PENDIDIKAN ALA LUQMANUL HAKIM (Q.S LUQMAN AYAT 13-19)
PENDAHULUAN
Pendidikan
merupakan suatu hal yang sangat penting dalam hidup manusia. Melalui
pendidikan, manusia mulai mendapatkan pengetahuan, nilai serta kemampuan yang
dibutuhkan untuk menjalani hidup secara optimal. Berbicara tentang pendidikan,
Islam sudah membahasnya sejak berabad abad lalu. Dalam perspektik Islam,
pendidikan tidak hanya berorientasi pada seseorang mendapatkan pengetahuan,
namun juga membahas tentang penanaman akhlak yang baik, aqidah serta nilai
nilai agama yang diperlukan manusia agar bisa hidup sesuai poros agama.
Pendidikan menjadi sarana bagi seseorang agar selama hidupnya dapat bermanfaat
dengan baik bagi masyarakat dan agama.
Pendidikan
anak memiluiki kedudukan yang utama dan strategis karena pada masa itu seorang
manusia masih pada kondisi kosong sehingga siap menerima hal hal baru. Tentu
untuk mendapatkan pendidikan yang baik ketika masa anak anak tidak selalu
didapatkan pada lembaga formal. Akan tetapi justru data menunjukkan bahwa
pendidikan anak banyak didapatkan di lingkungan keluarga. Pendidikan anak
dihitung sejak dari dalam kandungan kemudian senantiasa didapatkan hingga dia
berkembang dan tumbuh. Maka dari itu, sangat optimal bilamana pada masa ini
adalah masa emas untuk membentuk sebuah generasi yang berakhlah, beragama dan
bertanggungjawab.[1]
Keluarga
merupakan wadah yang pertama dan utama terhadap perjalanan hidup anak. Sejak
lahir hingga dewasa, anak hidup dengan kondisi interaksi yang intens dengan
orangtua atau anggota keluarga lainnya. Sehingga pada kondisi seperti ini
sangat memungkinkan bilamana seorang anak tumbuh sesuai dengan apa yang
didapatkan dalam keluarga. Melalui proses komunikasi, pengasuhan, bimbingan
serta keteladanan yang diberikan orangtua, seorang anak akan otomatis belajar
untuk mengembangkan sikap, emotional intelligence, nilai moral dan
keterampilan sosial yang menjadi bekal utama untuk menghadapi tantangan zaman.
Pada era
modern yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan sosial yang begitu cepat
manambah nilai penting peran kelaurga terhadap tumbuh kembang anak. Kurangnya
perhatian orangtua terhadap pendidikan anak akan berdampak negatif pada
kehidupan anak tersebut. Dampak negatif yang akan muncul antara lainnya,
rendahnya kemampuan sosial anak, kurang bisa mengontrol emosi, rendahnya harga
diri dan kemungkinan terburuknya seorang anak akan menyimpang dari ajaran
agama. Namun berlaku juga sebaliknya bilamana orangtua memberikan perhatian
yang intens terhadap pendidikan anak maka anak akan tumbuh dengan baik dan akan
menjadi pribadi yang mempunyai karakter kuat, mandiri dan mampu beradaptasi
dengan perubahan lingkungan yang cepat.
Baiknya pendidikan anak dalam keluarga dipengurahi oleh beberapa faktor, seperti pendidikan orangtua, ekonomi keluarga, lingkungan keluarga dan penanaman nilai nilai agama. Orangtua yang memiliki pengetahuan dan kesadaran penuh terhadap pendidikan anak cenderung bisa mengatur dan memberikan perhatian yang optimal pada pendidikan anak. Keluarga yang nyaman, tenang dan harmonis tentu akan menciptakan ruang aman bagi seorang anak sehingga anak akan dengan mudah menemukan teladan yang baik dan hal itu akan mendukung pembentukan karakter positif pada anak dan meningkatkan peluang keberhasilan anak dalam pendidikan maupun kehidupan sosial. Dengan demikian, pendidikan keluarga dapat dipandang sebagai investasi jangka panjang yang menentukan kualitas hidup anak. Keluarga yang baik akan menciptkan calon generasi bangsa yang baik pula bagi bangsa dan agamanya.[2]
PEMBAHASAN
Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membentuk kualitas sumber
manusia yang unggul dan berdaya saing. Terlebih lagi, pendidikan pada anak
memiliki peran yang sangat penting karena masa kanak-kanak merupakan fase emas
(golden age) dalam perkembangan kognitif, emosional, dan sosial. Pada tahap
ini, anak sangat mudah menyerap nilai, pengetahuan, serta kebiasaan yang akan
memengaruhi kehidupannya di masa depan. Ki Hajar Dewantara menuturkan bahwasannya pendidikan adalah satu
upaya untuk memajukan budi pekerti, rohani dan jasmani anak agar mencapai
kesempurnaan hidup yang selaras dengan lingkungan dan masyarakatnya.[3] Sesuai
dengan yang dikatakan oleh Imam al-Ghazali :
وَالصَّبِيُّ أَمَانَةٌ عِنْدَ وَالِدَيْهِ،
وَقَلْبُهُ الطَّاهِرُ جَوْهَرَةٌ نَفِيسَةٌ سَاذَجَةٌ خَالِيَةٌ عَنْ كُلِّ
نَقْشٍ وَصُورَةٍ، وَهُوَ قَابِلٌ لِكُلِّ مَا نُقِشَ، وَمَائِلٌ إِلَى كُلِّ مَا
يُمَالُ بِهِ إِلَيْهِ
"Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang suci
merupakan permata yang sangat berharga, polos, bersih dari segala ukiran dan
gambaran. Ia siap menerima setiap ukiran (didikan) dan cenderung kepada apa
saja yang diajarkan kepadanya."[4]
Dalam berbagai kajian Islam,
keluarga seringkali dinilai sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama bagi
setiap manusia. Keluarga memiliki peran penting dan strategis dalam membentuk
generasi kepribadian, sikap sosial dan sikap keagamaan anak. Kesalahan dalam
pola interaksi keluarga terhadap anak akan menimbulkan permasalahan
permasalahan yang kompleks dan berpengaruh pada tumbuh kembang anak, sedangkan
keluarga yang memberikan pendidikan secara optimal dipercaya akan menjadi
fondasi penting untuk menciptakan generasi yang berkualitas. Oleh karena itu,
keberhasilan pendidikan dalam keluarga bisa menjadi factor berhasilnya
pendidikan ditahap tahap berikutnya.[5]
Pada era
modern yang segalanya terasa lebih cepat dan singkat menjadi tantangan
tersendiri bagi pendidikan seorang anak. Berbagai penelitian menunjukkan hasil
bahwa keterlibatan orangtua dalam mendidik anak akan berpengaruh besar terhadap
akademik, kondisi sosial dan emosional anak. Heinz menuturkan bahwa kolaborasi
antara orangtua dan pendidik sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kepercayaan
diri anak, menumbuhkan motivasi belajar serta secara otomatis prestasi dalam
bidang akademik akan ikut meningkat.[6]
Dapat disimpulkan bahwasannya pendidikan keluarga tidak bisa dipisahkan dari
upaya membentuk generasi yang siap menghadapi berbagai tantangan zaman.
