“Fenomena Alam sebagai Bukti Kekuasaan Allah: Telaah QS An-Nur 41–43”
|
| |
|
|
Surah An-Nur ayat 41-43 ayat-ayat ini
menggambarkan bagaimana seluruh makhluk yang hidup dimuka bumi ini,baik di
langit dan bumi mereka semua selalu bertasbih kepada Allah dengan masing-masing
cara yang berbeda.Dalam ayat ke 41 digambarkan bahwa burung-burung yang
berterbangan di langit digambarkan sebagai makhluk yang faham akan doa dan
tasbihnya sendiri. Pada ketiga ayat ini selain menjelaskan persoalan spiritual,ayat-ayat
ini juga membahas terkait fenomena alam seperti pergerakan awan,turunnya
hujan,lalu bagaimana terbentuknya gumpalan es,bahkan membahas terkait petir
yang dapat membutakan mata.Dari sedikit pembahasan diatas ayat ini sangat
menarik untuk dikaji karena selain membahas tentang ketauhidan disamping itu
juga membahas terkait ekologi.Dengan demikian,ayat ini dapat dipahami sebagai
peyambung antara ajaran tentang ketauhidan,refleksi ilmiah,dan kesadaran
ekologis dalam kehidupan kita sehari-hari.
Al-Qur’an
merupakan pedoman hidup yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah
tetapi juga mengarahkan manusia dalam memahami
kenyataan alam semesta. Banyak ayat yang mengajak manusia untuk
merenungi ciptaan Allah sebagai tanda kebesaran-Nya (ayat kauniyyah). Salah
satu bagian yang secara jelas menggambarkan hal ini adalah Surah An-Nur ayat
41–43. Ayat-ayat tersebut menampilkan gambaran tentang makhluk hidup yang
bertasbih, keteraturan burung dalam penerbangan, proses terbentuknya awan,
hingga turunnya hujan yang memberi kehidupan. Dengan uraian itu, Al-Qur’an
menghadirkan korelasi yang erat antara kekuasaan Allah dan fenomena alam.
Surah
An-Nur ayat 41–43 memiliki pesan yang mendalam. Pertama, seluruh makhluk, baik
manusia, hewan, maupun fenomena alam, sesungguhnya tunduk dan bertasbih kepada
Allah meski manusia tidak selalu mampu memahami bentuk tasbih tersebut. Kedua,
keteraturan peredaran dan peristiwa alam seperti hujan, angin, dan awan
merupakan tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan adanya sistem yang harmonis.
Ketiga, ayat-ayat ini meneguhkan bahwa kehidupan manusia bergantung sepenuhnya
pada rahmat dan ketetapan Allah yang terkandung dalam hukum alam.
Dalam
sejarah penafsiran, ayat-ayat ini banyak mendapat perhatian para mufasir klasik
maupun kontemporer. Tafsir klasik menekankan aspek teologis, yakni kekuasaan
dan keesaan Allah. Misalnya, Ath-Tabari menafsirkan ayat ini sebagai penegasan
bahwa setiap makhluk memiliki cara tersendiri dalam bertasbih. Sementara itu,
tafsir modern seperti Al-Azhar karya Hamka mengaitkannya dengan refleksi
kehidupan sehari-hari dan perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini menunjukkan
bahwa Al-Qur’an memiliki sifat dinamis yang mampu berdialog dengan perkembangan
zaman.
Dalam
konteks kehidupan modern, relevansi ayat-ayat ini semakin nyata. Di era di mana
sains dan teknologi berkembang pesat, manusia sering kali terjebak pada
pandangan keberadaan yang memisahkan alam dari nilai spiritual. Surah An-Nur
ayat 41–43 mengingatkan bahwa fenomena ilmiah yang dapat diukur dan dijelaskan
tetap merupakan perwujudan kebesaran Allah.Lebih jauh, kajian terhadap ayat ini
relevan dengan upaya membangun etika ekologi dan kesadaran lingkungan.
