pendidikan yang efektif tifak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran, karakter dan kebiasaan baik dalam keluarga.

            Berbagai pandangan dari para ahli dan ulama dapat disimpulkan bahwasannya keluarga merupakan lembaga pendidikan yang memiliki peran sentral dalam membentuk masa depan anak. Pendidikan yang dimulai dari keluarga yang baik akan menjadi fondasi utama bagi perkembangan intelektual, emosional, sosial dan agama setiap anak. Konsep pendidikan Luqmanul Hakim menawarkan model pendidikan yang holistik karena mengkolaborasikan aspek keimanan, ibadah, akhlak dan kehidupan sosial secara seimbang. Oleh sebab itu, konsep pendidikan Luqmanul Hakim layak dijadikan rujukan bagi seluruh keluarga dalam membentuk generasi yang berakhlak, beragama dan siap menghadapi berbagai tantangan zaman.

Luqmanul Hakim dan Putranya.

Dia yang memiliki nama panjang Luqman bin ‘Anqa bin Sadun, adalah seorang wali Allah yang patuh, saleh dan bijaksana. Dia bukan seorang nabi dan tidak menerima wahyu sebagaimana nabi nabi sebelumnya. Namun, Luqman dianugerahi beberapa keutamaan, seperti kecerdasan intelektual, pemahaman dalam terhadap agama, sifat sifat ketenangan dan kebijaksanaan, serta yang paling penting dalam pembahasan ini, dia memiliki kemampuan untuk menyampaikan nasihat dengan bijaksana.

Banyak perbedaan ulama perihal pekerjaan Luqman. Ada yang mengatakan bahwa dia adalah seorang budak yang berkulit hitam, bekerja sebagai seorang tukang kayu, penggembala, atau penjahit. Ada juga yang mengatakan bahwa Luqman adalah seoramg qadhi (hakim) di masyarakat Bani Israil. Namun, pendapat yang masyhur dan banyak digunakan adalah dia seorang budak dari Habasyah yeng berkulit hitam, bibir tebal, dan kaki yang pecah pecah. Anaknya disebutkan bernama Tsaran.[8]

 

Pendidikan Pertama:

Mengenalkan dan Menanamkan Tauhid.

وَاِذْ وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِه وَهُوَ يَعِظُه يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

“(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.” (Q.S. Luqman : 13)

 

Menurut Kitab Tafsir Al-Munir karya Wahbah Az-Zuhaili, Allah menjelaskan bahwa pada ayat ini menggambarkan tentang bagaimana Luqman Al-Hakim memberikan wasiat, nasihat, dan arahan kepada anaknya sebagai bentuk cinta seorang ayah. Hal ini menunjukkan bahwa sosok ayah memiliki peranan penting sebagai orang tua, tidak hanya secara emosional saja, tetapi juga pada tanggung jawab moral dan spiritual dalam membimbing anak menuju jalan yang benar.[9]

Menurut Al Maraghi, makna mengingatkan orang lain dengan cara yang halus adalah untuk membuat hati mereka luluh. Sangat jelas bahwa Luqman sangat mencintai anaknya sehingga dia memintanya untuk hanya menyembah Allah. dan tidak melakukan perbuatan haram, yaitu menyekutukan Allah dengan makhluk lain. Hal ini terkandung di dalam ayat 13 Q.S. Luqman. Luqman menjelaskan kepada anaknya bahwa berbuat syirik atau musyrik merupakan kedzoliman yang sangat besar kepada Allah. Mengapa hal ini terjadi? karena syirik adalah meletakkan sesuatu di tempat yang salah.[10]

Menurut Kitab Tafsir Al Misbah karya Quraish Shihab, pelan-pelan kita sebagai orang tua mengenalkan siapa itu Tuhan, siapa itu Nabi, dan rukun-rukun dalam Islam. Kita harus bisa memberikan sedikit materi kepada seorang anak mengenai pendidikan. Sebenarnya pendidikan itu tidak cukup dengan materi saja, tetapi kita sebagai orang tua harus bisa menjadi contoh kepada seorang anak. Contohnya, kita memberi materi tentang sholat, apa itu sholat, dan kita harus bisa mengajak serta memberikan contoh bagaimana tata cara yang sesuai syariat tentang sholat.[11]

Menurut Ibnu Katsir, Luqman memberikan wasiat kepada putranya yang paling dia sayangi dan cintai. Maka dia lebih berhak untuk memberikan kepadanya sesuatu yang paling utama yang dia ketahui. Oleh karenanya, dia berwasiat kepada putranya yang pertama adalah untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan Nya dengan sesuatu apapun. Selanjutkan dia memperingatkan kepadanya bahwa syirik adalah benar benar kezhaliman yang besar.[12]

 

Pendidikan Kedua:

Berbakti Kepada Kedua Orang Tua.