Konsep
pendidikan yang seperti ini sebenarnya sudah sangat jelas diterangkan di dalam
al-Quran melalui kisah pendidikan Luqmanul Hakim terhadap anaknya. Abdullah
Katutu dan Abur Hamdi Usman menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Luqmanul Hakim
mencakup pembinaan keimanan, hukum Islam, moral serta keselarasan antara islam,
iman dan ihsan.[7]
Pendidikan Luqmanul Hakim menekankan pada hubungan manusia dengan Allah,
manusia dengan sesama manusia, penghormatan kepada orang tua, pembentukan
etika, dan penanaman akhlak yang mulia. Dengan kata lain pendidikan ini tidak
hanya terfokus pada aspek kognitif, tetapi juga mencakup definisi spiritual,
sosial dan moral secara terpadu.
Lebih
lanjut lagi, sering dijelaskan dibeberapa kajian bahwa metode pendidikan
Luqmanul Hakim dilakukan melalui nasihat yang penuh kasih sayang, kesabaran,
keteladanan, dialog serta pemberian nasihat dan motivasi. Materi pendidikan
yang diajarkan meliputi aqidah, syariat, dan akhlak yang disampaikan dengan
cara bertahap sesuai dengan perkembangan anak. Pendidikan ini menjadi contoh
bahwa pendidikan yang efektif tifak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga
membangun kesadaran, karakter dan kebiasaan baik dalam keluarga.
Berbagai
pandangan dari para ahli dan ulama dapat disimpulkan bahwasannya keluarga
merupakan lembaga pendidikan yang memiliki peran sentral dalam membentuk masa
depan anak. Pendidikan yang dimulai dari keluarga yang baik akan menjadi
fondasi utama bagi perkembangan intelektual, emosional, sosial dan agama setiap
anak. Konsep pendidikan Luqmanul Hakim menawarkan model pendidikan yang
holistik karena mengkolaborasikan aspek keimanan, ibadah, akhlak dan kehidupan
sosial secara seimbang. Oleh sebab itu, konsep pendidikan Luqmanul Hakim layak
dijadikan rujukan bagi seluruh keluarga dalam membentuk generasi yang
berakhlak, beragama dan siap menghadapi berbagai tantangan zaman.
Luqmanul Hakim dan Putranya.
Dia yang memiliki nama
panjang Luqman bin ‘Anqa bin Sadun, adalah seorang wali Allah yang patuh, saleh
dan bijaksana. Dia bukan seorang nabi dan tidak menerima wahyu sebagaimana nabi
nabi sebelumnya. Namun, Luqman dianugerahi beberapa keutamaan, seperti kecerdasan
intelektual, pemahaman dalam terhadap agama, sifat sifat ketenangan dan
kebijaksanaan, serta yang paling penting dalam pembahasan ini, dia memiliki
kemampuan untuk menyampaikan nasihat dengan bijaksana.
Banyak perbedaan ulama
perihal pekerjaan Luqman. Ada yang mengatakan bahwa dia adalah seorang budak
yang berkulit hitam, bekerja sebagai seorang tukang kayu, penggembala, atau
penjahit. Ada juga yang mengatakan bahwa Luqman adalah seoramg qadhi (hakim) di
masyarakat Bani Israil. Namun, pendapat yang masyhur dan banyak digunakan
adalah dia seorang budak dari Habasyah yeng berkulit hitam, bibir tebal, dan
kaki yang pecah pecah. Anaknya disebutkan bernama Tsaran.[8]
Pendidikan Pertama:
Mengenalkan dan Menanamkan
Tauhid.
وَاِذْ
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِه وَهُوَ يَعِظُه يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ
اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
“(Ingatlah) ketika Luqman
berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah
mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar
kezaliman yang besar.” (Q.S. Luqman : 13)
Menurut Kitab Tafsir Al-Munir karya
Wahbah Az-Zuhaili, Allah menjelaskan bahwa pada ayat ini menggambarkan
tentang bagaimana Luqman Al-Hakim memberikan wasiat, nasihat,
dan arahan kepada anaknya sebagai bentuk cinta seorang
ayah. Hal ini menunjukkan bahwa sosok ayah
memiliki peranan penting sebagai orang tua, tidak hanya secara
emosional saja, tetapi juga pada tanggung jawab moral dan spiritual
dalam membimbing anak menuju jalan yang benar.[9]
Menurut Al Maraghi, makna
mengingatkan orang lain dengan cara yang halus adalah untuk membuat hati mereka
luluh. Sangat jelas bahwa Luqman sangat mencintai anaknya sehingga dia
memintanya untuk hanya menyembah Allah. dan tidak melakukan perbuatan haram, yaitu
menyekutukan Allah dengan makhluk lain. Hal ini terkandung di dalam ayat 13
Q.S. Luqman. Luqman menjelaskan kepada anaknya bahwa berbuat syirik atau
musyrik merupakan kedzoliman yang sangat besar kepada Allah. Mengapa hal ini
terjadi? karena syirik adalah meletakkan sesuatu di tempat yang salah.[10]
Menurut Kitab Tafsir Al
Misbah karya Quraish Shihab, pelan-pelan kita
sebagai orang tua mengenalkan siapa itu Tuhan, siapa itu Nabi, dan rukun-rukun
dalam Islam. Kita harus bisa memberikan sedikit materi kepada seorang anak
mengenai pendidikan. Sebenarnya pendidikan itu tidak cukup dengan materi saja,
tetapi kita sebagai orang tua harus bisa menjadi contoh kepada seorang anak.