Ayat-ayat tersebut menekankan bahwa hujan, awan, dan keteraturan alam adalah
rahmat yang harus dijaga dan disyukuri. Hal ini sejalan dengan tantangan global
saat ini seperti perubahan iklim, krisis air, dan penurunan lingkungan. Dengan
demikian, Surah An-Nur ayat 41–43 tidak hanya berisikan pesan spiritual, tetapi
juga mengandung keterlibatan praktis dalam kehidupan manusia modern.
Berdasarkan
latar belakang tersebut, penelitian mengenai Surah An-Nur ayat 41–43 menjadi
penting. Penelitian ini tidak hanya bertujuan mengungkap makna ayat dari
perspektif tafsir klasik dan modern, tetapi juga mengkaji relevansinya dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan isu-isu kontemporer.
SURAT AN-NUUR AYAT
41-43
اَلَمْ تَرَ
اَنَّ اللّٰهَ يُسَبِّحُ لَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالطَّيْرُ
صٰۤفّٰتٍۗ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهٗ وَتَسْبِيْحَهٗۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِمَا
يَفْعَلُوْنَ
Artinya: “Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) tahu
bahwa sesungguhnya kepada Allahlah apa yang di langit dan di bumi dan
burung-burung yang merentangkan sayapnya senantiasa bertasbih. Masing-masing
sungguh telah mengetahui doa dan tasbihnya. Allah Maha Mengetahui apa yang
mereka lakukan.”
وَلِلّٰهِ
مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَاِلَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ
Artinya: “Milik
Allahlah kerajaan langit dan bumi dan hanya kepada Allahlah kembalinya (seluruh
makhluk).”
اَلَمْ تَرَ
اَنَّ اللّٰهَ يُزْجِيْ سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهٗ ثُمَّ يَجْعَلُهٗ
رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهٖۚ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاۤءِ
مِنْ جِبَالٍ فِيْهَا مِنْۢ بَرَدٍ فَيُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَصْرِفُهٗ
عَنْ مَّنْ يَّشَاۤءُۗ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهٖ يَذْهَبُ بِالْاَبْصَارِۗ
Artinya: “Tidakkah engkau melihat bahwa
sesungguhnya Allah mengarahkan awan secara perlahan, kemudian mengumpulkannya,
lalu menjadikannya bertumpuk-tumpuk. Maka, engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya.
Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari
(gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung. Maka, Dia menimpakannya
(butiran-butiran es itu) kepada siapa yang Dia kehendaki dan memalingkannya
dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan
penglihatan”.[1]
ASBABUN NUZUL DAN MUNASABAH SURAT AN-NUR AYAT
41-43
Menurut
al-Wāḥidī dalam Asbāb an-Nuzūl dan as-Suyūṭī dalam Lubāb an-Nuqūl fī Asbāb
an-Nuzūl, tidak ditemukan riwayat khusus yang menjelaskan sebab turunnya Surah
An-Nūr ayat 41–43. Oleh karena itu, para mufassir memahami ayat ini sebagai
bagian dari rangkaian tema Surah An-Nūr yang menggambarkan tatanan kosmos dan
sosial, bukan ayat kontekstual yang lahir dari peristiwa tertentu.
Ketiga ayat ini terikat dengan tema utama
Surah An-Nūr, yakni pembinaan masyarakat beradab yang berlandaskan ketauhidan.