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

“Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.598) (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.” (Q.S. Luqman : 14)

 

            Menurut Wahbah Al Zuhaili, pada ayat ini dijelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan hambanya untuk selalu menghormati kedua orang tuanya. Terutama kepada ibu yang telah mengandungnya, melahirkannya, menyapihnya, menyusuinya selama dua tahun dalam keadaan lemah yang kemudian terus meningkat hingga dibesarkan siang dan malam sampai dewasa. Didalam sebuah Riwayat dijelaskan bahwa ibu memiliki lebih banyak hak daripada ayah untuk mendapatkan pengabdian kepada anaknya. Rasulullah SAW menegaskannya tiga kali dan kemudian ayah. Selanjutnya Allah memerintahkan hamba-Nya agar selalu bersyukur kepada-Nya dan berterimakasih kepada kedua orang tua.[13]

            Menurut Quraish Shihab, ayat ini menjelaskan bahwasannya kita sebagai anak yang dilahirkan dari rahim seorang ibu, dari dalam kandungan sampai titik ini, kita harus berterima kasih kepada seorang ibu yang telah berjuang habis-habisan merawat kita sejak dalam kandungan. Bahkan perjuangan seorang ibu saat melahirkan itu tidak main-main, nyawa menjadi taruhannya. Sebagian kitab ada yang menggambarkan bahwa ketika seorang ibu sedang melahirkan anak, rasanya seperti tulang-tulang di badan itu dipatah-patahkan. Belum lagi setelah kita lahir, ibu merawat kita sepenuh hati sampai titik sekarang. Itu perjuangan seorang ibu.[14]

Menurut al-Maraghi menyatakan bahwa perintah berbakti pada kedua orang tua diberikan dengan menyebutkan ibu saja karena pihak ibulah yang mengalami kesulitan yang paling berat, yaitu mengandung anak hingga melahirkan dan merawatnya siang dan malam. Al Maraghi juga mengatakan bahwa Rasulullah Saw pernah didatangi oleh sahabatnya dan bertanya tentang siapakah yang paling berhak untuk dihormati dan berbakti kepadanya. Rasulullah Saw menjawab, "pertama Ibu, kedua Ibu, ketiga Ibu, dan keempat Ayah." Setelah Allah memutuskan untuk senantiasa menghormati dan menghormati kedua orang tuanya dengan memenuhi segala haknya, Lalu Allah mengecualikan dari hal-hal tersebut apabila keduanya mengajak untuk melakukan hal-hal yang membuat Allah murka.[15]

Menurut Ibnu Katsir, dalam ayat ini Allah menyebutkan kepayahan seorang ibu dalam memperjuangkan anaknya, mulai dari mengandung selama sembilan bulan, pertaruhan nyawa ketika melahirkan, kerepotannya dalam mengasuh dan menyusui, kemudian setelah itu masih harus menyapih anaknya setelah dua tahun. Bahkan, seorang ibu masih harus berjuag mendidik dan merawat anaknya hingga dewasa dan seterusnya. Allah menyebutkan semua hal itu pada firman Nya supaya para anak itu mengingat jasa setiap ibunya dan senantiasa berbakti kepadanya.[16]

 

Pendidikan Ketiga:

Menanamkan Bahwa Setiap Perkara Pasti Ada Balasannya.

يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ

“(Luqman berkata,) “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya (untuk diberi balasan). Sesungguhnya Allah Maha Lembut599) lagi Maha Teliti.” (Q.S. Luqman : 16)

 

            Menurut Wahbah Al Zuhaili, pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa selama hidup didunia sekalipun sebesar biji sawi maka Allah akan tetap membalasnya nanti di akhirat. Pengetahuan Allah SWT meliputi segala sesuatu yang sangat tersembunyi sekalipun, sehingga tidak ada yang tersembunyi dari-Nya dan berada di luar pemahaman-Nya, sekecil, selembut, dan sesederhana apapun itu. Allah SWT Maha Mengetahui segala hal yang ghaib dan yang tampak serta memahami semua amal perbuatan hamha-hamba-Nya untuk mendapatkan imbalan yang seharusnya mereka dapatkan pada hari kiamat.[17]

Quraish Shihab berpendapat, ayat ini mengajarkan kepada seluruh orang tua untuk menasihati anaknya dengan lembut supaya mereka lebih patuh. Kita boleh saja mendidik anak dengan cara mengajak anak melakukan amalan-amalan baik yang bisa mendorong anak tersebut menjadi anak yang mengerti tentang agama, seperti belajar mengaji kepada bapak atau ibunya. Sedikit demi sedikit kita beri dia motivasi dan semangat terlebih dahulu. Ketika anak mulai nyaman dengan mengaji tersebut, barulah kita tanamkan dan menasihati kepada anak bahwa utamakan jujur walaupun pahit untuk diucapkan. Dan jelaskan kepada anak bahwa Allah itu tidak seperti manusia, melainkan Dzat Yang Maha Kuasa. Meskipun seseorang menutupi kebohongan, Allah tetap mengetahui segala sesuatu, sekecil apapun perbuatan itu.[18]