Contohnya, kita memberi materi tentang sholat, apa itu sholat, dan kita harus
bisa mengajak serta memberikan contoh bagaimana tata cara yang sesuai syariat
tentang sholat.[11]
Menurut Ibnu
Katsir, Luqman memberikan wasiat kepada putranya yang paling dia sayangi dan
cintai. Maka dia lebih berhak untuk memberikan kepadanya sesuatu yang paling
utama yang dia ketahui. Oleh karenanya, dia berwasiat kepada putranya yang
pertama adalah untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan Nya dengan sesuatu
apapun. Selanjutkan dia memperingatkan kepadanya bahwa syirik adalah benar
benar kezhaliman yang besar.[12]
Pendidikan Kedua:
Berbakti Kepada
Kedua Orang Tua.
وَوَصَّيْنَا
الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ
وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ
الْمَصِيْرُ
“Kami mewasiatkan kepada
manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam
dua tahun.598) (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan
kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.” (Q.S. Luqman : 14)
Menurut
Wahbah Al Zuhaili, pada ayat ini dijelaskan bahwa Allah SWT
memerintahkan hambanya untuk selalu menghormati kedua orang tuanya. Terutama
kepada ibu yang telah mengandungnya, melahirkannya, menyapihnya, menyusuinya
selama dua tahun dalam keadaan lemah yang kemudian terus meningkat hingga
dibesarkan siang dan malam sampai dewasa. Didalam sebuah Riwayat dijelaskan
bahwa ibu memiliki lebih banyak hak daripada ayah untuk mendapatkan pengabdian
kepada anaknya. Rasulullah SAW menegaskannya tiga kali dan kemudian ayah.
Selanjutnya Allah memerintahkan hamba-Nya agar selalu bersyukur kepada-Nya dan
berterimakasih kepada kedua orang tua.[13]
Menurut Quraish Shihab,
ayat ini menjelaskan bahwasannya kita
sebagai anak yang dilahirkan dari rahim seorang ibu, dari dalam kandungan
sampai titik ini, kita harus berterima kasih kepada seorang ibu yang telah
berjuang habis-habisan merawat kita sejak dalam kandungan. Bahkan perjuangan
seorang ibu saat melahirkan itu tidak main-main, nyawa menjadi taruhannya.
Sebagian kitab ada yang menggambarkan bahwa ketika seorang ibu sedang
melahirkan anak, rasanya seperti tulang-tulang di badan itu dipatah-patahkan.
Belum lagi setelah kita lahir, ibu merawat kita sepenuh hati sampai titik
sekarang. Itu perjuangan seorang ibu.[14]
Menurut al-Maraghi menyatakan bahwa perintah berbakti pada kedua orang tua
diberikan dengan menyebutkan ibu saja karena pihak ibulah yang mengalami
kesulitan yang paling berat, yaitu mengandung anak hingga melahirkan dan
merawatnya siang dan malam. Al Maraghi juga mengatakan bahwa Rasulullah Saw
pernah didatangi oleh sahabatnya dan bertanya tentang siapakah yang paling
berhak untuk dihormati dan berbakti kepadanya. Rasulullah Saw menjawab,
"pertama Ibu, kedua Ibu, ketiga Ibu, dan keempat Ayah." Setelah Allah
memutuskan untuk senantiasa menghormati dan menghormati kedua orang tuanya
dengan memenuhi segala haknya, Lalu Allah mengecualikan dari hal-hal tersebut
apabila keduanya mengajak untuk melakukan hal-hal yang membuat Allah murka.[15]
Menurut Ibnu Katsir, dalam
ayat ini Allah menyebutkan kepayahan seorang ibu dalam memperjuangkan anaknya,
mulai dari mengandung selama sembilan bulan, pertaruhan nyawa ketika
melahirkan, kerepotannya dalam mengasuh dan menyusui, kemudian setelah itu masih
harus menyapih anaknya setelah dua tahun. Bahkan, seorang ibu masih harus
berjuag mendidik dan merawat anaknya hingga dewasa dan seterusnya. Allah
menyebutkan semua hal itu pada firman Nya supaya para anak itu mengingat jasa
setiap ibunya dan senantiasa berbakti kepadanya.[16]
Pendidikan Ketiga:
Menanamkan Bahwa Setiap
Perkara Pasti Ada Balasannya.
يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ
خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ
بِهَا اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ
“(Luqman
berkata,) “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji
sawi dan berada dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan
menghadirkannya (untuk diberi balasan). Sesungguhnya Allah Maha Lembut599) lagi
Maha Teliti.” (Q.S. Luqman : 16)
Menurut Wahbah Al Zuhaili, pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa selama hidup didunia
sekalipun sebesar biji sawi maka Allah akan tetap membalasnya nanti di akhirat.