Ayat 41 menggambarkan ketundukan kosmik seluruh makhluk (tasbih), ayat
42 menegaskan kepemilikan mutlak Allah (mulk), dan ayat 43 menunjukkan
tanda-tanda kekuasaan Allah di alam (tadbīr al-kaun). Rangkaian ini
membentuk alur pedagogis: dari kesadaran spiritual (tasbih), menuju pengakuan
otoritas Ilahi (mulk), hingga kesadaran ekologis (tanda alam). Dengan
demikian, ayat-ayat ini meneguhkan tertib sosial bahwa sebagaimana alam tunduk
pada tatanan Ilahi, manusia pun harus tunduk pada aturan moral dan sosial yang
Allah tetapkan
ANALISIS KEBAHASAAN SURAH AN-NUR AYAT 41-43
Ayat 41
Secara
balāghah, rangkaian ayat 41–43 menunjukkan kekuatan retorika Al-Qur’an
yang menggabungkan aspek iltifāt (peralihan kata ganti), tashwīr (penggambaran
visual), dan tafrīd (penegasan makna tunggal). Pada ayat 41 digunakan
struktur ‘alam tara anna Allāha... yang merupakan gaya istifhām
taqrīrī, yakni pertanyaan retoris untuk menegaskan kebenaran yang sudah
pasti. Ini menggugah kesadaran pembaca agar merenung, bukan sekadar mengetahui.
Dalam ayat 43, penggambaran awan, hujan, dan
kilat menggunakan teknik tashwīr bayānī bahasa visual yang membuat
pembaca seolah menyaksikan langsung fenomena tersebut. Peralihan dhamir
dari bentuk ketiga (‘mereka’) ke bentuk kedua (‘engkau melihat’) juga
memperkuat daya imersif ayat, menunjukkan bahwa manusia diajak langsung menjadi
saksi tanda-tanda kekuasaan Allah.Selain itu, penggunaan kata yakādu sanā
barqihi yadhhabu bil-abṣār (‘kilatnya hampir-hampir menghilangkan
penglihatan’) merupakan bentuk mubālaghah (hiperbola) yang mempertegas
kedahsyatan fenomena alam menandakan
besarnya kuasa Allah yang tak tertandingi.
Berawal dari kata يُسَبِّحُ yang berasal dari
akar kata س ب ح (sabḥa) yang bermakna ‘meluncur’ atau ‘bergerak cepat di
air/udara’. Dari makna dasar itu muncul pengertian majazi (kiasan) yakni
‘mengagungkan’ dan ‘mensucikan Allah dari segala kekurangan’. Karena itu, tasbīḥ
berarti pengakuan atas kesucian Allah, sebagaimana dijelaskan oleh al-Rāghib
al-Aṣfahānī dalam Mufradāt Alfāẓ al-Qur’ān bahwa tasbīḥ merupakan bentuk
pengakuan bahwa Allah terbebas dari segala sifat makhluk.[2]
وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ Kalimat ini bermakna “dan burung
dengan mengembangkan sayapnya.” Ath-Ṭabarī menafsirkan bahwa kepakan sayap
burung ketika terbang adalah bentuk tasbih mereka kepada Allah.[3]
Pemilihan bentuk ṣāffātin
(mengembangkan sayap) memberi gambaran jelas bahwa bahkan gerak alami burung
pun merupakan ibadah.
كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ Kalimat ini
ditafsirkan dengan beberapa pendapat:
Al-Ṭabarī
menafsirkan bahwa lafaz ṣalāt pada ayat ini dimaknai sebagai bentuk
ibadah yang khas bagi makhluk tertentu. Sebagian mufassir seperti al-Qurṭubī
membatasi makna ṣalāt untuk manusia dan malaikat karena mereka memiliki
kesadaran dan niat sementara tasbīḥ mencakup seluruh makhluk hidup dan
benda mati yang tunduk kepada hukum Allah. Quraish Shihab dalam Tafsir
al-Mishbah menambahkan bahwa perbedaan ini menunjukkan tingkat kesadaran ibadah
manusia beribadah dengan kehendak, sedangkan alam bertasbih dengan kepatuhan
fitri. Konsekuensinya, tasbih alam menegaskan bahwa seluruh makhluk tunduk pada
tatanan Ilahi, sedangkan ṣalāt manusia menuntut kesadaran dan tanggung jawab
moral.[4]
Pendapat lain menyatakan bahwa setiap makhluk telah
diberi pengetahuan oleh Allah tentang cara ibadahnya masing-masing, sehingga
burung dengan kepakan sayapnya, manusia dengan shalatnya, dan makhluk lain
dengan caranya sendiri, semuanya adalah bentuk ibadah yang sah.[5]
Ath-Ṭabari
menguraikan bahwa dhamir dalam عَلِمَ kembali kepada Allah, sehingga maknanya
adalah: Allah mengetahui cara shalat dan tasbih masing-masing makhluk.[6]
Dengan demikian, struktur ayat menegaskan pengetahuan Allah yang menyeluruh,
sekaligus menunjukkan keteraturan ibadah seluruh makhluk
Ayat 42
Pada ayat terdapat dengan kata وَلِلَّهِ Wāw di sini adalah ‘athf
istinafiyyah (permulaan kalimat baru). Li (لِ) berfungsi
sebagai ḥarf jarr yang menunjukkan kepemilikan/khusus bagi Allah.[7]
Maknanya: “Dan hanya milik Allah-lah...”[8]
مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْض, (مُلْك) dalam bahasa Arab berarti kekuasaan,
kerajaan, otoritas penuh atas sesuatu,dan memiliki atau menguasai secara
mutlak.[9]
Jadi “kerajaan langit dan bumi seluruhnya hanya berada di tangan Allah.”
وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ, (إلى) menunjukkan
arah kembali, tujuan akhir.[10]
Al-maṣīr (ٱلْمَصِير) berasal dari kata ṣāra (صار) yang berarti “kembali,
berakhir, menuju”.Artinya: “dan kepada Allah-lah tempat kembali (akhir
semua makhluk).”
Ayat
43
اَلَمْ تَرَ “Tidaklah kamu melihat” kata kamu
disini ditujukan kepada nabi Muhammad,
اَنَّ اللّٰهَ يُزْجِيْ “Bahwa Allah mengarak”maksud mengarak
disini adalah mengarak atau menggiring سَحَابًا
yakni “awan”.Selanjutnya kata ثُمَّ يُؤَلِّفُ
“kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya”.Maksud dari
ayat tersebut adalah dia mengumpulkan diantara awan-awan itu. ثُمَّ يَجْعَلُهٗ رُكَامًا “kemudian
menjadikannya bertindih-tindih” maksudnya adalah,kemudian dari kumpulan
awan tersebut Allah menjadikannya رُكَامًا
atau saling bertindih sebagaimana riwayat yang diriwayatkan oleh Abdul Hamid
bin Bayan menceritakan kepada kami, ia berkata: Khalid memberitahukan kepada
kami, ia berkata: Mathar menceritakan kepada kami dari Hubaib bin Abu Tsabit,
dari Ubaid bin Umair Al-Laits, ia berkata, "Angin itu ada empat macam.
Allah mengutus angin yang pertama yang menjadikan bumi kering kerontang,
kemudian mengutus angin yang kedua, lalu dia menjadi awan, kemudian mengutus
yang ketiga, dia mengumpulkan awan-awan itu menjadi saling bertindih, kemudian
mengutus yang keempatnya lalu menjadikannya hujan.”selanjutnya lafadz فَتَرَى
الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهٖۚ “maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya”
maksud dari lafadz tersebut adalah hujan turun melalui awan tersebut.pada kitab
tafsir At thabari terdapat hadist dari Ibnu Hatim dalam tafsirnya dan Al
Mawardi dalam An Nukat wa Al uyun yang menjelaskan lafadz ini dimana
terdapat hadist yang berbunyi “Yunus menceritakan kepadaku,ia berkata: Ibnu
Wahab memberitahukan kepada kami,ia berkata : Ibnu Zaid berkata tentang Firman
Allah : فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ
خِلٰلِهٖۚ ,Ibnu Zaid berkata bahwa kata الْوَدْقَ
artinya tetesan sedangkan kata خِلٰلِه
artinya awan.”selanjutnya lafadz وَيُنَزِّلُ
مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ جِبَالٍ فِيْهَا مِنْۢ بَرَدٍ “Dan Allah
(juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit”. Frasa ‘min jibālin fīhā min barad’
dipahami oleh mufassir klasik seperti al-Ṭabarī dan al-Qurṭubī sebagai
metafora tentang gunung-gunung awan yang diibaratkan seperti pegunungan di
langit, tempat terbentuknya butiran es. Sementara mufassir modern seperti
Quraish Shihab menafsirkan fenomena ini secara ilmiah sebagai proses kondensasi
dan pembekuan uap air di awan kumulonimbus. Kedua pendekatan ini tidak
bertentangan, sebab ayat ini bukan uraian meteorologi teknis, melainkan
