Penafsiran Qur’an Surat An-Nur Ayat 39-40: Bentuk Gambaran Perumpamaan Amal Perbuatan Orang-Orang Kafir.
Surat An-Nur ayat 39-40 menghadirkan
dua perumpamaan yang mendalam tentang amal dan kondisi batin orang-orang kafir.
Pertama, amal mereka diumpamakan seperti fatamorgana di padang pasir: tampak menjanjikan
dari kejauhan, tetapi kosong ketika didekati. Hal ini menggambarkan betapa amal
yang tidak didasari iman dan ketulusan akan berakhir sia-sia meskipun secara
lahiriah terlihat besar. Kedua, kekufuran mereka digambarkan bagaikan kegelapan
berlapis di dasar lautan, yang membuat seseorang bahkan tidak mampu melihat
tangannya sendiri. Perumpamaan ini mempertegas keadaan batin yang terjerumus
dalam kesesatan tanpa cahaya hidayah.
Makna yang terkandung dalam ayat ini
tidak hanya berkaitan dengan nasib akhirat orang kafir, tetapi juga menjadi
cermin bagi umat manusia dalam menilai niat, kualitas amal, serta kondisi
spiritual mereka dalam kehidupan sehari-hari. Amal yang hanya mengejar pujian
sosial atau kepentingan dunia semata, pada hakikatnya dapat berakhir sia-sia
layaknya fatamorgana. Demikian pula, hati yang jauh dari nilai-nilai ketauhidan
akan mudah terjebak dalam kegelapan moral, kebingungan hidup, dan kehilangan
arah. Oleh karena itu, ayat ini memberikan peringatan agar manusia senantiasa
meluruskan niat dan menjaga hubungan dengan Allah agar amalnya bernilai dan
hidupnya diterangi cahaya hidayah.
Dalam konteks kehidupan modern,
perumpamaan ini tetap relevan untuk menilai berbagai fenomena sosial. Di era
media digital, misalnya, banyak amal atau kebaikan yang dipamerkan demi citra
dan popularitas, namun kehilangan esensi keikhlasan. Fenomena fatamorgana
amal ini sejalan dengan gambaran ayat 39. Sementara itu, derasnya arus
informasi, hedonisme, dan krisis moral sering menyeret manusia ke dalam
“kegelapan berlapis” sebagaimana disebut dalam ayat 40. Tanpa cahaya petunjuk
Allah, manusia modern akan mudah tersesat dalam gaya hidup yang semu. Oleh
karena itu, kajian terhadap ayat ini melalui pendekatan tafsir klasik dan
analisis kebahasaan sangat penting, agar pesan-pesan Qur’ani dapat dipahami
secara kontekstual dan memberi arah bagi kehidupan umat Islam masa kini.
Tidak lupa,
tulisan ini memiliki tujuan untuk menelaah kandungan makna dalam Q.S. An-Nur
ayat 39-40 dengan memberikan perhatian pada relevansinya terhadap keadaan
spiritual manusia, baik pada masa klasik maupun dalam kehidupan modern. Selain
itu, tulisan ini juga berupaya menghadirkan pemahaman yang lebih luas mengenai
urgensi niat yang lurus, keikhlasan, serta cahaya hidayah Allah sebagai penentu
nilai amal dan arah perjalanan hidup seseorang.
Surat
An-Nur Ayat 39-40
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ
كَسَرَابٍۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءَهٗ
لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا وَّوَجَدَ اللّٰهَ عِنْدَهٗ فَوَفّٰىهُ حِسَابَهٗ ۗ
وَاللّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ۙ(39)
“Orang-orang yang kufur, amal perbuatan mereka seperti
fatamorgana di tanah yang datar. Orang-orang yang dahaga menyangkanya air,
hingga apabila ia mendatanginya, ia tidak menjumpai apa pun. (Sebaliknya,) ia
mendapati (ketetapan) Allah (baginya) di sana, lalu Dia memberikan kepadanya perhitungan
(amal-amal) dengan sempurna. Allah sangat cepat perhitungan-Nya).[1]”