Pengetahuan Allah SWT meliputi segala sesuatu yang sangat tersembunyi
sekalipun, sehingga tidak ada yang tersembunyi dari-Nya dan berada di luar
pemahaman-Nya, sekecil, selembut, dan sesederhana apapun itu. Allah SWT Maha
Mengetahui segala hal yang ghaib dan yang tampak serta memahami semua amal
perbuatan hamha-hamba-Nya untuk mendapatkan imbalan yang seharusnya mereka
dapatkan pada hari kiamat.[17]
Quraish Shihab berpendapat, ayat ini
mengajarkan kepada seluruh orang tua untuk menasihati anaknya dengan lembut
supaya mereka lebih patuh. Kita boleh saja
mendidik anak dengan cara mengajak anak melakukan amalan-amalan baik yang bisa
mendorong anak tersebut menjadi anak yang mengerti tentang agama, seperti
belajar mengaji kepada bapak atau ibunya. Sedikit demi sedikit kita beri dia
motivasi dan semangat terlebih dahulu. Ketika anak mulai nyaman dengan mengaji
tersebut, barulah kita tanamkan dan menasihati kepada anak bahwa utamakan jujur
walaupun pahit untuk diucapkan. Dan jelaskan kepada anak bahwa Allah itu tidak
seperti manusia, melainkan Dzat Yang Maha Kuasa. Meskipun seseorang menutupi
kebohongan, Allah tetap mengetahui segala sesuatu, sekecil apapun perbuatan
itu.[18]
Al Maraghi menjelaskan bahwa segala amal baik dan buruk
walaupun hanya sebesar biji sawi, lalu tersembunyi sekalipun bahkan tidak
terlihat didalam bumi, maka sesungguhnya akan terlihat oleh Allah SWT. Kelak di
hari kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Halus akan semua pengetahuan-Nya sekalipun
hal-hal yang tidak terlihat, lagi maha waspada, Dia mengetahui perbuatan yang
terlihat maupun tidak.[19]
Menurut
Ibnu Katsir, Allah akan mendatangkannya (perbuatan sebesar biji sawi) pada hari
kiamat dan Allah meletakkan timbangan yang adil, kemudia membalasnya dengan
sesuatu yang adil. Jika baik maka akan baik pula balasannya dan jika buruk maka
akan buruk pula balasnya.[20]
Sesuai dengan dalil Allah pada surat lain:
فَمَنْ
يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
شَرًّا يَّرَهٗ ࣖ
“Siapa yang mengerjakan
kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan
kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (Q.S. Al Zalzalah :
7-8)
Sekalipun
biji sawi itu terhalangi atau tertutup oleh batu yang pekat dan tidak terlihat
diruang langit dan bumi, maka sungguh Allah akan tetap mendatangkannya.
Pendidikan Keempat:
Mengajarkan Shalat, Beramar
Ma’ruf dan Senantiasa Bersabar.
يٰبُنَيَّ
اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ
عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ
“Wahai anakku, tegakkanlah
salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari
yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang
demikian itu termasuk urusan yang (harus) diutamakan.” (Q.S. Luqman : 17)
Wahbah
Al Zuhaili menjelaskan pada ayat ini, Luqman memberikan nasihat
kepada anaknya untuk melaksanakan perbuatan baik sebagai bentuk dari tauhid,
khususnya dengan menegakkan sholat, karena sholat dianggap sebagai ibadah dan
pondasi agama begitupun cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu,
Luqman juga memerintahkan untuk melakukan amar ma’ruf, yaitu mendorong diri
sendiri dan orang lain untuk melakukan kebaikan yang sesuai dengan ajaran agama
dan akal sehat, seperti perilaku baik dan adab yang terpuji. Disisi lain, nahi
mungkar berarti menghindarkan diri dan orang lain dari segala bentuk dosa dan
perbuatan yang dilarang oleh agama.
Dalam melaksanakan perintah tersebut,
seseorang juga diharuskan untuk bersikap sabar dan tabah dalam menghadapi
berbagai rintangan dan gangguan, terutama karena pelaksanaan amar ma’ruf nahi
mungkar seringkali menimbulkan kesulitan. Oleh karena itu, pesan Luqman diawali
dengan perintah untuk menegakkan shalat sebagai landasan iman dan diakhiri
dengan anjuran untuk sabar sebagai dasar kekuatan dalam menjalankan ketaatan
kepada Allah SWT.[21]
Quraish Shihab menjelaskan bahwa kita sebagai orang tua harus berusaha mendidik anak agar
menjadi pribadi yang disiplin dan lebih paham tentang agama. Salah satu cara
yang bisa ditempuh adalah memberikan fasilitas pendidikan yang memiliki
lingkungan santri, atau istilahnya mondok di pondok pesantren. Sebab ketika
orang tua ingin anaknya mempunyai agama yang kuat, disiplin dalam segala hal,
dan mampu bergaul dengan baik terhadap siapa pun, maka alangkah baiknya anak
tersebut dimondokkan. Lingkungan pondok pesantren, insyaallah, memiliki suasana
yang baik dan orang-orang yang terbiasa dengan kegiatan ibadah serta akhlak
yang terjaga.[22]
Dalam Kitab Tafsir Al Maraghi
tertulis bahwasannya dalam Ayat 17, memiliki arti "Hai anakku,
laksanakanlah sholat dengan benar sesuai dengan cara yang diajarkan dalam agama
Islam." Karena sholat mengandung keridhaan-Nya, sehingga orang yang melakukannya
tunduk dan mengabdi kepada Tuhannya. Tidak hanya Selain itu, sholat memiliki
keuntungan tambahan, yaitu melindungi seseorang dari perbuatan jahat dan buruk.
Orang yang melakukannya dengan benar akan memiliki jiwa yang bersih dan
berserah diri kepada Allah dalam keadaan bahagia atau sedih. Setelah Luqman
menasihati anaknya untuk memperbaiki dirinya untuk memenuhi perintah Tuhannya,
kemudian ia memerintahkan anaknya agar memenuhi haknya terhadap orang lain.
Karena dua hal itu adalah cara untuk mendapatkan ridha Allah SWT, amanah ini
dimulai dengan perintah untuk melakukan sholat dan diakhiri dengan nasihat
untuk sabar.[23]
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini
menjelaskan bahwa mengajarkan anak shalat itu beserta dengan batasan batasannya
dan waktu waktunya. Setelah itu Allah juga memerintahkan untuk berdakwah (amar
ma’ruf nahi munkar), dalam ayat ini juga dijelaskan bahwasannya dakwah itu
tidaklah mudah karena pasti akan mendapatkan gangguan dan halangan dari manusia
lain maka dari itu Allah juga memerintahkan untuk bersabar, dan itu adalah
perkara yang wajib.[24]
Pendidikan Kelima:
Memperingatkan Untuk Tidak
Sombong dan Mengajarkan Adab Ketika Berbicara.