            Al Maraghi menjelaskan bahwa segala amal baik dan buruk walaupun hanya sebesar biji sawi, lalu tersembunyi sekalipun bahkan tidak terlihat didalam bumi, maka sesungguhnya akan terlihat oleh Allah SWT. Kelak di hari kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Halus akan semua pengetahuan-Nya sekalipun hal-hal yang tidak terlihat, lagi maha waspada, Dia mengetahui perbuatan yang terlihat maupun tidak.[19]

            Menurut Ibnu Katsir, Allah akan mendatangkannya (perbuatan sebesar biji sawi) pada hari kiamat dan Allah meletakkan timbangan yang adil, kemudia membalasnya dengan sesuatu yang adil. Jika baik maka akan baik pula balasannya dan jika buruk maka akan buruk pula balasnya.[20] Sesuai dengan dalil Allah pada surat lain:

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ   وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

“Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (Q.S. Al Zalzalah : 7-8)

            Sekalipun biji sawi itu terhalangi atau tertutup oleh batu yang pekat dan tidak terlihat diruang langit dan bumi, maka sungguh Allah akan tetap mendatangkannya.

 

Pendidikan Keempat:

Mengajarkan Shalat, Beramar Ma’ruf dan Senantiasa Bersabar.

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ

“Wahai anakku, tegakkanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (harus) diutamakan.” (Q.S. Luqman : 17)

 

            Wahbah Al Zuhaili menjelaskan pada ayat ini, Luqman memberikan nasihat kepada anaknya untuk melaksanakan perbuatan baik sebagai bentuk dari tauhid, khususnya dengan menegakkan sholat, karena sholat dianggap sebagai ibadah dan pondasi agama begitupun cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu, Luqman juga memerintahkan untuk melakukan amar ma’ruf, yaitu mendorong diri sendiri dan orang lain untuk melakukan kebaikan yang sesuai dengan ajaran agama dan akal sehat, seperti perilaku baik dan adab yang terpuji. Disisi lain, nahi mungkar berarti menghindarkan diri dan orang lain dari segala bentuk dosa dan perbuatan yang dilarang oleh agama.

Dalam melaksanakan perintah tersebut, seseorang juga diharuskan untuk bersikap sabar dan tabah dalam menghadapi berbagai rintangan dan gangguan, terutama karena pelaksanaan amar ma’ruf nahi mungkar seringkali menimbulkan kesulitan. Oleh karena itu, pesan Luqman diawali dengan perintah untuk menegakkan shalat sebagai landasan iman dan diakhiri dengan anjuran untuk sabar sebagai dasar kekuatan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.[21]

Quraish Shihab menjelaskan bahwa kita sebagai orang tua harus berusaha mendidik anak agar menjadi pribadi yang disiplin dan lebih paham tentang agama. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah memberikan fasilitas pendidikan yang memiliki lingkungan santri, atau istilahnya mondok di pondok pesantren. Sebab ketika orang tua ingin anaknya mempunyai agama yang kuat, disiplin dalam segala hal, dan mampu bergaul dengan baik terhadap siapa pun, maka alangkah baiknya anak tersebut dimondokkan. Lingkungan pondok pesantren, insyaallah, memiliki suasana yang baik dan orang-orang yang terbiasa dengan kegiatan ibadah serta akhlak yang terjaga.[22]

Dalam Kitab Tafsir Al Maraghi tertulis bahwasannya dalam Ayat 17, memiliki arti "Hai anakku, laksanakanlah sholat dengan benar sesuai dengan cara yang diajarkan dalam agama Islam." Karena sholat mengandung keridhaan-Nya, sehingga orang yang melakukannya tunduk dan mengabdi kepada Tuhannya. Tidak hanya Selain itu, sholat memiliki keuntungan tambahan, yaitu melindungi seseorang dari perbuatan jahat dan buruk. Orang yang melakukannya dengan benar akan memiliki jiwa yang bersih dan berserah diri kepada Allah dalam keadaan bahagia atau sedih. Setelah Luqman menasihati anaknya untuk memperbaiki dirinya untuk memenuhi perintah Tuhannya, kemudian ia memerintahkan anaknya agar memenuhi haknya terhadap orang lain. Karena dua hal itu adalah cara untuk mendapatkan ridha Allah SWT, amanah ini dimulai dengan perintah untuk melakukan sholat dan diakhiri dengan nasihat untuk sabar.[23]

Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa mengajarkan anak shalat itu beserta dengan batasan batasannya dan waktu waktunya. Setelah itu Allah juga memerintahkan untuk berdakwah (amar ma’ruf nahi munkar), dalam ayat ini juga dijelaskan bahwasannya dakwah itu tidaklah mudah karena pasti akan mendapatkan gangguan dan halangan dari manusia lain maka dari itu Allah juga memerintahkan untuk bersabar, dan itu adalah perkara yang wajib.[24]

 

Pendidikan Kelima:

Memperingatkan Untuk Tidak Sombong dan Mengajarkan Adab Ketika Berbicara.

