“Bahaya Menyebarkan Aib dan Dampaknya bagi Masyarakat: Analisis QS An-Nur 19–20”
Q.S an-Nūr [24] mengandung pendidikan moral mengenai larangan
menyebarkan berita palsu atau segala sesuatu yang mengandung unsur negatif. Juga
peringatan terhadap orang-orang yang menyambut gembira atas berita palsu
mengenai saudara seiman yang akan terancam azāb pedih di dunia dan di akhirat. Konteks
ayat ini diturunkan saat peristiwa al-Ifk yang menjadi bencana bagi ‘Āisyah r.a
dan kaum muslim saat itu, untuk melindungi kehormatan Isteri Rasulullah dan
ketenteraman sosial.
Zaman globalisasi seperti saat
ini tentunya keseluruhan aspek dari kehidupan akan cepat tersebar, contohnya
berita. Berbagai platform yang tersedia memudahkan akses bagi siapa saja
menerima berita terbaru. Sayangnya, tidak sedikit pengguna menyebarkan berita tanpa
mengecek kevalidan berita tersebut. Mirisnya, sebagian orang menggunakan
platform media sosial sebagai ajang untuk menyebarkan berita miring. Maka dari
itu, setiap individu memerlukan sebuah pelindung untuk mengantisipasi hal yang
tidak diinginkan.
Untuk memastikan ketertiban dan integritas di dunia digital, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Berangkat dari sini, sejalan dengan prinsip Q.S an-Nūr [24] ayat 19-20 tentang larangan menyebarkan keburukan untuk menjaga kehormatan individu. Dengan kedua instrumen tersebut saling melengkapi diharapkan terjadi keharmonisan dalam masyarakat.
اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ
اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ فِى
الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
وَلَوْلَا
فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَاَنَّ اللّٰهَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Terjemah
Kemenag
19.
Sesungguhnya orang-orang yang senang atas tersebarnya (berita bohong) yang
sangat keji itu di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azāb yang
sangat pedih di dunia dan di akhirat. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak
mengetahui.
20. Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu dan (bukan karena) Allah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azāb yang besar).[1]
Asbāb Al-Nuzūl
Q.S an-Nūr [24]:19–20
diturunkan bersamaan dengan ayat 11 hingga 20 sebagai tanggapan terhadap
tuduhan palsu yang menimpa Sayyidah ‘Āisyah r.a. Peristiwa ini dikenal dengan Ḥādiṡul ifk,
yakni fitnah besar yang menggemparkan masyarakat Madinah pada masa Rasūlullah.
Kejadian tersebut bermula sepulangnya Nabi dan para sahabat dari Perang Bani
Musthaliq. Saat itu, ‘Āisyah yang ikut
dalam rombongan tertinggal karena mencari kalungnya yang hilang. Tanpa
menyadari bahwa beliau belum kembali, rombongan melanjutkan perjalanan. Kemudian,
seorang sahabat bernama Shafwān bin al-Mu‘attal menemukan ‘Āisyah dan mengantarnya kembali ke Madinah. Ketika
mereka tiba bersama, kaum munafik yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin
Salul menyebarkan fitnah keji bahwa keduanya telah melakukan perbuatan tercela.[2]
Berita palsu ini cepat menyebar di tengah masyarakat,
bahkan sebagian kaum Muslimin ikut percaya dan menyebarkannya tanpa memastikan
kebenarannya terlebih dahulu. Dalam tekanan dan kesedihan yang mendalam, Rasulullah
menunggu petunjuk dari Allah. Beberapa waktu kemudian, Allah menurunkan
ayat-ayat dalam Surah Q.S an-Nūr [24] untuk membela dan membersihkan nama ‘Āisyah ,
menegur para penyebar fitnah, serta memberikan peringatan kepada umat Islam
tentang pentingnya berhati-hati dalam berbicara dan menjaga kehormatan sesama.
Maka Allah menurunkan ayat-ayat Q.S an-Nūr [24], khususnya ayat 19-20 untuk membersihkan nama ‘Āisyah r.a. dan memperingatkan orang-orang yang menyebarkan fitnah. Q.S an-Nūr [24]: 19 menegaskan bahwa siapa saja yang menyukai tersebarnya berita keji di kalangan kaum beriman (seperti gosip, fitnah, atau tuduhan zina), maka mereka akan mendapat azāb pedih di dunia dan akhirat, bahkan jika mereka tidak melakukannya sendiri dengan cukup menyukai atau menyebarkannya saja sudah termasuk berdosa. Sedangkan Q.S an-Nūr [24]: 20 mengingatkan bahwa karunia dan rahmat Allah telah menyelamatkan kaum muslimin dari kehancuran dari akibat fitnah tersebut. Seandainya Allah tidak melindungi mereka, fitnah itu bisa menimbulkan perpecahan besar.