penegasan tanda kebesaran Allah yang mengatur hukum alam (sunnatullah).selanjutnya
lafadz وَيَصْرِفُهٗ عَنْ مَّنْ يَّشَاۤءُۗ
“Maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang
dikehendaki-Nya.”Maksudnya adalah Allah mengadzab dengan apa yang telah
diturunkan-Nya dari langit berupa es sebesar gunung terhadap siapa saja yang
dikehendaki dan dalam kata وَيَصْرِفُهٗ عَنْ مَّنْ
يَّشَاۤءُۗ “ Dan dipalingkanNya dari siapa yang dikehendakiNya maksudnya
adalah dari harta dan tanaman mereka. يَكَادُ سَنَا بَرْقِهٖ يَذْهَبُ بِالْاَبْصَارِۗ
“Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan”. Maksudnya
adalah hampir-hampir kilatan sinar awan tersebut menghilangkan pandangan mata
yang melihatnya.lalu kata سَنَا memiliki arti
terbatas,yaitu sinar kilatan sebagaimana terdapat satu riwayat dari Ibnu Hatim
yang berisi Al Qasim menceritakan kepada kami,ia berkata kepada kami : Al
Husain menceritakan kepada kami,ia berkata : Hajjaj menceritakan kepadaku dari
Atha’ Al Khurasani dari Ibnu Abbas,tentang firman Allah.
يَكَادُ سَنَا “kilauan kilat awan itu hampir-hampir”,ia berkata “maksudnya
adalah kilauan kilat.”[11]
TUJUAN SURAH AN
NUR AYAT 41-43
Ayat 41
surah al-Nūr menegaskan beberapa tujuan penting. Pertama, ayat ini menunjukkan
ketauhidan Allah, bahwa semua makhluk di langit dan bumi, termasuk burung yang
terbang di udara, bertasbih hanya kepada-Nya. Hal ini menegaskan bahwa Allah
adalah satu-satunya yang layak disembah. Selain itu, penjelasan bahwa setiap
makhluk mengetahui cara shalat dan tasbihnya memperlihatkan bahwa ibadah bukan
hanya kewajiban manusia, tetapi juga hukum yang berlaku bagi seluruh ciptaan.[12]
Di
samping itu, ayat ini mengarahkan manusia agar lebih sadar akan kewajiban
beribadah dengan melihat keteraturan alam yang selalu bertasbih. Manusia
seharusnya menempatkan dirinya sejalan dengan ciptaan lain yang tunduk kepada
Allah. Dari sini juga muncul pesan agar manusia menjaga alam, karena alam
adalah sesama makhluk yang sedang beribadah. Merusak alam berarti mengganggu
keteraturan tasbih makhluk kepada Allah. Dengan demikian, ayat ini bukan
sekadar menjelaskan tentang tasbih makhluk, tetapi juga memberi pesan tentang
keyakinan, etika, dan tanggung jawab manusia untuk menjaga ciptaan Allah.[13]
Ayat 42 menegaskan bahwa Allah
adalah pemilik langit dan bumi, dan kepada-Nya semua akan kembali. Tujuannya
adalah menanamkan keyakinan bahwa hanya Allah yang berkuasa dan berhak mengatur
kehidupan. Lalu ayat 43 menggambarkan bagaimana Allah membentuk awan,
menurunkan hujan, dan memperlihatkan kilat. Tafsir Al-Azhar menyebut bahwa
tujuan ayat ini adalah menunjukkan bukti nyata kekuasaan Allah dalam mengatur
alam, mendatangkan rahmat, sekaligus memberi peringatan. Secara keseluruhan,