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ

“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. Berlakulah wajar dalam berjalan600) dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Q.S. Luqman : 18-19)

 

            Menurut dari Kitab Tafsir Al Munir, ayat ini mengandung arti perintah untuk menjadi orang yang tawadhu’, sopan, rendah hati dan menunjukkan wajah yang ceria dengan penuh rasa persahabatan dan kekeluargaan. Allah juga membenci setiap orang yang bersikap merasa dirinya lebih baik daripada orang lain, serta merendahkan orang lain. Kemudian dijelaskan bahwa seseorang berjalan dengan cara yang biasa, seimbang dan wajar, tidak terlalu lambat dan lemas hingga terlihat lemah dan tak berdaya karena berusaha tampil seperti orang yang zuhud, dan tidak pula terlalu cepat hingga berlebihan, seperti loncatan iblis. Dan janganlah berbicara dengan berteriak-teriak hingga suara kamu keras untuk hal-hal yang tidak berguna, tetapi rendahkanlah suaramu. Karena sebenarnya suara yang terlalu keras, gaduh, dan teriak-teriak dapat mengganggu telinga, menunjukkan sikap sombong, menonjolkan diri dan tidak memperhatikan orang lain. Berbicara dengan nada yang normal dan tenang membuat seseorang lebih dihormati, dan kata-katanya lebih mudah dipahami dan ditangkap.[25]

Al Maraghi mengatakan bahwa Luqman tidak hanya memberi nasihat yang disebutkan di atas kepada anak-anaknya, tetapi juga memberi nasihat lain, seperti yang disebutkan dalam ayat berikutnya dari surat Luqman 18 hingga 19, di antaranya adalah:

1.       Saat berbicara dengan seseorang, jangan memalingkan wajah; melakukannya dapat dianggap sombong. Sebaliknya, hadapilah mereka dengan wajah yang ceria.

2.      Dan larangan berjalan dengan angkug dan sombong terhadap diri sendiri. Karena hal itu termasuk jalannya orang-orang yang sombong dan angkara murka, yaitu orang-orang yang senang melakukan kekejian di bumi dan melakukan kedzaliman kepada orang lain. Sementara berjalan dengan sederhana berarti mencerminkan jalannya orang yang rendah diri. Kemudian lukman menjelaskan illat dari larangannya itu. Sesunggshnys Allah tidak suka terhadap orang yang angkuh atau menyombongkan diri dan bersikap sombong terhadap orang lain.

3.      Dan berjalanlah dengan langkah yang baik dan sederhana tanpa tergesa-gesa

4.      Janganlah mengeraskan suaramu ketika berbicara dan jika tidak dibutuhkan. Karena sesungguhnya perilaku seperti ini lebih berwibawa dan lebih nyaman diterima oleh orang lain.

Pada terusan ayat ini, Luqman menjelaskan bahwa suara yang dikeraskan melebihi tanpa alasan adalah seburuk-buruknya suara keledai, sehingga ungkapan ini jelas mengandung hinaan bagi mereka yang mengeraskan suaranya melebihi apa yang dibutuhkan, dan untuk membenci tindakan tersebut. Sementara ugkapan bagi mereka yang mengeraskan suara yang diibaratkan dengan suara keledai, mengandung pemberitahuan yang penting untuk menanamkan rasa menolak dari perbuatan tersebut, karena Allah sungguh sangat membencinya. Itu adalah cara Allah mengajarkan umatnya. untuk tidak berbicara terlalu keras di depan orang lain atau untuk sepenuhnya berhenti melakukan hal ini.[26]

            Ibnu Katsir menuturkan perkataan Ali bin Abi Thalhah tentang firman Allah pada ayat ini “Janganlah kamu berlaku sombong karena kamu akan meremehkan hamba Allah dan kamu akan memalingkan wajahmu dari mereka apabila mereka berbicara kepadamu.” Sesungguhnya Allah sangat membenci hamba Nya yang berlaku sombong dan angkuh. Selanjutnya beliau menuturkan maksud dari “sederhanakanlah jalanmu” adalah dengan berjalan sewajarnya, tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat. Terakhir menjelaskan tentang larangan untuk tinggi dalam berbicara dan meninggikan suara. Dalam hal ini, Allah menyerupakan orang yang seperti itu dengan seburuk buruk penyerupaan, yaitu keledai. Keledai selalu meninggikan suaranya namun tidak ada isi dari suara tersebut.[27]

 

Analisis Kebahasaan Q.S Luqman : 13.