(An-Nūr
[24]:39)
اَوْ
كَظُلُمٰتٍ فِيْ بَحْرٍ لُّجِّيٍّ يَّغْشٰىهُ مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهٖ مَوْجٌ مِّنْ
فَوْقِهٖ سَحَابٌۗ ظُلُمٰتٌۢ بَعْضُهَا فَوْقَ
بَعْضٍۗ
اِذَآ اَخْرَجَ يَدَهٗ لَمْ يَكَدْ يَرٰىهَاۗ وَمَنْ لَّمْ يَجْعَلِ اللّٰهُ لَهٗ
نُوْرًا فَمَا لَهٗ مِنْ نُّوْر(40)
“Atau, (amal
perbuatan orang-orang yang kufur itu) seperti gelap gulita di lautan yang
dalam, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang yang di atasnya ada awan
gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabila dia mengeluarkan
tangannya, ia benar-benar tidak dapat melihatnya. Siapa yang tidak diberi
cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun.[2]”
(An-Nūr
[24]:40)
Asbab
An-Nuzul Dan Munasabah Surat An-Nur Ayat 39-40
Kedua
ayat ini mempunyai riwayat terkait asbab an-nuzul, yang mana
diriwayatkan bahwa ayat ini turun terkait dengan diri Utbah bin Rabi'ah bin
Umayyah. Beliau merupakan orang yang religius pada masa jahiliyyah,
mengenakan pakaian karung, dan berusaha mencari agama yang benar. Namun ketika
agama Islam sudah mulai masuk, Utbah bin Rabi'ah bin Umayyah menjadi kafir.[3] Akan tetapi cerita tersebut sumbernya tidak sahih atau tidak
tercantum sanad yang kuat. Beberapa kisah yang
menjelaskan bahwa ayat ini turun karena Utbah memakai pakaian karung atau dia
mencari agama yang benar tapi menjadi kafir muncul di situs cerita atau uraian sirah
populer, tapi tidak terdapat dalam kitab hadits shahih atau tafsir mutawatir
dengan sanad yang jelas.[4]
Adapun
riwayat lain seperti halnya yang diriwayatkan oleh Muqatil. Beliau mengatakan, “ayat
ini diturunkan tentang Syaibah bin Rabi'ah bin Abdu Syams ketika menjadi
pendeta, hal yang ini disebabkan karena beliau mencari-cari agama. Ketika dia
keluar tidak lagi menjadi rahib, maka dia pun menjadi kafir.” Kemudian
terdapat riwayat yang dikatakan oleh Adh-Dhahhak, beliau mengatakan. “Ayat ini
diturunkan terkait dengan amal kebaikan orang kafir, yaitu seperti silaturahim
dan menyayangi binatang”. Menurut Imam Qurthubi, keduanya (Utbah bin Rabi'ah
dan Syaibah bin Rabi'ah) mati dalam keadaan kafir. Oleh karena itu, bukan suatu
hal yang mustahil bila mereka atau lainnya, yang merupakan sosok yang dimaksud
oleh ayat ini.[5]
Kedua ayat, 39 dan 40 dari Surat An-Nur, saling berkaitan secara makna
karena keduanya memakai perumpamaan untuk menggambarkan keadaan amal
orang-orang kafir, tetapi dari dua sisi yang saling melengkapi. Perumpamaan
ayat 39 amal mereka seperti fatamorgana di tanah datar menggambarkan bahwa dari
tampilan luar, orang kafir mengira bahwa amalnya akan berguna dan dapat dicapai
pahalanya; namun tatkala mereka sampai di hari pembalasan, mereka tidak
memperoleh apa-apa, meski amal-amal itu telah mereka lakukan. Sementara, ayat
40 memperluas atau menambah gambaran keadaan batin yang lebih kelam bukan hanya
amalnya yang sia-sia, melainkan hati mereka dalam kegelapan berlapis, yaitu
ketiadaan petunjuk, tidak dapat melihat arah, bahkan dalam pikirannya sendiri
analogi laut dalam yang gelap gulita. Dengan demikian, manasabah antara kedua
ayat ini mempertegas bahwa “amal tampak baik di pandangan manusia tetapi
sia-sia di hadapan Allah” tidak hanya berlaku pada amal lahir, tetapi juga pada
kondisi batin dan keimanan: tanpa cahaya iman dan keikhlasan, amal tidak
memiliki manfaat sejati.