ayat-ayat ini bertujuan menumbuhkan iman, rasa syukur, dan ketundukan manusia
kepada Allah melalui renungan terhadap alam sekitar.[14]
ANALISIS SURAH
AN NUR AYAT 41-43
Ayat 41 surah al-Nūr
menjelaskan bahwa semua makhluk bertasbih kepada Allah. Al-Qurṭubī menegaskan
bahwa lafaz يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ mencakup seluruh
ciptaan, baik yang hidup maupun benda mati.[15] Hal
ini menunjukkan bahwa tasbih adalah fitrah bersama semua makhluk, bukan hanya
milik manusia. Frasa وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ “dan burung dengan mengembangkan
sayapnya” dipahami sebagai bukti bahwa bahkan burung pun memiliki cara
tersendiri dalam memuji Allah. Menurut al-Qurṭubī, kepakan sayap burung
merupakan bentuk ibadah mereka.[16] Quraish
Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menambahkan bahwa penyebutan burung di sini
adalah contoh nyata yang mudah disaksikan manusia, sehingga mereka dapat
belajar bahwa seluruh gerak kehidupan sesungguhnya adalah ibadah.[17]
Selanjutnya, pada kalimat كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ, para mufassir
menjelaskan bahwa setiap makhluk telah diajarkan oleh Allah cara ibadahnya.
Manusia beribadah dengan shalat, malaikat dengan tasbih yang terus-menerus,
burung dengan kepakan sayapnya, dan makhluk lain dengan cara yang sesuai dengan
kodratnya.[18]
Dengan kata lain, ibadah itu tidak tunggal bentuknya, tetapi beragam sesuai
ciptaan Allah. Di akhir ayat, frasa وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui semua amal makhluk, sehingga tidak ada
tasbih yang luput dari pengetahuan-Nya. Quraish Shihab menekankan bahwa hal ini
menjadi pelajaran etis: jika burung dan seluruh makhluk tunduk kepada Allah,
maka manusia lebih utama lagi untuk melakukannya dengan kesadaran dan
kesungguhan.[19]
Ayat
42 menjelaskan bahwa sesungguhnya allah SWT Adalah pemilik Segala yang ada di
langit dan bumi. Dialah yang menguasai, mengotrol.mengadilikan, Dan bebas
berbuat terhadap semua itu Seperti mewujudkan dan meniadakan. Menghidupkan dan
mematikan. Allah SWT. Iilah yang di sembahkan tiada yang bisa menganulir Dan
menyanggahKeputusan-Nya Dan Hanya kepada nya lah tempat Kembali Mereka semua
pada hari Kiamat. Lalu Dia mengadili dan memberikan putusan sesuai dengan
kehendak-nya dan membalas sesuai denga napa yang dia inginkan seperti firmannya
Dalam ayat “Dan milik Allah-lah apa yang ada dilangit dan apa yang ada bumi (dengan
demikian) Dia akan memberi balasan kepada orang orang yang berbuat jahat sesuai
denga napa yang telah mereka kerjakan dan dia akan memberi balasan kepada orang
orang yang berbuat baik dengana pahala yang lebih baik ( surga ).” (
an-Najm:31 ).