وَلَا
تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ
لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ
وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ
صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ ࣖ
“Janganlah memalingkan
wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan
angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat
membanggakan diri. Berlakulah wajar dalam berjalan600) dan
lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Q.S. Luqman : 18-19)
Menurut
dari Kitab Tafsir Al Munir, ayat ini mengandung arti perintah untuk
menjadi orang yang tawadhu’, sopan, rendah hati dan menunjukkan wajah yang
ceria dengan penuh rasa persahabatan dan kekeluargaan. Allah juga membenci
setiap orang yang bersikap merasa dirinya lebih baik daripada orang lain, serta
merendahkan orang lain. Kemudian dijelaskan bahwa seseorang berjalan dengan
cara yang biasa, seimbang dan wajar, tidak terlalu lambat dan lemas hingga
terlihat lemah dan tak berdaya karena berusaha tampil seperti orang yang zuhud,
dan tidak pula terlalu cepat hingga berlebihan, seperti loncatan iblis. Dan
janganlah berbicara dengan berteriak-teriak hingga suara kamu keras untuk
hal-hal yang tidak berguna, tetapi rendahkanlah suaramu. Karena sebenarnya
suara yang terlalu keras, gaduh, dan teriak-teriak dapat mengganggu telinga,
menunjukkan sikap sombong, menonjolkan diri dan tidak memperhatikan orang lain.
Berbicara dengan nada yang normal dan tenang membuat seseorang lebih dihormati,
dan kata-katanya lebih mudah dipahami dan ditangkap.[25]
Al Maraghi mengatakan bahwa Luqman tidak hanya memberi nasihat yang
disebutkan di atas kepada anak-anaknya, tetapi juga memberi nasihat lain,
seperti yang disebutkan dalam ayat berikutnya dari surat Luqman 18 hingga 19,
di antaranya adalah:
1.
Saat berbicara dengan seseorang, jangan
memalingkan wajah; melakukannya dapat dianggap sombong. Sebaliknya, hadapilah
mereka dengan wajah yang ceria.
2.
Dan larangan berjalan dengan
angkug dan sombong terhadap diri sendiri. Karena hal itu termasuk jalannya
orang-orang yang sombong dan angkara murka, yaitu orang-orang yang senang
melakukan kekejian di bumi dan melakukan kedzaliman kepada orang lain. Sementara
berjalan dengan sederhana berarti mencerminkan jalannya orang yang rendah diri.
Kemudian lukman menjelaskan illat dari larangannya itu. Sesunggshnys Allah
tidak suka terhadap orang yang angkuh atau menyombongkan diri dan bersikap
sombong terhadap orang lain.
3.
Dan berjalanlah dengan
langkah yang baik dan sederhana tanpa tergesa-gesa
4.
Janganlah mengeraskan suaramu
ketika berbicara dan jika tidak dibutuhkan. Karena sesungguhnya perilaku
seperti ini lebih berwibawa dan lebih nyaman diterima oleh orang lain.
Pada terusan ayat ini, Luqman
menjelaskan bahwa suara yang dikeraskan melebihi tanpa alasan adalah
seburuk-buruknya suara keledai, sehingga ungkapan ini jelas mengandung hinaan
bagi mereka yang mengeraskan suaranya melebihi apa yang dibutuhkan, dan untuk
membenci tindakan tersebut. Sementara ugkapan bagi mereka yang mengeraskan
suara yang diibaratkan dengan suara keledai, mengandung pemberitahuan yang
penting untuk menanamkan rasa menolak dari perbuatan tersebut, karena Allah
sungguh sangat membencinya. Itu adalah cara Allah mengajarkan umatnya. untuk
tidak berbicara terlalu keras di depan orang lain atau untuk sepenuhnya
berhenti melakukan hal ini.[26]
Ibnu
Katsir menuturkan perkataan Ali bin Abi Thalhah tentang firman Allah pada ayat
ini “Janganlah kamu berlaku sombong karena kamu akan meremehkan hamba Allah dan
kamu akan memalingkan wajahmu dari mereka apabila mereka berbicara kepadamu.”
Sesungguhnya Allah sangat membenci hamba Nya yang berlaku sombong dan angkuh.
Selanjutnya beliau menuturkan maksud dari “sederhanakanlah jalanmu” adalah
dengan berjalan sewajarnya, tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat.
Terakhir menjelaskan tentang larangan untuk tinggi dalam berbicara dan
meninggikan suara. Dalam hal ini, Allah menyerupakan orang yang seperti itu
dengan seburuk buruk penyerupaan, yaitu keledai. Keledai selalu meninggikan
suaranya namun tidak ada isi dari suara tersebut.[27]
Analisis Kebahasaan Q.S Luqman : 13.
|
Ayat |
Kaidah Kebahasaan |
Lafadz |
|
13 |
Berasal dari kata wa’azha
yaizhuhu ‘izhatan wa mau’izhatan yang artinya adalah mengingatkan
seseorang terhadap suatu perkara yang akan melembutkan hatinya dengan cara
menyebutkan pahala dan hukuman. Mau’izhah adalah nasihat yang disertai
dengan at-targhib (motivasi) dan at-tarhib (ancaman). Mau’izhah
menjadi aspek yang penting dalam menyampaikan sesuatu pada anak atau
orang lain. |
يَعِظُه |
|
13 |
Pemilihan kata “yaa bunayya” yang digunakan oleh
Luqman saat memanggil anaknya merupakan bentuk tasyghir (diminutif)
yang memiliki makna belas kasih dan rasa kasih sayang yang mendalam.
Panggilan seperti ini mencerminkan rasa kasih sayang yang mendalam dan tulus
dari seorang ayah kepada anaknya, yang bertujuan untuk melembutkan hati si
anak sehingga mudah untuk mengikuti dan mentaati perintah atau nasihat yang
diberikan. |
يٰبُنَيَّ |
Analisis Kebahasaan Q.S Luqman : 14.
|
Ayat |
Kaidah Kebahasaan |
Lafadz |
|
14 |
Penggunaan redaksi kata perintah
dengan menggunakan kata “wawashshaina” yang berarti wasiat menunjukkan
bahwasannya perkara yang disampaikan setelahnya adalah suatu hal yang
penting. Dimana kedudukan wasiat dalam islam sangatlah utama dan hukumnya
wajib untuk ditunaikan bilamana hal yang diperintahkan merupakan hal yang
baik. |
وَوَصَّيْنَا |
|
14 |
Kalimat اَنِ اشْكُرْ لِيْ digunakan ubtuk
menjelaskan sebab wasiat atau kewajiban untuk melaksanakannya. Kemudian untuk
patuh kepada-Nya dan menghormati kepada kedua orangtua bahwa semuanya pasti
akan kembali menghadap Allah. Lalu Dia akan memberikan balasan nanti di
akhirat bagi yang telah dilakukan. |
اَنِ اشْكُرْ لِيْ |
Analisis Kebahasaan Q.S Luqman : 16.