Pada kitab tafsir al-Qurthubi terdapat penjelasan dari
seorang tokoh bernama al-Jurjani. Beliau mengatakan, di ayat 39 ini menjelaskan
sebuah perumpamaan terkait amal perbuatan orang kafir, sedangkan ayat 40
menjelaskan sebuah perumpamaan terkait kekufuran mereka. Maka dalam hal ini jika
keduanya digabungkan sangat memiliki keterkaitan, yang mana bentuk perilaku
kekufuran mereka sama halnya dengan bentuk amal perbuatan mereka.[6]
Analisa
Kebahasaan Surat An-Nur Ayat 39-40
Surat An-Nūr ayat 39-40 menghadirkan
gambaran kebahasaan yang sangat kaya melalui penggunaan perumpamaan (tasybīh)
yang mendalam. Dalam ayat 39, Allah menggambarkan amal orang kafir sebagai “كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ” (seperti fatamorgana di tanah datar), yang menurut Ath-Thabari menunjuk
pada kesia-siaan amal mereka karena tidak disertai iman. Kata سَرَابٍ berasal dari akar kata سرب yang berarti “sesuatu yang mengalir atau
tampak bergerak,” sementara قيعة
menunjuk pada hamparan luas yang biasanya menimbulkan
ilusi fatamorgana. Perumpamaan ini diperkuat dengan penggunaan kata الظَّمْاٰنُ (orang yang sangat haus) yang secara
kebahasaan menggambarkan keinginan mendalam yang pada akhirnya berujung pada
kekecewaan, sebab ketika sampai pada sesuatu yangmana itu dikira air ternyata “لم يجده شيئاً” (tidak mendapati apapun).[7]
Selanjutnya, pada ayat 40, Allah
memberikan perumpamaan lain tentang keadaan orang kafir melalui ungkapan “كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ” (bagaikan kegelapan di lautan yang sangat dalam). Menurut Ath-Thabari,
kata لُجِّيٍّ
secara bahasa merujuk pada laut yang dalam dan penuh
ombak, yang digambarkan tertutup oleh gelombang demi gelombang serta awan pekat
di atasnya. Hal ini melahirkan metafora ظلمات بعدها فوق بعد (kegelapan yang berlapis-lapis), yang menunjukkan betapa sesatnya keadaan
orang kafir sehingga “إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا” (bila dia mengeluarkan tangannya, hampir tidak dapat melihatnya).
Ath-Thabari menegaskan bahwa redaksi لَمْ يَكَدْ memberikan efek penekanan hampir
mustahil, bukan sekadar sulit. Penutup ayat ini,
“وَمَن لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِن نُورٍ”, ditegaskan oleh ath-Thabari sebagai isyarat bahwa hidayah adalah cahaya
ilahi yang hanya Allah berikan, dan kata نُورًا yang digunakan dalam bentuk nakirah mengandung makna keagungan dan
keluasan hidayah tersebut.[8]
Dari sisi
kebahasaan, dua ayat ini menampilkan kekuatan retorika al-Qur’an dengan
mengonkretkan makna abstrak seperti kesia-siaan amal, kesesatan, dan hidayah,
ke dalam gambaran visual yang nyata seperti fatamorgana, lautan gelap, dan
cahaya. Analisis ath-Thabari menegaskan bahwa keindahan bahasa al-Qur’an bukan
hanya dalam estetikanya, tetapi juga dalam kekuatan makna yang menyentuh
dimensi teologis dan eksistensial manusia sepanjang zaman.
Berikut i’rab
dari per kalimat pada Q.S. An-Nur
ayat 39-40
|
Lafadz |
I‘rab |
|
وَ |
Wāwu ‘athaf/istinaf |
|
الَّذِينَ |
Isim maushūl, mubtada’ |
|
كَفَرُوا |
Fi‘l māḍī, wāwu fa‘il, jumlah silah maushūl |
|
أَعْمَالُهُمْ |
Mubtada’ tsānī, mudhāf + dhamīr (mudhāf ilayh) |
|
كَسَرَابٍ |
Kaf tasybīh, sarāb: isim majrūr, khabar mubtada’ tsānī |
|
بِقِيعَةٍ |
Jar majrūr (maf‘ūl fīh/zharf makan bagi sarāb) |
|
يَحْسَبُهُ |
Fi‘l mudhāri‘, fa‘il mustatir, hu maf‘ūl bih awwal |
|
الظَّمْآنُ |
Fa‘il dari yahsabuhu |
|
مَاءً |
Maf‘ūl bih tsānī |
|
حَتَّىٰ |
Harf ghāyah |
|
إِذَا |
Zharf syarth |
|
جَاءَهُ |
Fi‘l māḍī + dhamīr maf‘ūl bih |
|
لَمْ يَجِدْهُ |
Lam nāfiyah + jazm, yajid: fi‘l mudhāri‘ majzūm, hu
maf‘ūl bih |
|
شَيْئًا |
Maf‘ūl bih tsānī manshūb |
|
وَوَجَدَ |
Wāwu ‘athaf + fi‘l māḍī |
|
اللَّهَ |
Maf‘ūl bih awwal |
|
عِنْدَهُ |