Ayat

Kaidah Kebahasaan

Lafadz

13

Berasal dari kata wa’azha yaizhuhu ‘izhatan wa mau’izhatan yang artinya adalah mengingatkan seseorang terhadap suatu perkara yang akan melembutkan hatinya dengan cara menyebutkan pahala dan hukuman. Mau’izhah adalah nasihat yang disertai dengan at-targhib (motivasi) dan at-tarhib (ancaman). Mau’izhah menjadi aspek yang penting dalam menyampaikan sesuatu pada anak atau orang lain.

يَعِظُه

13

Pemilihan kata  “yaa bunayya” yang digunakan oleh Luqman saat memanggil anaknya merupakan bentuk tasyghir (diminutif) yang memiliki makna belas kasih dan rasa kasih sayang yang mendalam. Panggilan seperti ini mencerminkan rasa kasih sayang yang mendalam dan tulus dari seorang ayah kepada anaknya, yang bertujuan untuk melembutkan hati si anak sehingga mudah untuk mengikuti dan mentaati perintah atau nasihat yang diberikan.

يٰبُنَيَّ

 

Analisis Kebahasaan Q.S Luqman : 14.

Ayat

Kaidah Kebahasaan

Lafadz

14

Penggunaan redaksi kata perintah dengan menggunakan kata “wawashshaina” yang berarti wasiat menunjukkan bahwasannya perkara yang disampaikan setelahnya adalah suatu hal yang penting. Dimana kedudukan wasiat dalam islam sangatlah utama dan hukumnya wajib untuk ditunaikan bilamana hal yang diperintahkan merupakan hal yang baik.

وَوَصَّيْنَا

14

Kalimat اَنِ اشْكُرْ لِيْ digunakan ubtuk menjelaskan sebab wasiat atau kewajiban untuk melaksanakannya. Kemudian untuk patuh kepada-Nya dan menghormati kepada kedua orangtua bahwa semuanya pasti akan kembali menghadap Allah. Lalu Dia akan memberikan balasan nanti di akhirat bagi yang telah dilakukan.

اَنِ اشْكُرْ لِيْ

 

Analisis Kebahasaan Q.S Luqman : 16.

Ayat

Kaidah Kebahasaan

Lafadz

16

Pada kalimat فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَ bertujuan untuk menekankan penguatan dalam memberikan arti dan pemahaman bahwa sekecil apapun  dan tersembunyi dimanapun suatu amal, kelak pasti akan diperlihatkan. Sesungguhnya Allah SWT sangat lembut ilmu-Nya. Pengetahuan Allah SWT meliputi segala sesuatu yang sangat tersembunyi sekalipun, sehingga tidak ada yang tersembunyi dari-Nya dan berada di luar pemahaman-Nya.

فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ

 

Analisis Kebahasaan Q.S Luqman : 17.

Ayat

Kaidah Kebahasaan

Lafadz

17

fi’il amr kata “aqim” ini menunjukkan nasihat praktis (amaliyah), bukan sekadar teori. Menggambarkan bahwa selain memerintahkan untuk shalat, Luqman juga mencontohkannya.

اَقِمِ

17

Kata sambung “wa” itu menunjukkan urutan tentang hal mana yang lebih utama untuk diajarkan terlebih dahulu, mulai dari shalat, mengingatkan seseorang kepada kebaikan, mencegah seseornag melakukan kemungkaran dan terakhir untuk berlatih sabar.

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ

 

Analisis Kebahasaan Q.S Luqman : 18-19.

Ayat

Kaidah Kebahasaan

Lafadz

18

Pada kalimat  وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْر masih sama pada kalimat pertama yaitu dilarang untuk melangkah diatas muka bumi dengan sikap pamer, penuh keangkuhan, atau sombong, karena tingkah laku seperti itu tidak disukai oleh Allah. Allah juga membenci setiap orang yang bersikap merasa dirinya lebih baik daripada orang lain, serta merendahkan orang lain. Kalimat فَخُوْرٍۚ artinya Adalah seseorang yang selalu memperhitungkan apa yang diterima, merasa bangga dengan napa yang dimilikinya, dan tidak berterimakasih kepada Allah.

وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

 

Implementasi Ayat.

Ayat 13 :         Ayat ini menjadi poin yang sangat penting dalam pendidikan anak, dimana dijelaskan kepada anak bahwasannya Allah memiliki hak atas diri seorang hamba yaitu berupa tidak berbuat syirik kepada Nya. Ayat ini juga mengingatkan kepada kita bahwasannya manusia adalah makhluk yang lemah. Selamanya kita tidak melakukan apapun kecuali dengan izin dan bantuan Allah. Setiap dari kita hidup di dunia ini memiliki tujuan, tugas dan fungsi yang melekat secara otomatis. Tujuan kita hidup adalah untuk mencari dan menggapai keridhaan Sang Penciptanya dan menjauhi kemurkaan Nya.

