Tafsir Surat Ali-Imron: 147-150



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

MAJLIS KAJIAN INTERAKTIF TAFSIR AL-QUR`AN
(M-KITA) SURAKARTA

Oleh: Al-Ustadz Dr. Hasan el-Qudsy, M.A., M.Ed.


Allah berkalam:

وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (147) فَآَتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (148) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ (149) بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ (150)

Artinya:
Tidak ada do'a mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menta'ati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.

Makna umum dari ayat:
A.  147
Ayat ini masih berhubungan dengan ayat-ayat sebelumnya, yaitu menerangkan bahwa Allah mengingatkan para sahabat. Allah ingin membangkitkan kembali kesadaran mereka bahwa jihad bersama Nabi itu bukan hanya pada zaman Rasulullah saw. saja. Tetapi sudah ada sejak zaman para rasul sebelum Rasulullah saw. . Di dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa mereka sangat bersabar menghadapi apapun yang menimpa mereka. Kesabaran mereka tampak dalam doa: رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. Ada 3 poin dalam doa ini:
-        رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا: ketika mendapat cobaan, yang keluar dari mulut mereka adalah doa. Bukan umpatan. Selalu husnuzh-zhan (berprasangka baik) kepada Allah. Yang diminta sebelum segala sesuatu adalah supaya Allah mengampuni dosa mereka.
-       وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا : mereka minta agar Allah meneguhkan mereka sehingga tidak lari dari peperangan dan selalu bertahan dan istiqomah perjuangan. Makna asli aqdam: telapak-telapak kaki. Minta diteguhkan kakinya saat berdiri di depan musuh dan tidak lari dari mereka. Siap mempertahankan kebenaran dan keyakinan dalam kondisi apapun.
-       وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ: mereka memohon agar ditolong oleh Allah saat menghadapi orang-orang kafir.

B.  148
Dalam ayat ini, Allah menerangkan tentang buah manis dari kesabaran dan doa mereka. Allah membalas mereka dengan segera, tidak ditunda-tunda lagi. Buah manis itu berupa balasan yang Allah berikan baik di dunia dan akhirat. Dan sudah barang tentu balasan di akhirat adalah jauh lebih baik dari yang ada di dunia ini.

C.  149
Ayat ini adalah peringatan dari Allah untuk orang-orang beriman supaya mereka tidak mengikuti atau mentaati orang-orang kafir dalam segala bentuk kehidupan mereka. Mengapa demikian? Karena dalam mengikuti mereka tidak ada akbatnya kecuali kerugian. Dan kerugian terbesar adalah kembali kepada kekufuran.

D.  150
Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa hanya Dia-lah yang Maha Menolong. Kesuksesan apapun semata-mata hanyalah karena izin dari-Nya.

Penjelasan ayat:

147, 148, 149 dan 150
1.  Mengapa Ribbiyyun (para pembela nabi) meminta ampun pada Allah padahal mereka sudah sangat dekat dan setia kepada Nabi mereka? Karena mereka sangat ikhlas dan tunduk untuk selalu membersihkan hati mereka dari dosa. Walaupun banyak kebaikan mereka lakukan, tetapi hal itu tidak membuat mereka sombong. Mereka malah merendahkan diri dan terus memohon ampun atas dosa-dosa mereka.

2.   Penyakit yang sering merusak perjuangan adalah hawa nafsu dan keburukan jiwa. Maka yang pertama kali harus dilakukan adalah minta ampun kepada Allah, membersihkan diri dari berbagai dosa. Sebagaimana Umar bin Khoththob berwasiat kepada pasukannya ketika hendak berperang. Karena Umar tahu bahwa musuh yang paling utama yang harus dikalahkan dulu sebelum mengalahkan musuh adalah hawa nafsu.