Zharf makan, maf‘ūl bih tsānī |
|
فَوَفَّاهُ |
Fa’ sababiyyah + fi‘l māḍī, hu maf‘ūl bih awwal |
|
حِسَابَهُ |
Maf‘ūl bih tsānī, mudhāf + dhamīr |
|
وَاللَّهُ |
Wāwu istinafiyyah, mubtada’ |
|
سَرِيعُ الْحِسَابِ |
Khabar mubtada’, mudhāf + mudhāf ilayh |
|
Lafadz |
I‘rab |
|
أَوْ |
Harf ‘athaf, menunjukkan pilihan tasybīh lain |
|
كَظُلُمَاتٍ |
Kaf tasybīh + isim majrūr (menjadi khabar musytaq) |
|
فِي بَحْرٍ |
Jar majrūr, terkait dengan zhulumāt |
|
لُجِّيٍّ |
Na‘t bagi bahr |
|
يَغْشَاهُ |
Fi‘l mudhāri‘, fa‘il mustatir, hu maf‘ūl bih |
|
مَوْجٌ |
Fa‘il dari yaghshāhu |
|
مِّن فَوْقِهِ |
Jar majrūr, shifat bagi mawjun |
|
مَوْجٌ |
Mubtada’ mu’akhkhar atau badal dari mawjun pertama |
|
مِّن فَوْقِهِ سَحَابٌ |
Jar majrūr, sahābun mubtada’ baru |
|
ظُلُمَاتٌ |
Mubtada’ tsānī atau khabar muqaddar |
|
بَعْضُهَا |
Mubtada’ lagi, mudhāf + dhamīr |
|
فَوْقَ بَعْضٍ |
Khabar mubtada’ |
|
إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ |
Jumlah syarthiyyah: akhraja fi‘l māḍī, fa‘il mustatir, yadahū
maf‘ūl bih |
|
لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا |
Jawab syarth, lam jazm, yakad fi‘l mudhāri‘, yarāhā
fi‘l mudhāri‘ manshūb |
|
وَمَن |
Wāwu istinafiyyah, man isim syarth |
|
لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ |
Fi‘l syarth, yaj‘al fi‘l mudhāri‘ majzūm, Allāha fa‘il |
|
لَهُ نُورًا |
Jar majrūr (hal), nūran maf‘ūl bih |
|
فَمَا لَهُ |
Fa jawab syarth, jumlah ismiyyah |
|
مِن نُّورٍ |
Jar majrūr, khabar mā |
Analisis Leksikal dan Bingkai Maqāṣid pada Surah An-Nūr
Ayat 39–40
Surah An-Nūr ayat 39–40 menyajikan dua
perumpamaan yang sangat kuat secara teologis dan linguistik: fatamorgana dipadang
tandus (سرب)
dan kegelapan berlapis di laut dalam كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ. Keduanya bukan sekadar
gambaran estetis, tetapi mengandung pesan moral dan epistemologis yang
menegaskan hubungan erat antara iman, akal, dan amal. Ayat 39 menggambarkan kesia-siaan
amal orang kafir yang tampak bermanfaat tetapi sejatinya hampa, sebagaimana
fatamorgana yang tampak seperti air dipadang pasir. Sedangkan ayat 40
melukiskan kegelapan berlapis-lapis yang menutupi cahaya kebenaran,
menggambarkan kondisi batin manusia yang kehilangan orientasi rohani dan
intelektual. Dua gambaran ini membentuk satu kesatuan makna: amal tanpa iman
tidak hanya gagal secara spiritual, tetapi juga menjerumuskan akal dalam
kebingungan.[9]
Secara leksikal, kata sarāb
(سَرَاب)
berasal dari akar “س ر ب”
yang berarti sesuatu yang tampak bergerak tetapi tidak nyata. Dia menjadi
metafora bagi tipuan amal tanpa keikhlasan, sebagaimana dijelaskan oleh
al-Qurṭubī bahwa amal orang kafir tampak besar namun tidak memiliki pahala di
sisi Allah.[10]
Adapun kata qi‘ah (قِيعَة) bermakna dataran luas dan rata yang memantulkan panas,
menggambarkan lingkungan sosial yang memungkinkan munculnya ilusi moral. Dalam
konteks modern, keduanya relevan untuk menggambarkan fenomena riya dan “pamer
kebaikan” di ruang publik atau media sosial amal yang tampak luhur namun kehilangan nilai
spiritual karena tidak berlandaskan iman.
Sementara itu, perumpamaan kedua dalam ayat 40
menampilkan istilah zulmāt (ظُلُمَات) dan lujjī (لُجِّيّ) yang membentuk citra
kegelapan total. Zulmāt adalah bentuk jamak dari ẓulmah,
menunjukkan lapisan kegelapan bertingkat, sedangkan lujjī berasal dari
akar “ل ج ج”
yang berarti laut dalam dan bergelombang. Tafsir Ath-Ṭabarī menafsirkan
kegelapan ini sebagai tumpukan kekafiran, kebodohan, dan keraguan yang menutupi
cahaya wahyu.[11]
Keduanya menggambarkan rusaknya daya nalar dan arah moral ketika manusia
berpaling dari petunjuk Ilahi. Di sinilah tampak relevansi maqāṣid ḥifẓ
al-‘aql, yakni kewajiban menjaga akal dari kesesatan epistemologis dan
moral.
Dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah,
dua perumpamaan ini secara integral menegaskan dua penjagaan utama: ḥifẓ
ad-dīn dan ḥifẓ al-‘aql. Sarāb mencerminkan hilangnya nilai amal
karena kerusakan iman, sementara zulmāt menggambarkan hilangnya
bimbingan akal karena terputus dari wahyu. Dengan demikian, tafsir Maqāṣidiyah
terhadap ayat ini mengajarkan bahwa setiap amal yang tidak menguatkan iman dan
tidak menuntun akal menuju kebenaran termasuk dalam kategori “sarāb” indah
secara lahir, tetapi kosong secara batin. Pesan moralnya sangat kontekstual
bagi manusia modern: jangan sampai amal dan pengetahuan hanya menjadi ilusi
sosial tanpa cahaya petunjuk Ilahi.
Tujuan
Surat An-Nur Ayat 39-40
Ayat 39-40 merupakan sebuah bentuk perumpamaan
yang dibuat oleh Allah, hal ini bertujuan untuk memberikan sebuah gambaran
suatu kondisi orang-orang kafir di akhirat maupun di dunia. Di dalam ayat ini
juga bertujuan untuk memberikan sebuah gambaran ke dalam dua ciri. Diantaranya
sifat orang kafir yang mengajak kepada kekafirannya, serta sifat orang kafir
yang pada dasar nya hanya ikut-ikut para kaum kafir.[12]
Menurut tafsir
At-Thabari, ayat 39 menggambarkan amal perbuatan orang kafir seperti
fatamorgana: dari kejauhan tampak seperti kabut atau debu yang padat, tetapi
ketika didekati ternyata kosong dan menyerupai udara. Sementara itu, ayat 40
memberikan perumpamaan lain tentang amal orang kafir yang dilakukan dalam
kesesatan, kerusakan, dan tanpa petunjuk Allah. Perbuatan mereka diibaratkan
berada di dalam kegelapan lautan dalam, yang diliputi ombak dan awan pekat di atasnya.
Demikian pula hati orang kafir, amalannya diselubungi kegelapan kebodohan.
Allah menutup hati mereka sehingga tidak mampu memahami kebenaran, menutup
pendengaran mereka sehingga tidak dapat menerima peringatan, serta menutup
penglihatan mereka sehingga tidak sanggup melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Itulah kegelapan yang bertumpuk di atas kegelapan.[13]
Analisa
Surat An-Nuur Ayat 39-40
Berdasarkan analisa, kedua
ayat ini dapat dikatakan sebagai sebuah istilah adanya
perumpamaan, perumpamaan ini digambarkan kedalam dua gambaran. Dilihat
pada ayat 39 memberikan sebuah gambaran perumpamaan bentuk amal perbuatan yang
telah dilakukan oleh orang kafir, perumpamaan tersebut digambarkan seperti fatamorgana.
Bentuk fatamorgana ini merupakan sebuah hamparan tanah yang datar dan luas,
yang mana digambarkan seperti layaknya lautan yang sangat luas.
Daratan ini jika dilihat dari atas
terlihat seperti bentuk fatamorgana, dan daratan ini jika dilihat dari jauh
terlihat seperti terdapat sebuah air yang luas, seperti halnya lautan. Namun
jika dilihat melalui jarak yang dekat air tersebut hilang dan tidak ada,
melainkan hanya sebuah daratan tanah ataupun pasir yang sangat luas. Maka dalam
hal ini perumpamaan tersebut merupakan sebuah gambaran, bahwasannya orang-orang
kafir telah melakukan amal-amal kebaikan, namun ketika Allah sudah menghitung
dan menghisap nya tidak ada satupun amal yang diterima. Dan amalan-amalan
orang-orang kafir ini hanya seperti halusinasi bagi mereka.
Gambaran perkiraan orang-orang kafir
terhadap amalan nya dan kemudian akan mendapatkan balasan dari Allah, hal ini
seperti yang telah dijelaskan pada penjelasan kitab tafsir al-Azhar yang
menggambarkan bahwasannya daratan itu bukan untuk mengambil ataupun meminum
air, melainkan sebuah pasir yang disangka air, dan itu terjadi ketika gejala
panas. Maka dalam hal ini sesuatu yang telah dikejar dengan susah payah, tidak
lain dengan apa yang dikhayalkan ataupun dibayangkan.[14] Sehingga
hal ini dugaan mereka terhadap amal perbuatan nya, akan melebur ketika mereka
sudah menghadap kepada Allah. Peleburan ini disebabkan karena
kekafiran/kekufuran mereka, sehingga mereka juga tidak mendapatkan ataupun
menemukan sedikit pun suatu bentuk balasan dari Allah, maka ini merupakan (فَوَفّٰىهُ
حِسَابَهٗ) yang
memiliki makna pada penafsiran yaitu sebagai bentuk balasan dari Allah atas
perbuatannya.