Pada ayat ini  juga memberikan contoh bagaimana hal yang seharusnya kita lakukan ketika hendak menasihati orang lain terutama anak anak. Luqman tidak memaksa anaknya untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan Nya. Namun Luqman menasihati nya dengan lembut dan bijaksana, serta pasti disertai dengan memberikan contoh yang baik. Selain itu pada nasihatnya, Luqman menyertakan sebab akibat terhadap sebuah perkaran yang dilakukan dan ini yang penting. Luqman tau persis bahaya dari dosa syirik, dimana semua dosa akan diampuni oleh Allah kecuali syirik. Oleh dari itu, kita dapan mencontoh bahwasannya hal pertama yang harus disampaikan kepada anak adalah tentang hak hak Allah.[28]

Ayat 14 :         Dalam al-Quran, Allah selalu mengiringi ayat yang mengandung perintah menyembah kepada Nya dengan ayat yang mengandung perintah untuk berbakti kepada orangtua. Hal ini menunjukkan tentang urgensi berbakti kepada orangtua dengan menyembah Allah. Sesuai dengan hadist Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:

رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطُ اَلْوَالِدَيْنِ

“Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua dan murka Allah bergantung pada murka orang tua.” (HR Tirmidzi no. 1899)

 

Diantara hikmah yang terdapat pada ayat ini adalah mengingatkan kita bahwa anak pertama kali berguru adalah kepada kedua orangtuanya, sehingga adanya penekanan pada sisi birrul walidain itu diharapkan si anak untuk selalu taat dan patuh kepada keduanya selama kedua orangtuanya memerintahkan hal hal yang baik. Sedalam dalamnya kewajiban untuk berbakti kepada orangtua, hal itu tetap mempunyai batasan. Akan menjadi sebuah ujian ketika berada pada kondisi dimana seorang hamba dengan keadaan seorang anak yang taat dan sholih akan tetapi salah satu atau kedua orangtuanya justru sebaliknya. Sebagaimana yang tergambar dalam firman Allah:

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak punya ilmu tentang itu, janganlah patuhi keduanya, (tetapi) pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian, hanya kepada-Ku kamu kembali, lalu Aku beri tahukan kepadamu apa yang biasa kamu kerjakan.” (Q.S. Luqman : 15).

Dari ayat di atas menunjukkan bahwa kewajiban berbakti kepada kedua orangtua adalah sebuah hal yang mutlak, namun hanya pada perkara yang ma’ruf saja. Adapun terhadap perkara yang munkar apalagi perkara yang membahayakan aqidah, maka seorang anak dilarang mentaatinya.

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

"Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Khaliq (Allah)." (HR. Ahmad, Ath-Thabrani)

 

Ayat 16 :         Kehidupan manusia selalu dihadapkan oleh beberapa pilihan-pilihan, namun manusia juga diberi kemampuan untuk memilah dan memilih mana yang terbaik. Kemampuan untuk memilih yang baik dan benar bukanlah sebuah perkara yang mudah, terlebih ketika ada konsekuensi atau hukuman dari perkara tersebut tentu hal itu akan semakin berat, begitu pula pilihan yang berkaitan dengan masa depan anak. Ayat ini menerangkan bilamana hukum kausalitas (sebab akibat) itu sangat penting diajarkan kepada anak sejak dini. Hal itu menjadi bekal pertimbangan dalam memilih ucapan dan tindakannya ketika memasuki fase dewasa, dimana seorang anak telah membawa beban kewajiban nya masing masing dan selanjutnya dia akan diminya pertanggungjawaban atas apapun yang telah dilakukannya di dunia maupun di akhirat kelak.

Anak diajarkan untuk paham bahwasannya manusia harus melaksanakan kewajiban dengan baik dan teratur, karena nereka menyadari jika apapun yang mereka lakukan akan berdampak kepada diri mereka sendiri. Kita harus menyadarkan kepada anak bahwa kewajiban adalah sebuah kebutuhan demi kesejahteraan dan perkembangan pribadi mereka. Ini juga secara tidak langsung akan menjelaskan kepada anak bahwasannya selain kita mempunyai kewajiban kepada sesama makhluk kita juga mempunyai kewajiban kepada Allah, sehingga anak akan tumbuh dengan pemahaman, pikiran dan prinsip beragama yang baik.[29]

Ayat 17 :         Kita ketahui bahwa shalat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam, dimana shalat adalah tiang agama dari Islam itu sendiri. Bilamana sebuah tiang itu rusak atau rapuh maka bangunan diatasnya akan roboh. Namun, disini ada sebuah hal yang unik. Luqman tidak menyampaikan nasihat shalat pada urutan pertama tapi nasihat shalat datang setelah nasihat syirik, berbakti kepada orang tua dan hukum sebab akibat disampaikan. Banyak kita menjumpai di luar sana anak anak yang dia dipaksa untuk melaksanakan shalat tapi perilaku dari keseharian nya jauh dari yang diajarkan islam, dia membangkang orang yang lebih tua ataupun orangtuanya sendiri. Hal ini justru memperlihatkan adanya ketimpangan antara adab kepada Allah dengan adab kepada sesama manusia. Hal ini terjadi karena adanya hal penting yang terlewatkan.