|
Ayat |
Kaidah Kebahasaan |
Lafadz |
|
16 |
Pada kalimat فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَ bertujuan untuk
menekankan penguatan dalam memberikan arti dan pemahaman bahwa sekecil
apapun dan tersembunyi dimanapun suatu
amal, kelak pasti akan diperlihatkan. Sesungguhnya Allah SWT sangat lembut
ilmu-Nya. Pengetahuan Allah SWT meliputi segala sesuatu yang sangat
tersembunyi sekalipun, sehingga tidak ada yang tersembunyi dari-Nya dan
berada di luar pemahaman-Nya. |
فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ |
Analisis Kebahasaan Q.S Luqman : 17.
|
Ayat |
Kaidah Kebahasaan |
Lafadz |
|
17 |
fi’il amr kata “aqim” ini
menunjukkan nasihat praktis (amaliyah), bukan sekadar teori. Menggambarkan
bahwa selain memerintahkan untuk shalat, Luqman juga mencontohkannya. |
اَقِمِ |
|
17 |
Kata sambung “wa” itu
menunjukkan urutan tentang hal mana yang lebih utama untuk diajarkan terlebih
dahulu, mulai dari shalat, mengingatkan seseorang kepada kebaikan, mencegah
seseornag melakukan kemungkaran dan terakhir untuk berlatih sabar. |
وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ
الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ |
Analisis Kebahasaan Q.S Luqman : 18-19.
|
Ayat |
Kaidah Kebahasaan |
Lafadz |
|
18 |
Pada kalimat وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ
اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْر masih sama pada kalimat pertama yaitu dilarang untuk melangkah diatas
muka bumi dengan sikap pamer, penuh keangkuhan, atau sombong, karena tingkah
laku seperti itu tidak disukai oleh Allah. Allah juga membenci setiap orang
yang bersikap merasa dirinya lebih baik daripada orang lain, serta
merendahkan orang lain. Kalimat فَخُوْرٍۚ artinya Adalah seseorang yang selalu
memperhitungkan apa yang diterima, merasa bangga dengan napa yang
dimilikinya, dan tidak berterimakasih kepada Allah. |
وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ |
Implementasi Ayat.
Ayat 13 : Ayat ini menjadi poin yang sangat
penting dalam pendidikan anak, dimana dijelaskan kepada anak bahwasannya Allah
memiliki hak atas diri seorang hamba yaitu berupa tidak berbuat syirik kepada
Nya. Ayat ini juga mengingatkan kepada kita bahwasannya manusia adalah makhluk
yang lemah. Selamanya kita tidak melakukan apapun kecuali dengan izin dan
bantuan Allah. Setiap dari kita hidup di dunia ini memiliki tujuan, tugas dan
fungsi yang melekat secara otomatis. Tujuan kita hidup adalah untuk mencari dan
menggapai keridhaan Sang Penciptanya dan menjauhi kemurkaan Nya.
Pada ayat ini juga
memberikan contoh bagaimana hal yang seharusnya kita lakukan ketika hendak menasihati
orang lain terutama anak anak. Luqman tidak memaksa anaknya untuk menyembah
Allah dan tidak menyekutukan Nya. Namun Luqman menasihati nya dengan lembut dan
bijaksana, serta pasti disertai dengan memberikan contoh yang baik. Selain itu
pada nasihatnya, Luqman menyertakan sebab akibat terhadap sebuah perkaran yang
dilakukan dan ini yang penting. Luqman tau persis bahaya dari dosa syirik,
dimana semua dosa akan diampuni oleh Allah kecuali syirik. Oleh dari itu, kita
dapan mencontoh bahwasannya hal pertama yang harus disampaikan kepada anak
adalah tentang hak hak Allah.[28]
Ayat 14 : Dalam al-Quran, Allah selalu
mengiringi ayat yang mengandung perintah menyembah kepada Nya dengan ayat yang
mengandung perintah untuk berbakti kepada orangtua. Hal ini menunjukkan tentang
urgensi berbakti kepada orangtua dengan menyembah Allah. Sesuai dengan hadist
Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ
فِي سَخَطُ اَلْوَالِدَيْنِ
“Ridha
Allah bergantung pada ridha orang tua dan murka Allah bergantung pada murka
orang tua.” (HR Tirmidzi no. 1899)
Diantara hikmah yang terdapat pada
ayat ini adalah mengingatkan kita bahwa anak pertama kali berguru adalah kepada
kedua orangtuanya, sehingga adanya penekanan pada sisi birrul walidain itu
diharapkan si anak untuk selalu taat dan patuh kepada keduanya selama kedua
orangtuanya memerintahkan hal hal yang baik. Sedalam dalamnya kewajiban untuk
berbakti kepada orangtua, hal itu tetap mempunyai batasan. Akan menjadi sebuah
ujian ketika berada pada kondisi dimana seorang hamba dengan keadaan seorang
anak yang taat dan sholih akan tetapi salah satu atau kedua orangtuanya justru
sebaliknya. Sebagaimana yang tergambar dalam firman Allah:
وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ
بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا
ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ
فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
“Jika
keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak
punya ilmu tentang itu, janganlah patuhi keduanya, (tetapi) pergaulilah
keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.
Kemudian, hanya kepada-Ku kamu kembali, lalu Aku beri tahukan kepadamu apa yang
biasa kamu kerjakan.” (Q.S. Luqman : 15).
Dari ayat di atas menunjukkan bahwa
kewajiban berbakti kepada kedua orangtua adalah sebuah hal yang mutlak, namun
hanya pada perkara yang ma’ruf saja. Adapun terhadap perkara yang munkar
apalagi perkara yang membahayakan aqidah, maka seorang anak dilarang
mentaatinya.
لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
"Tidak ada ketaatan kepada
makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Khaliq (Allah)." (HR. Ahmad,
Ath-Thabrani)
Ayat 16 : Kehidupan manusia selalu dihadapkan oleh beberapa
pilihan-pilihan, namun manusia juga diberi kemampuan untuk memilah dan memilih
mana yang terbaik. Kemampuan untuk memilih yang baik dan benar bukanlah sebuah
perkara yang mudah, terlebih ketika ada konsekuensi atau hukuman dari perkara
tersebut tentu hal itu akan semakin berat, begitu pula pilihan yang berkaitan
dengan masa depan anak. Ayat ini menerangkan bilamana hukum kausalitas (sebab
akibat) itu sangat penting diajarkan kepada anak sejak dini. Hal itu menjadi
bekal pertimbangan dalam memilih ucapan dan tindakannya ketika memasuki fase
dewasa, dimana seorang anak telah membawa beban kewajiban nya masing masing dan
selanjutnya dia akan diminya pertanggungjawaban atas apapun yang telah
dilakukannya di dunia maupun di akhirat kelak.
Anak diajarkan untuk paham bahwasannya manusia harus melaksanakan
kewajiban dengan baik dan teratur, karena nereka menyadari jika apapun yang
mereka lakukan akan berdampak kepada diri mereka sendiri. Kita harus
menyadarkan kepada anak bahwa kewajiban adalah sebuah kebutuhan demi
kesejahteraan dan perkembangan pribadi mereka. Ini juga secara tidak langsung
akan menjelaskan kepada anak bahwasannya selain kita mempunyai kewajiban kepada
sesama makhluk kita juga mempunyai kewajiban kepada Allah, sehingga anak akan
tumbuh dengan pemahaman, pikiran dan prinsip beragama yang baik.[29]
Ayat 17 : Kita ketahui bahwa shalat memiliki kedudukan yang sangat
penting dalam Islam, dimana shalat adalah tiang agama dari Islam itu sendiri.
Bilamana sebuah tiang itu rusak atau rapuh maka bangunan diatasnya akan roboh.
Namun, disini ada sebuah hal yang unik. Luqman tidak menyampaikan nasihat
shalat pada urutan pertama tapi nasihat shalat datang setelah nasihat syirik,
berbakti kepada orang tua dan hukum sebab akibat disampaikan. Banyak kita
menjumpai di luar sana anak anak yang dia dipaksa untuk melaksanakan shalat
tapi perilaku dari keseharian nya jauh dari yang diajarkan islam, dia
membangkang orang yang lebih tua ataupun orangtuanya sendiri. Hal ini justru
memperlihatkan adanya ketimpangan antara adab kepada Allah dengan adab kepada
sesama manusia. Hal ini terjadi karena adanya hal penting yang terlewatkan.
Selanjutnya perintah dakwah menjadi sarana untuk
menanamkan rasa kasih sayang dan peduli kepada sesama. Ditambah lagi beramar
ma’ruf nahi munkar bagi manusia adalah bentuk perwujudan dari fungsi khalifatul
fil ardi yang harus menjaga keseimbangan, kedamaian, kesejahteraan dan
melestarikan hubungan manusia dengan alam semesta sesuai dengan harmoni Ilahi
rabbi.
كُنْتُمْ
خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ
لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan
untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang
mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu
lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka
adalah orang-orang fasik.” (Q.S. Al-Imran : 110)
Ayat 18-19 : Ayat tersebut mengandung dua larangan
dan dua perintah, yakni: larangan untuk mengalihkan pandangan dari seseorang
yang berbicara dengannya, dan larangan untuk berjalan di muka bumi dengan
sombong. Allah SWT tidak menyukai sikap sombong, baik itu termanifestasi dalam
tindakan maupun kata-kata. Perintah berjalan dengan langkah yang rendah hati
dan menurunkan volume suara saat berbicara. Langkah yang rendah hati mengacu
pada cara berjalan yang tidak terlalu cepat atau terlalu lambat, tetapi alami.
Menurunkan volume suara berarti berbicara dengan suara yang lembut dan menjaga
pembicaraan agar tidak berlebihan. Dengan sikap seperti ini, seseorang akan
lebih dihormati dan dipahami oleh pendengar, serta pesan yang disampaikan akan
lebih mudah dipahami.
Hal ini juga mengajarkan supaya kita tidak meremehkan siapapun dan
bagaimanapun keadaannya. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad:
عَنْ
أَبِيْ ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم :
“لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئاً، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ
بِوَجْهٍ طَلْقٍ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.
Dari Abu Dzarr Radhiyallāhu ‘anhu ia
berkata: Rasūlullāh Shallallāhu Alayhi Wasallam bersabda: “Janganlah kamu
meremehkan kebaikan apapun, meskipun kau bertemu dengan saudaramu dengan wajah
berseri-seri.” (HR. Muslim)
Dikuatkan juga dengan perkataan dari Syeikh An Nawawi al-Bantani dalam
kitabnya “An-Nashaih Al-Ibad”, beliau mengatakan:
وعن على
رضى
االله عنه كن عند االله خير الناس وكن عند النفس شر الناس
وكن عند الناس رجلا من الناس
Dari Ali Radhiyallāhu ‘anhu ia berkata: “Jadilah
engkaku orang yang paling baik dalam pandangan Allah, dan jadilah engkau orang
yang paling hina dalam pandanganmu sendiri, dan jadilah engkau orang yang
sewajarnya dalam pandangan orang lain.”[30]
KESIMPULAN
Berdasarkan
dari penjelasan di atas pada akhirnya kita dapat menemukan role model yang
sesuai dengan agama dan tidak bertolak belakang dengan sosial yang ada pada
masyarakat. Luqmanul Hakim telah memberikan contoh yang sempurna bagi
pendidikan, terutama pendidikan anak. Penulis menyimpulkan beberapa pelajaran
yang dapat diambil dari Luqmanul Hakim, diantaranya sebagai berikut:
1.
Menanamkan tauhid
dan aqidah kepada anak.
Pelajaran pertama
yang diberikan Luqman kepada anaknya bukanlah shalat, puasa ataupun ibadah
lainnya. Namun Luqman menanamkan terlebih dahulu kepada anaknya rasa bahwa
Allah adalah Rabb. Tauhid adalah landasan utama bagi setiap manusia sebelum
mendapatkan tambahan ilmu ilmu lainnya. Hal itu terjadi karena tauhid adalah
alasan terbentuknya keyakinan, akhlak dan ibadah seorang anak. Luqman
mengawalinya dengan nasihat larangan syirik kepada anaknya.