Penggambaran kedua yaitu pada ayat
40, dimana perbuatan orang-orang kafir digambarkan seperti lautan yang sangat
dalam serta di tutupi oleh tindihan-tindihan gelombang ombak, sehingga terlihat
sangat gelap dan tidak memiliki cahaya sedikit pun. Terdapat suatu pendapat
lain yang mengatakan bahwa, penggambaran gelap gulita ini merupakan suatu
perumpamaan terhadap amal perbuatan yang telah dilakukan oleh orang kafir.
Kemudian lautan yang dalam tersebut diumpamakan sebagai hatinya, serta ombak di
umpamakan sebagai kebodohannya.
Ayat ini juga menjelaskan bahwa dari kegelapan
yang dialami nya ini, jika ingin memberikan lambaian tangan kemudian
mengeluarkan melalui dasar laut, tetap tidak terlihat sedikit pun. Hal ini
disebabkan karena (يَّغْشٰىهُ
مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهٖ مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهٖ سَحَابٌۗ)
yaitu suatu ombak yang meliputi diatas kemudian saling tindih menindih.
Berdasarkan kitab tafsir Imam Qurthubi dijelaskan bahwa maksud dari suatu ombak
yang tindih menindih yaitu, ombak yang mengarah keatas kemudian diatas ombak
masih terdapat selimutan awan-awan, sehingga semua menyatu menjadi satu sampai
menyebabkan adanya sebuah kegelapan yang benar-benar tidak dapat dilihat. Hal
ini berbeda dengan kitab tafsir al-Azhar, yang mana dijelaskan bahwasannya
ombak yang saling tindih menindih yaitu digambarkan seperti suatu gelombang
yang terlihat sedang menggulung.
Pada ayat ini juga dijelaskan kegelapan
yang terjadi tersebut sama sekali tidak memunculkan cahaya. Karena pada ayat 40
merupakan sebuah perumpamaan pada hati orang-orang kafir, maka hal ini
dikatakan (وَمَنْ
لَّمْ يَجْعَلِ اللّٰهُ لَهٗ نُوْرًا فَمَا لَهٗ مِنْ نُّوْر)
dimana memiliki makna yaitu barang siapa yang tidak diberikan suatu cahaya
(dalam arti petunjuk) dari Allah, maka mereka tidak akan diberikan ataupun
mendapatkan sedikit pun cahaya dari-Nya. Dalam kitab tafsir al-Azhar dijelaskan
bahwa, ketidak adanya cahaya (petunjuk) yang diberikan oleh Allah akan terjadi
selama-lamanya.
Pada intinya penggambaran
pada ayat 40 ini merupakan sebuah perumpamaan bagi orang-orang kafir yaitu,
amal perbuatan yang telah dilakukan oleh mereka tidak terlihat manfaatnya. Dan
mereka juga tidak akan selamat kecuali dengan adanya cahaya keimanan yang
mereka miliki.
Relevansi
Surat An-Nur Ayat 39-40 Di Kehidupan Modern
Surat An-Nur pada ayat 39-40 sangat relevan bagi kehidupan modern saat
ini, karena dalam ayat ini menggambarkan dua fenomena yang banyak ditemui pada hari
ini yaitu fatamorgana atau ilusi kebahagiaan dari pencapaian duniawi dan gelap
gulita sebagai simbol ketiadaan petunjuk. Di era sekarang, tidak sedikit orang
yang mengejar kekayaan, ketenaran, jabatan, atau popularitas di media sosial
dengan anggapan hal-hal itu akan memberi kecukupan. Namun ayat ini mengingatkan
bahwa semua pencapaian material dan pengakuan sosial tersebut, bila tidak
dilandasi keimanan dan niat tulus karena Allah, secara hakikat hanya
menciptakan kehampaan, apa yang tampak berharga seringkali hanyalah seperti
bentuk fatamorgana yang sirna ketika sampai pada akhirnya.
Kebaikan
yang hanya untuk menunjukkan diri dalam arti bukan dari hati juga tercermin pada motif
tindakan kebaikan, banyak amal sosial atau kedermawanan yang didorong oleh
keinginan mendapat pujian, popularitas, atau keuntungan pribadi, bukan oleh
upaya mencari ridha Allah. An-Nur menegaskan bahwa perbuatan baik yang niatnya
keliru tidak akan memperoleh balasan di akhirat, karena nilai amal ditentukan
bukan oleh tampilan luarnya tetapi oleh keikhlasan dan konsistensi yang
berdasar pada petunjuk ilahi. [15]
Berdasarkan konteks tersebut pada intinya yaitu seseorang yang hanya
sibuk mengejar harta dan kemudian mereka lupa akan adanya kehidupan diakhirat.