Selanjutnya perintah dakwah menjadi sarana untuk menanamkan rasa kasih sayang dan peduli kepada sesama. Ditambah lagi beramar ma’ruf nahi munkar bagi manusia adalah bentuk perwujudan dari fungsi khalifatul fil ardi yang harus menjaga keseimbangan, kedamaian, kesejahteraan dan melestarikan hubungan manusia dengan alam semesta sesuai dengan harmoni Ilahi rabbi.

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (Q.S. Al-Imran : 110)

 

Ayat 18-19 :   Ayat tersebut mengandung dua larangan dan dua perintah, yakni: larangan untuk mengalihkan pandangan dari seseorang yang berbicara dengannya, dan larangan untuk berjalan di muka bumi dengan sombong. Allah SWT tidak menyukai sikap sombong, baik itu termanifestasi dalam tindakan maupun kata-kata. Perintah berjalan dengan langkah yang rendah hati dan menurunkan volume suara saat berbicara. Langkah yang rendah hati mengacu pada cara berjalan yang tidak terlalu cepat atau terlalu lambat, tetapi alami. Menurunkan volume suara berarti berbicara dengan suara yang lembut dan menjaga pembicaraan agar tidak berlebihan. Dengan sikap seperti ini, seseorang akan lebih dihormati dan dipahami oleh pendengar, serta pesan yang disampaikan akan lebih mudah dipahami.

Hal ini juga mengajarkan supaya kita tidak meremehkan siapapun dan bagaimanapun keadaannya. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad:

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئاً، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Dzarr Radhiyallāhu ‘anhu ia berkata: Rasūlullāh Shallallāhu Alayhi Wasallam bersabda: “Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, meskipun kau bertemu dengan saudaramu dengan wajah berseri-seri.” (HR. Muslim)

 

Dikuatkan juga dengan perkataan dari Syeikh An Nawawi al-Bantani dalam kitabnya “An-Nashaih Al-Ibad”, beliau mengatakan:

وعن على رضى االله عنه كن عند االله خير الناس وكن عند النفس شر الناس وكن عند الناس رجلا من الناس

Dari Ali Radhiyallāhu ‘anhu ia berkata: “Jadilah engkaku orang yang paling baik dalam pandangan Allah, dan jadilah engkau orang yang paling hina dalam pandanganmu sendiri, dan jadilah engkau orang yang sewajarnya dalam pandangan orang lain.”[30]

 


 

KESIMPULAN 

            Berdasarkan dari penjelasan di atas pada akhirnya kita dapat menemukan role model yang sesuai dengan agama dan tidak bertolak belakang dengan sosial yang ada pada masyarakat. Luqmanul Hakim telah memberikan contoh yang sempurna bagi pendidikan, terutama pendidikan anak. Penulis menyimpulkan beberapa pelajaran yang dapat diambil dari Luqmanul Hakim, diantaranya sebagai berikut:

1.      Menanamkan tauhid dan aqidah kepada anak.

Pelajaran pertama yang diberikan Luqman kepada anaknya bukanlah shalat, puasa ataupun ibadah lainnya. Namun Luqman menanamkan terlebih dahulu kepada anaknya rasa bahwa Allah adalah Rabb. Tauhid adalah landasan utama bagi setiap manusia sebelum mendapatkan tambahan ilmu ilmu lainnya. Hal itu terjadi karena tauhid adalah alasan terbentuknya keyakinan, akhlak dan ibadah seorang anak. Luqman mengawalinya dengan nasihat larangan syirik kepada anaknya.

2.      Menanamkan sikap berbakti kepada orangtua.

Berbakti kepada orangtua adalah akhlah utama yang wajib dimiliki oleh seorang anak. Luqman mengatakan kepada anaknya untuk berbakti kepada orangtua terutama ibu, hal itu sesuai dengan hadist nabi yang harus mendahulukan ibu, ibu, ibu baru kemudian ayah. Pendidikan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa syukur, rasa hormat dan rasa kasih sayang pada diri anak.

3. Menanamkan nilai pada anak bahwa segala perbuatan pasti akan mendapat pertanggungjawaban.

Luqman menasihatkan kepada anaknya bahwa sekecil apapun amalan tidak akan pernah luput dari penglihatan Allah, baik itu amalan baik ataupun amalan buruk. Sehingga segala apa yang dilakukan pasti akan ada konsekuensinya. Pendidikan ini mengajarkan kepada anak untuk memiliki rasa tanggungjawab atas apa yang telah diperbuat.

4.      Menanamkan pada anak untuk senantiasa ibadah, amar ma’ruf, nahi munkar dan bersabar dalam dakwah.

Setelah menasihatkan kepada anaknnya beberapa perkara penting barulah luqman setelahnya menasihatkan perihal ibadah. Perintah ibadah muncul setelah beberapa perkara di atas menunjukkan bahwa Luqman lebih dahulu membentuk karakter pada anak, karena jika karakter seorang anak itu sudah terbentuk maka dengan sendirinya akan muncul kesadaran terhadap ibadahnya sendiri ataupun perkara lainnya.