3. Dalam ayat 147 terdapat kaidah At-takholli muqaddamun ‘alat tahalli (membersihkan diri dari sesuatu yang buruk lebih didahulukan dari berbuat baik). Dalam doa tesebut didahulukan memohon ampun dari berbagai dosa, sebelum memohon kemenangan terhadap musuh. Contoh lain: sebelum orang melakukan ibadah haji, ia harus terlebih dahulu membersihkan hartanya dari berbagai unsur keharaman. 

4.  Apa itu dosa? Dosa adalah segala sesuatu yang dilahirkan akibat melakukan pelanggaran terhadap perintah-perintah atau larangan Allah. Orang yang melakukan dosa berarti telah bermaksiat. Dosa dibagi menjadi dua; kecil dan besar. Dosa besar adalah setiap dosa yang mengakibatkan hukuman di dunia atau diancam oleh Allah dengan ancaman yang khusus di akhirat; mendapatkan adzab, laknat dan kemarahan-Nya.

5.   Dan jangan pernah meremehkan dosa kecil. Karena dosa kecil tersebut bisa berubah menjadi besar akibat meremehkannya. Allah SWT hanya menghapuskan dosa kecil yang dilakukan dengan tidak sengaja atau karena kekhilafan. (QS. 4:17)

6. Ibnul Qoyim dalam ad-daa` wa dawa` menerangkan bahwa sebagian efek negatif dari perbuatan dosa adalah menyebabkan Allah dan makhluk-Nya tidak suka, hilangnya keberkahan hidup, redupnya cahaya wajah, berat melakukan ibadah, hati menjadi keras sehingga sulit menerima kebaikan.
7.  Bila sulit berbuat baik, cobalah tengok barangkali kita punya banyak dosa. Karena dosa itu adalah salah satu faktor pemberat seseorang untuk berbuat baik. Sulit untuk bangun malam, sulit untuk silaturrahmi dll. Maka, perbanyaklah istighfar dan lakukanlah kebaikan!

8. Apa beda israaf dengan tabdziir? Israaf adalah melakukan suatu hal yang melewati batas syariat. Misalnya sudah ditetapkan bahwa sunah membasuh dalam wudlu adalah tiga, lebih dari 3 adalah israaf. Tabdziir adalah menggunakan sesuatu tidak sesuai dengan syariat, meski sedikit. Misalnya: berjudi dengan hanya satu rupiah saja. Penggunaan harta itu disebut tabdziir. Baik Israaf maupun tabdziir, kedua-duanya tidak disukai Allah SWT.

9.Hidup pasti ada tantangannya. Apalagi hidupnya orang beriman. Sikap orang beriman bila sedang diuji oleh Allah adalah kembali pula kepada Allah. (QS. 29: 2).

10.Allah mempunyai alat pengukur kadar keimanan kita yang bernama ujian. Dengan adanya ujian, dapat diketahui mana yang benar-benar beriman dan mana yang hanya berdusta.

11.Kesuksesan itu tidak akan hadir begitu saja. Harus ada perjuangan yang maksimal untuk mendapatkannya. Dan yang harus diingat adalah kesuksesan itu hanya datang dari Allah. Meskipun zhahirnya sukses itu hadir dengan adanya usaha, tapi itu tak terlepas dari kehendak dan izin dari Allah. Kita bisa bertahan dalam perjuangan itu semata-mata hanya karena dibantu oleh Allah. Maka, selain harus berusaha semaksimal mungkin, kita juga harus berdoa.

12.Orang beriman itu kalau punya pekerjaan, selalu mengerjakan pekerjaannya dengan profesional. Pekerjaannya selalu tuntas. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thobroni disebutkan bahwa:
عن عائشة أن رسول الله قال : إِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
(Al-Mu’jamul Ausath, jz.1, hlm 275, Maktabah Syamilah ishdar ketiga)
Dari ‘Aisyah bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:  “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla suka seorang hamba kalau dia bekerja dengan itqon (profesional, tuntas dan berstandar).”