Contoh relevansi pada masa saat ini seperti halnya yaitu, adanya bentuk
perilaku yang berprinsip hedonisme. Prinip ini mereka beranggapan bahwa, tujuan
utama dalam hidup yaitu mengejar kesenangan serta menghindari rasa sakit adalah
bentuk nilai tertinggi (01). Tidak hanya itu mereka juga memiliki prinsip
secara materialisme, yakni mereka mengngirakan materi adalah satu-satunya
realitas yang ada, semua fenomena di alam semesta termasuk kesadaran, hal tersebut
berasal dari interaksi materi (02).
Contoh yang relevan pada masa kini lainnya salah satunya adalah “Flexing
Bersedekah” sebagai praktik yang dikaji ilmiah. Ada penelitian khusus yang menggunakan istilah “Flexing
bersedekah di media sosial”. Penelitian ini mengamati bahwa
sebagian orang yang bersedekah tidak hanya berdonasi atau membantu, tetapi
mendokumentasikan tindakan itu (foto/video/story) untuk dibagikan secara
online, dan mendapatkan reaksi sosial (likes, komentar) sebagai bagian dari motivasi.[16]
Ini sangat relevan dengan ayat 39-40 karena menunjukkan bahwa kebaikan luaran
saja (tampilan amal) bisa menjadi fatamorgana, jika
keikhlasan dan hubungan batin dengan Allah tidak dijaga. Sehingga melalui perilaku tersebut dapat
ditarik pesan, bahwasannya kegiatan amal atau bersedekah harus di dasari oleh
keimanan kepada Allah bukan yang lain. Serta dalam beramal jangan diniatkan
untuk tujuan pada hal lain, contoh seperti flexsing harta atau agar
menaikan citra dirinya sendiri. Sebab jika hal tersebut diniatkan untuk tujuan
padahal lain, maka sama halnya dengan amal perbuatan orang kafir, yaitu mereka
beramal baik tetapi mereka juga lupa bahwa mereka kafir.
Terdapat contoh lain terkait kedua ayat ini yaitu terutama pada ayat 40, di
era modern hal tersebut dapat diartikan sebagai kondisi di mana banyak orang
merasa bingung, kehilangan arah dalam hidup, atau mudah tertipu oleh berbagai
informasi dan godaan duniawi. Contohnya, fenomena FOMO (Fear of Missing Out)
yang seringkali membuat orang terlalu fokus mengejar materi dan kesenangan
dunia tanpa memperhatikan nilai-nilai agama. Akibatnya, meskipun secara
lahiriah terlihat sukses, mereka justru merasa kosong dan gelap di dalam
hatinya. Adapun contoh lain adalah kecanduan teknologi yang membuat seseorang
lupa waktu dan lupa menjaga keseimbangan hidup. Seseorang bisa terjebak dalam
dunia maya yang penuh distraksi sehingga ia kehilangan waktu yang seharusnya
bisa dipakai untuk hal-hal positif dan bermanfaat. Kondisi seperti ini dapat
merugikan diri sendiri dan membentuk pola pikir serta kepribadian yang
tergantung pada teknologi dan jauh dari nilai spiritual. Semua situasi ini
menggambarkan pentingnya mendapatkan cahaya petunjuk dari Allah supaya tidak
hidup dalam kebingungan dan kegelapan batin.[17]
Kesimpulan
Surat An-Nūr ayat 39–40 menampilkan
dua perumpamaan yang menggambarkan kondisi amal dan batin orang-orang kafir.
Ayat 39 mengibaratkan amal mereka seperti fatamorgana di padang pasir terlihat menjanjikan
dari kejauhan, tetapi kosong ketika didekati. Hal ini menunjukkan bahwa amal
yang tidak didasari oleh iman dan keikhlasan hanya tampak indah di permukaan,
namun tidak memiliki nilai di sisi Allah. Sedangkan ayat 40 menggambarkan
kekufuran mereka seperti kegelapan berlapis di lautan dalam, menandakan hati
dan akal yang tertutup dari cahaya petunjuk Ilahi. Dua perumpamaan ini saling
melengkapi, menegaskan bahwa tanpa iman dan hidayah, amal manusia kehilangan
makna dan arah.
Dari sudut pandang kebahasaan, kedua
ayat ini menunjukkan keindahan retorika dan kedalaman makna al-Qur’an.