Intinya Adalah sesungguhnya keagungan alam
semestea, penciptaan langit dan bumi berikut makluk hidup maupun benda mati
yang Allah SWT tebarkan Pada Keduanya segala konstruksi anatomi manusia
manusia,keragaman dunia hewan di darat, laut dan Udara berikut Binatang
terbesar dan Binatang miskroskopik yang bisa kita saksikan yang begitu
mengagumkan, keunikan lebah dalam membangun rumahnya dan memproduksikan madu,
jarring jarring laba laba yang tampak lemah namum mampu menjebak dan menangkap
serangga, keajaiban keajaiban aktivitas burung, pengaturan dan perbuatan allah
terhadap semua makhluk dalam hal
mewujudkan dan meniadakan, menciptakan dan mematikan semua itu Adalah bukti
petunjuk yang pasti. nyata,fakta dan tidak terbantahkan akan wujud Allah yang
menciptakan dan tiada Sesembahan Selain Dia.[20]
Ini Adalah bukti dan ayat kosmik pertama
tentang wujud allah SWT, kuasa-nya dan keesaan-nya. Bukti pentujuk ini mencakup
sejumlah bukti petunjuk turunan yang masing masing sebenarnya sudah cukup untuk
membentukan rasa yakin dan percaya. Apa
yang disebutkan dalam dua ayat diatas bisa dikelompokkan menjadi dua bukti
umum. Pertama. Bukti ubuudiyyah di alam atas ( langit ) dan alam
bawah (bumi) kedua bukti kekuasaan dan kepemilikan mutlaak serta kesamaan
tempat Kembali semua makhluk kepada allah SWT.
Ayat 43 menguraikan fenomena alam berupa
pembentukan awan, turunnya hujan, dan munculnya kilat. Wahbah az-Zuhaili
menekankan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut adalah tanda kekuasaan Allah yang
tidak dapat diatur oleh manusia. Awan yang dikumpulkan lalu menurunkan hujan
merupakan bukti rahmat Allah, sementara kilat yang menimbulkan rasa takut
menjadi bentuk peringatan. Analisis ini menunjukkan bahwa ayat tersebut
menggabungkan sisi kasih sayang Allah (rahmat) dan sisi ancaman-Nya
(peringatan).Secara keseluruhan, Tafsir al-Munir melihat tiga ayat ini sebagai
ajakan untuk merenungkan alam semesta, meneguhkan keimanan kepada Allah, serta
menumbuhkan rasa syukur dan takut sekaligus kepada-Nya. Dengan kata lain,
ayat-ayat ini berfungsi sebagai sarana tazkiyah (penyucian jiwa) melalui
penguatan akidah, kesadaran spiritual, dan refleksi terhadap fenomena alam.[21]
RELEVANSI SURAH
AN NUR 41-43 DI KEHIDUPAN MODERN
Surah An-Nur ayat 41–43 memiliki
relevansi yang kuat dalam kehidupan modern, terutama dalam membangun kesadaran
spiritual, etika sosial, dan kepedulian lingkungan. Ayat 41 surah al-Nūr memiliki pesan yang relevan dengan
kehidupan manusia saat ini. Pertama, ayat ini mengingatkan bahwa seluruh
makhluk di alam semesta tunduk dan bertasbih kepada Allah. Kesadaran ini bisa
menjadi dorongan bagi manusia modern yang sering sibuk dengan pekerjaan,
teknologi, dan urusan duniawi, agar tidak melupakan ibadah. Jika alam saja
senantiasa memuji Allah dengan caranya, maka manusia yang diberi akal
seharusnya lebih mampu menjaga kedekatan dengan-Nya. Kedua, ayat ini membawa
pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan. Dalam era modern, manusia sering
mengeksploitasi alam tanpa batas sehingga terjadi kerusakan ekologi, polusi,
dan perubahan iklim. Dengan memahami bahwa alam juga sedang bertasbih, manusia
diingatkan untuk memperlakukan alam dengan penuh tanggung jawab. Menjaga hutan,
air, udara, dan makhluk hidup lain berarti ikut menjaga ibadah mereka kepada
Allah. Ketiga, ayat ini memberi pelajaran etika sosial. Manusia modern sering
merasa paling berkuasa karena ilmu pengetahuan dan teknologi. Padahal, ayat ini
menegaskan bahwa semua makhluk, besar maupun kecil, sama-sama tunduk kepada
Allah. Ini dapat menumbuhkan sikap rendah hati dan menghindarkan manusia dari
sifat sombong.