13.Jangan mengandalkan usaha diri sendiri saat berjuang! Bila sampai mengandalkan diri sendiri, maka nanti akan menarik kepada dosa lain, misalnya ‘ujub yaitu membanggakan diri sendiri. 

14.Salah satu bentuk tsawabud dunya (pahala dunia) (ayat:148) adalah dengan mendapatkan kemenangan dalam perang atau kesuksesan lainnya. Adapun tsawabul akhirah (pahala akhirat) adalah dengan mendapatkan surga. Dalam balasan akhirat, Allah menambah lafal ‘husna’ di sana. Mengapa? Karena bertujuan untuk menegaskan bahwa pahala akhirat itu jauh lebih baik dari pahala dunia. Dunia bisa sirna, sebanyak apapun. Namun akhirat tetap abadi tidak akan pernah sirna. Allah berkalam “Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu dari pada yang sekarang (permulaan) (QS. 93: 4).

15.Mahabbatullah (kecintaan Allah) adalah kunci segala keberhasilan. Kalau sudah dicintai oleh Allah segalanya pasti jadi mudah. Bagaimana caranya agar dicintai Allah? Di dalam surat Ali Imron: 31, disebutkan tentang cara agar dicintai Allah. Yaitu dengan mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah saw. 

16.Dalam ayat: 149 terdapat huruf (in). Huruf (in) dan (idza) sama-sama berarti apabila. Tetapi dua huruf ini punya perbedaan. (in) konsep umumnya adalah menunjukkan sesuatu yang belum pasti terjadi. Adapun (idza) menunjukkan sesuatu yang pasti terjadi. Maka dari itu, di ayat 149 menggunakan huruf (in), menunjukkan bahwa apabila seseorang benar-benar beriman, maka ia tidak mudah terbawa arus mengikuti orang-orang kafir.

17.Jangan mentaati orang-orang kafir! Sebab bila mentaati mereka, maka akibatnya adalah mereka akan menjerumuskan kita dan kita akan sama-sama kafir seperti mereka!

18.Hindari menyerupai mereka dalam segala aspek kehidupan misalnya budaya, cara berpikir, cara pandang, dlsb! Apalagi sampai meminta nasehat dalam masalah strategi umat. Dan caranya agar tidak mengikuti orang-orang kafir? Kita harus paham Al-Qur`an. Pelajari Al-Qur`an. Lalu amalkan apa yang ada di dalamnya.

19.Pada dasarnya kita tidak dilarang berinteraksi sosial dan berbuat baik dengan orang kafir (non muslim), selama mereka tidak memusuhi atau merugikan kita (QS. 6: 8). Seperti transaksi  jual beli, belajar ilmu sains, dll.

20.Makna  ‘alladziina kafaruu’ dalam ayat 149 adalah mereka orang-orang munafiq, atau Yahudi dan Nasrani atau orang kafir lainya. Karena mereka semua tidak pernah menginginkan kebaikan bagi umat Islam. Lalu kenapa kita harus mengikuti mereka?

21.Orang munafiq jauh lebih berbahaya daripada orang-orang kafir. Itu disebabkan karena mereka berpakaian seperti pakaiannya orang Islam. Tidak kelihatan bahwa dia musuh Islam. Jadi dia dapat menikam Islam dari dalam.

22.Hanya Allah sandaran kita. Setiap perjuangan da`wah harus diikhlashkan untuk Allah semata. Bukan karena kepentingandan hawa nafsu. Maka, jadilah perekat umat! Jangan jadi pemecah dengan menganggap bahwa kelompoknya adalah yang paling baik dan paling benar lalu menyalahkan kelompok-kelompok muslim lainya.  
* * *
http://mkitasolo.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tafsir Surat An-Nisa' (4): Ayat 31-32

Tafsir Surat An-Nisa' (4): Ayat 20-21

Tafsir Surat An-Nisa' (4): Ayat 2-3