Penggunaan kata-kata seperti sarāb, qi‘ah, zulmāt, dan lujjī
menghadirkan gambaran visual yang kuat untuk menjelaskan konsep spiritual yang
abstrak. Melalui analisis para mufasir seperti Ath-Thabari dan al-Qurthubi,
dapat dipahami bahwa bahasa al-Qur’an bukan hanya indah secara sastra, tetapi
juga memiliki kedalaman teologis dan eksistensial. Struktur kebahasaan yang
digunakan menegaskan bahwa kebenaran tidak hanya bersifat lahiriah, tetapi juga
batiniah yang hanya dapat disingkap melalui cahaya hidayah Allah.
Dari perspektif maqāṣid al-syarī‘ah, ayat ini
menegaskan pentingnya menjaga dua hal pokok dalam kehidupan manusia, yaitu ḥifẓ
ad-dīn (penjagaan agama) dan ḥifẓ al-‘aql (penjagaan akal).
Perumpamaan fatamorgana
menggambarkan rusaknya nilai amal akibat hilangnya iman, sedangkan kegelapan
berlapis menggambarkan rusaknya akal karena berpaling dari wahyu. Maka,
amal yang tidak dilandasi oleh keimanan dan petunjuk Allah akan menjadi
sia-sia, sementara pengetahuan yang tidak dibimbing oleh cahaya Ilahi hanya
menjerumuskan manusia dalam kesesatan dan kebingungan moral.
Dalam konteks kehidupan modern, pesan ayat ini tetap sangat relevan. Fenomena seperti flexing bersedekah, hedonisme, materialisme, dan kehilangan arah spiritual mencerminkan “fatamorgana amal” dan “kegelapan batin” yang disebut dalam ayat tersebut. Banyak manusia yang mengejar kebahagiaan semu dan pengakuan sosial tanpa memperhatikan keikhlasan dan hubungan dengan Allah. Oleh karena itu, ayat ini mengingatkan bahwa nilai sejati amal tidak diukur dari penampilan luar, melainkan dari ketulusan hati dan cahaya iman yang menyinari kehidupan. Dengan demikian, manusia hendaknya selalu memohon hidayah Allah agar amalnya bernilai, hatinya terang, dan hidupnya terarah menuju ridha-Nya.
[1] “Qur’an Kemenag,” diakses 9 Juni 2025,
https://quran.kemenag.go.id/.
[2] “Qur’an Kemenag.”
[3] Wahbah Zuhaili dan Abdul Hayyie, “Tafsir Al-Munir Jilid 9,” Gema
Insani 9 (2018): 541.
[4] Asbab un Nuzool Al-Wahidi (t.t.), 118–19, diakses 17 September 2025,
http://archive.org/details/merged_document_2_201501.
[5] Imam Al-Qurthubi, Tasfir Qurthubi jilid 12, ed. oleh M.
Iqbal Kadir (Pustaka Azzam, 2008).
[6] Al-Qurthubi, Tasfir Qurthubi jilid 12, 711.
[7] Tafsir Ath Thabari Jami’ Al Bayan Fi Ta’wil Al Qur’an Terjemah
Bahasa Indonesia
(2022), Juz 18, hal 141–43, http://archive.org/details/tafsir-1_202201.
[8] Tafsir Ath Thabari Jami’ Al Bayan Fi Ta’wil Al Qur’an Terjemah
Bahasa Indonesia,
Juz 18, hal 144–46.
[9] Tafsir Ath Thabari
Jami’ Al Bayan Fi Ta’wil Al Qur’an Terjemah Bahasa Indonesia (2022),
http://archive.org/details/tafsir-1_202201.
[10] Al Jami al Ahkam al
Qur’an-Tafsir al Qurtubi Jild-1 to 24 (t.t.), diakses 15 Oktober 2025,
[11] Tafsir Ath Thabari
Jami’ Al Bayan Fi Ta’wil Al Qur’an Terjemah Bahasa Indonesia (2022),
http://archive.org/details/tafsir-1_202201.
[12] Zuhaili dan Hayyie, “Tafsir Al-Munir Jilid 9,” 85–100.
[13] Ath-Thabari, Tafsir ath-Thabari Jami’ Al Bayan Fi Ta’wil Al
Qur’an jilid 19 (Pustaka Azzam, 2007), 200–205.
[14] Prof.Dr.Hamka, Tafsir Al-Azhar Jilid 7 (Gema Insani, 1982),
4949.
[15] M.Minanur Rohman, “MAKNA MATSAL SARAB DALAM AL- QUR’AN (Studi
Analisis Surat An-Nūr: 39)” (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya,
2019), 68–71.
[16] Ani Amalia dan Sofwan Mabrur, “Flexing Bersedekah di Media Sosial
QS. Al-Baqarah: 271 (Prespektif Tafsir Al-Azhar),” MAGHZA: Jurnal Ilmu
Al-Qur’an dan Tafsir 9, no. 2 (2024): 255–69
.jpg)
Komentar
Posting Komentar