Ayat 42 menekankan bahwa Allah-lah
pemilik langit dan bumi, dan kepada-Nya semua akan kembali. Pesan ini relevan
dengan kondisi modern ketika banyak orang terjebak pada materialisme dan
kekuasaan duniawi. Ayat ini mengajarkan bahwa kekuasaan manusia hanyalah
sementara, sedangkan hakikat kehidupan adalah pengabdian dan pertanggungjawaban
kepada Allah. Dengan kesadaran ini, manusia modern diarahkan untuk hidup lebih
etis, adil, dan tidak sewenang-wenang dalam memanfaatkan sumber daya.
Ayat 43 yang menggambarkan fenomena
awan, hujan, dan kilat, sangat relevan dengan isu lingkungan masa kini.
Fenomena perubahan iklim, bencana alam, dan krisis air menjadi pengingat bahwa
manusia tidak mampu mengendalikan sepenuhnya alam. Ayat ini mengajarkan agar
manusia merenungkan kekuasaan Allah melalui gejala alam, sekaligus menumbuhkan
kesadaran ekologis untuk menjaga bumi.Dengan demikian, relevansi ayat 41 hingga
ayat 43 dalam kehidupan modern adalah meneguhkan tauhid di tengah arus
materialisme, menumbuhkan sikap rendah hati di era teknologi, serta
membangkitkan kesadaran ekologis di tengah krisis lingkungan.
KESIMPULAN
Surah An-Nūr ayat 41–43 memperlihatkan
keserasian antara ajaran tauhid, pemikiran tentang alam, dan kesadaran
ekologis. Ayat 41 menegaskan bahwa seluruh makhluk, baik manusia maupun
selainnya, memiliki cara masing-masing untuk bertasbih kepada Allah. Ayat 42
menekankan kepemilikan mutlak Allah atas langit dan bumi, serta kepastian bahwa
semua makhluk akan kembali kepada-Nya. Ayat 43 menggambarkan fenomena alam
berupa awan, hujan, dan kilat sebagai bukti nyata kekuasaan Allah yang
mendatangkan rahmat sekaligus memberi peringatan.
Dengan memahami rangkaian ayat ini, dapat disimpulkan bahwa manusia tidak boleh melepaskan diri dari kesadaran akan kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari. Semua peristiwa alam yang dijelaskan Al-Qur’an bukan hanya gejala fisik, tetapi juga tanda kebesaran Allah yang harus diperhatikan. Pesan utamanya adalah agar manusia semakin kokoh dalam tauhid, menjaga ibadahnya, serta menumbuhkan tanggung jawab etis terhadap alam dan lingkungan. Dengan demikian, Surah An-Nūr ayat 41–43 menghadirkan panduan komprehensif: menguatkan iman, membangun sikap rendah hati di tengah kemajuan ilmu dan teknologi, sekaligus meneguhkan komitmen menjaga kelestarian ciptaan Allah.
[1]
Departemen Agama RI, Al Qur’an dan
Terjemahannya (JAkarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al Qur’an, 2019).
[2] Muhammad Abdul LAthif Khalaf
Mahmud Mursi Abdul Hamid Amhad Abdurraziq Al Baqri, Muhammad adil Muhammad, Tafsir At Thabari Jami’ Al bayan Fi ta’wil
Al Qur’an jilid 18 (Indonesia: PUSTAKA AZZAM, 2022).
[7]
Al Zamakhsyari, al-Kashshāf ‘an Ḥaqā’iq
at-Tanzīl, jilid 3. (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 2009)hlm 231.
[8]
Ibn Hishām al-Anṣārī, Mughnī
al-Labīb ‘an Kutub al-A‘ārīb, jilid 1. (Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1992)hlm 37.
[11]
Mahmud Mursi Abdul Hamid Amhad Abdurraziq Al Baqri, Muhammad adil Muhammad,
Tafsir At Thabari Jami’ Al bayan Fi
ta’wil Al Qur’an jilid 18.
[12] syaikh Imam Al Qurtubi, al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, jilid 12.
(Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2006)hlm 271.
Penulis:
Af’idah Qurrota A’yun | (231111090) |
Yudha Fareza Nur Aziz | (231111110) |
Almassa Yuso Hafidh Nur Rafi | (231111114) (231111106) (231111077) |

Komentar
Posting Komentar