2.
Menanamkan sikap
berbakti kepada orangtua.
Berbakti kepada orangtua adalah akhlah utama yang wajib
dimiliki oleh seorang anak. Luqman mengatakan kepada anaknya untuk berbakti
kepada orangtua terutama ibu, hal itu sesuai dengan hadist nabi yang harus
mendahulukan ibu, ibu, ibu baru kemudian ayah. Pendidikan ini bertujuan untuk
menumbuhkan rasa syukur, rasa hormat dan rasa kasih sayang pada diri anak.
3. Menanamkan nilai
pada anak bahwa segala perbuatan pasti akan mendapat pertanggungjawaban.
Luqman menasihatkan
kepada anaknya bahwa sekecil apapun amalan tidak akan pernah luput dari
penglihatan Allah, baik itu amalan baik ataupun amalan buruk. Sehingga segala
apa yang dilakukan pasti akan ada konsekuensinya. Pendidikan ini mengajarkan
kepada anak untuk memiliki rasa tanggungjawab atas apa yang telah diperbuat.
4.
Menanamkan pada
anak untuk senantiasa ibadah, amar ma’ruf, nahi munkar dan bersabar dalam
dakwah.
Setelah
menasihatkan kepada anaknnya beberapa perkara penting barulah luqman setelahnya
menasihatkan perihal ibadah. Perintah ibadah muncul setelah beberapa perkara di
atas menunjukkan bahwa Luqman lebih dahulu membentuk karakter pada anak, karena
jika karakter seorang anak itu sudah terbentuk maka dengan sendirinya akan
muncul kesadaran terhadap ibadahnya sendiri ataupun perkara lainnya.
5.
Membentuk karakter
anak yang berkhlak mulia dan mempunyai etika sosial yang tinggi.
Luqman tidak lupa untuk mengajarkan juga satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam kehidupan, yaitu etika dan akhlak yang baik. Kedua hal ini sangat diperlukan dalam menjalani hidup ini. Sebagaimana diketahui bahwa manusia adalah makhluk sosial maka dari itu setiap anak harus dibekali tentang etika sosial yang tinggi dan akhlak yang mulia agar kedepannya anak tersebut bisa tumnuh dan hidup sebagai manusia yang berkualitas.
[1]
Susan Noor Farida, ‘Hadis-Hadis Tentang Pendidikan ( Suatu Telaah Tentang
Pentingnya Pendidikan Anak )’, 1.September (2016), pp. 35–42.
[2]
Lasmauli Gurning, ‘Pengaruh Pendidikan Keluarga Terhadap Masa Depan Anak’,
6 (2023), pp. 118–30.
[3]
Riesta Rahmadian and others, ‘Pendidikan Anak Dalam Keluarga’, 8.1 (2022),
pp. 53–63.
[4]
‘Terjemahan Ihya Ulumuddin Jilid 1.Pdf’.
[5]
Karanganyar Paiton Probolinggo, ‘Pendidikan Anak Dalam Keluarga; Telaah
Epistemologis’, 3.2 (2016), pp. 96–107.
[6]
Hilyatul Aulia and Jayanti Suryaningsih, ‘Pentingnya Peran Orang Tua Dalam
Pendidikan Anak’, 2.6 (2024), pp. 1906–11.
[7]
Ahmad Mujib and others, ‘Konsep Pendidikan Anak Perspektif Luqmanul
Hakim’, 8.3 (2024).
[8]
Arif Rahman Hakim and others, Tejemahan
Tafsir Ibnu Katsir (Penerbit Insan Kamil Solo, 2021).
[9]
Prof Wahbah, ‘Tafsir Al-Munir’.
[10] Fauziyah Mujayyanah, Bennny
Prasetiya, and Nur Khosiah, ‘Konsep Pendidikan Akhlak Luqmanul Hakim’, 6.1
(2021), pp. 44–51.
[11]
Nurin Fitria, ‘Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Surah Luqman Ayat
12-19’, 19 (2022).
[12]
Hakim and others, Tejemahan Tafsir
Ibnu Katsir.
[13]
Wahbah, ‘Tafsir Al-Munir’.
[14]
Fitria, ‘Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Surah Luqman Ayat 12-19’.
[15]
Mujayyanah, Prasetiya, and Khosiah, ‘Konsep Pendidikan Akhlak Luqmanul
Hakim’.
[16]
Hakim and others, Tejemahan Tafsir
Ibnu Katsir.
[17]
Wahbah, ‘Tafsir Al-Munir’.
[18]
Fitria, ‘Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Surah Luqman Ayat 12-19’.
[19]
Mujayyanah, Prasetiya, and Khosiah, ‘Konsep Pendidikan Akhlak Luqmanul
Hakim’.
[20]
Hakim and others, Tejemahan Tafsir
Ibnu Katsir.
[21] Wahbah, ‘Tafsir Al-Munir’.
[22]
Fitria, ‘Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Surah Luqman Ayat 12-19’.
[23]
Mujayyanah, Prasetiya, and Khosiah, ‘Konsep Pendidikan Akhlak Luqmanul
Hakim’.
[24]
Hakim and others, Tejemahan Tafsir
Ibnu Katsir.
[25] Wahbah, ‘Tafsir Al-Munir’.
[26] Mujayyanah, Prasetiya, and
Khosiah, ‘Konsep Pendidikan Akhlak Luqmanul Hakim’.
[27]
Hakim and others, Tejemahan Tafsir
Ibnu Katsir.
[28]
Mujib and others, ‘Konsep Pendidikan Anak Perspektif Luqmanul Hakim’.
[29]
Mujib and others, ‘Konsep Pendidikan Anak Perspektif Luqmanul Hakim’.
[30]
Syaikh Imam Nawawi Al-bantani, Hasna Nurlaela, and Udin Juhrodin,
‘Terjemah Nashaihul ’Ibad: Nasihat-Nasihat Bagi Sang Hamba’.
Dhabit Ramadhito (241111044)
Nabillah Alyawati (241111063)
Adittia Nurohman (241111065)
Rohmah Nur Husaini (241111059)

Komentar
Posting Komentar