5.      Membentuk karakter anak yang berkhlak mulia dan mempunyai etika sosial yang tinggi.

Luqman tidak lupa untuk mengajarkan juga satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam kehidupan, yaitu etika dan akhlak yang baik. Kedua hal ini sangat diperlukan dalam menjalani hidup ini. Sebagaimana diketahui bahwa manusia adalah makhluk sosial maka dari itu setiap anak harus dibekali tentang etika sosial yang tinggi dan akhlak yang mulia agar kedepannya anak tersebut bisa tumnuh dan hidup sebagai manusia yang berkualitas.



[1] Susan Noor Farida, ‘Hadis-Hadis Tentang Pendidikan ( Suatu Telaah Tentang Pentingnya Pendidikan Anak )’, 1.September (2016), pp. 35–42.

[2] Lasmauli Gurning, ‘Pengaruh Pendidikan Keluarga Terhadap Masa Depan Anak’, 6 (2023), pp. 118–30.

[3] Riesta Rahmadian and others, ‘Pendidikan Anak Dalam Keluarga’, 8.1 (2022), pp. 53–63.

[4] ‘Terjemahan Ihya Ulumuddin Jilid 1.Pdf’.

[5] Karanganyar Paiton Probolinggo, ‘Pendidikan Anak Dalam Keluarga; Telaah Epistemologis’, 3.2 (2016), pp. 96–107.

[6] Hilyatul Aulia and Jayanti Suryaningsih, ‘Pentingnya Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Anak’, 2.6 (2024), pp. 1906–11.

[7] Ahmad Mujib and others, ‘Konsep Pendidikan Anak Perspektif Luqmanul Hakim’, 8.3 (2024).

[8] Arif Rahman Hakim and others, Tejemahan Tafsir Ibnu Katsir (Penerbit Insan Kamil Solo, 2021).

[9] Prof Wahbah, ‘Tafsir Al-Munir’.

[10] Fauziyah Mujayyanah, Bennny Prasetiya, and Nur Khosiah, ‘Konsep Pendidikan Akhlak Luqmanul Hakim’, 6.1 (2021), pp. 44–51.

[11] Nurin Fitria, ‘Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Surah Luqman Ayat 12-19’, 19 (2022).

[12] Hakim and others, Tejemahan Tafsir Ibnu Katsir.

[13] Wahbah, ‘Tafsir Al-Munir’.

[14] Fitria, ‘Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Surah Luqman Ayat 12-19’.

[15] Mujayyanah, Prasetiya, and Khosiah, ‘Konsep Pendidikan Akhlak Luqmanul Hakim’.

[16] Hakim and others, Tejemahan Tafsir Ibnu Katsir.

[17] Wahbah, ‘Tafsir Al-Munir’.

[18] Fitria, ‘Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Surah Luqman Ayat 12-19’.

[19] Mujayyanah, Prasetiya, and Khosiah, ‘Konsep Pendidikan Akhlak Luqmanul Hakim’.

[20] Hakim and others, Tejemahan Tafsir Ibnu Katsir.

[21] Wahbah, ‘Tafsir Al-Munir’.

[22] Fitria, ‘Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Surah Luqman Ayat 12-19’.

[23] Mujayyanah, Prasetiya, and Khosiah, ‘Konsep Pendidikan Akhlak Luqmanul Hakim’.

[24] Hakim and others, Tejemahan Tafsir Ibnu Katsir.

[25] Wahbah, ‘Tafsir Al-Munir’.

[26] Mujayyanah, Prasetiya, and Khosiah, ‘Konsep Pendidikan Akhlak Luqmanul Hakim’.

[27] Hakim and others, Tejemahan Tafsir Ibnu Katsir.

[28] Mujib and others, ‘Konsep Pendidikan Anak Perspektif Luqmanul Hakim’.

[29] Mujib and others, ‘Konsep Pendidikan Anak Perspektif Luqmanul Hakim’.

[30] Syaikh Imam Nawawi Al-bantani, Hasna Nurlaela, and Udin Juhrodin, ‘Terjemah Nashaihul ’Ibad: Nasihat-Nasihat Bagi Sang Hamba’.



Penulis: 

 Dhabit Ramadhito       (241111044)

Nabillah Alyawati       (241111063)

 Adittia Nurohman       (241111065)

Rohmah Nur Husaini  (241111059)


Dosen Pembimbing
Dr. KH. Moh. Abdul Kholiq Hasan Lc.MA.M.Ed

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tafsir Surat An-Nisa' (4): Ayat 31-32

Tafsir Surat An-Nisa' (4): Ayat 43

Tafsir Surat An-Nisa' (4): Ayat 20-21