Munāsabah Ayat
Q.S an-Nūr [24]: 19-20
adalah salah satu dari nasihat yang Allah turunkan kepada kaum muslim setelah
peristiwa al-Ifk. Nasihat pertama pada Q.S
an-Nūr [24]: 12 yang berisi
perintah untuk berprasangka baik kepada sesama saudara muslim. Kedua, Q.S
an-Nūr [24]: 13
yang berisi teguran dari Allah kepada orang-orang yang membicarakan berita
tanpa mendatangkan empat orang sanksi, di hadapan Allah mereka adalah pendusta.
Ketiga, Q.S an-Nūr [24]: 14
yang berisi teguran juga dari Allah kepada para pendusta, atas Rahmat-Nya Allah
masih memberikan kesempatan bagi para pendusta untuk bertaubat. [3]
Keempat, Q.S
an-Nūr [24]: 15 yang merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya
bahwa, jika bukan atas rahmat-Nya Allah akan menimpakan azāb yang besar sebab para pendusta itu menyebarkan berita
palsu tentang keluarga Rasūlullah. Kelima, pada Q.S
an-Nūr [24]: 16
merupakan pendidikan adab, di mana ketika terdengar berita negatif tentang isteri
Rasulullah
seharusnya yang mendengar langsung membantah berita
tersebut. Keenam, Q.S an-Nūr [24]: 17
tentang peringatan Allah agar tidak mengulangi perbuatan itu lagi (menyebarkan
berita bohong). Kemudian nasihat dari Allah akan dilanjutkan dengan membahas Q.S
an-Nūr [24]: 19-20.
Q.S an-Nūr
[24]: 19-20 berisi penegasan
nasihat dari Allah supaya kita sebagai seorang muslim tidak menjadi penyebar
dan pendukung berita palsu atas saudara semuslim. Jika kita menjadi orang-orang
yang seperti itu maka Allah akan mengazāb di dunia dan di akhirat. Kemudian dilanjutkan dengan
penegasan dari sifat Allah Yang Maha Pengampun. Atas rahmat dan kasih sayang
Allah, masyarakat muslim yang menyebarkan berita palsu itu tidak segera diazāb di tempat, melainkan Allah masih memberi waktu bagi
mereka untuk bertaubat. [4]
Nasihat
pasca peristiwa al-Ifk masih berlanjut hingga Q.S an-Nūr [24]: 21, dalam ayat
ini dijelaskan bahwa peristiwa al-Ifk terjadi tidak lain sebab ulah syaiṭān. Perlahan manusia mulai mengikuti langkah syaiṭān hingga
benar-benar terjerumus. Pada ayat ini ditegaskan bahwa orang-orang mukmin
hendaknya tidak mengikuti langkah syaiṭān. Syaiṭān memiliki langkah yang
apabila tidak disadari, kita mengikutinya sampai neraka. Mengikuti langkah syaiṭān
adalah hal yang keji, atas rahmat dan kasih sayang Allah seseorang dapat
terhindar dari hal yang keji itu dan atas kasih sayang Allah, manusia
mendapatkan segala kebaikan. [5]
Hikmah yang dapat diambil dari Q.S an-Nūr [24]: 11-21 dengan kehidupan modern saat ini adalah pesan tentang etika sosial dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari pesan yang disampaikan kepada individu agar tidak menuduh saudara semuslim melakukan zina tanpa mendatangkan saksi. Kemudian, nasihat kepada para pendengar berita miring tentang saudara semuslim agar tidak langsung memercayai berita negatif tersebut melainkan mengutamakan ḥusnuẓẓan. Ditutup dengan penegasan bahwa Allah akan memberikan azāb yang pedih apabila kita menyebarkan dan bahagia atas tersebarnya berita palsu. Namun, atas kasih sayang Allah, orang-orang mukmin yang terlibat dalam peristiwa itu masih diberikan kesempatan untuk bertaubat.
Analisa Kebahasaan
Pada ayat ke-19
Q.S An-Nūr [24], struktur kalimat dimulai dengan lafaz إِنَّ
الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ, di mana إِنَّ berfungsi
sebagai ḥarf nasb wa tawqīd (huruf penegas dan penashab) yang
menyebabkan ism-nya dalam keadaan manshūb dan khabar-nya marfū‘.
Lafaz الَّذِيْنَ berperan
sebagai ism إِنَّ dalam keadaan manshūb, sedangkan يُحِبُّوْنَ
merupakan fi‘il muḍāri‘ marfū‘ dengan tanda tsubūt nūn
karena termasuk dalam kategori af‘āl al-khamsah, dengan huruf wāw
berfungsi sebagai fā‘il atau pelaku. Susunan ini membentuk klausa
pembuka yang bermakna “sesungguhnya orang-orang yang mencintai”, menunjukkan
subjek utama dalam konteks ancaman ayat.
Selanjutnya, lafaz
أَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ menunjukkan
hubungan gramatikal penting. Lafaz أَنْ merupakan ḥarf
maṣdarīyah nāṣibah yang menashabkan fi‘il setelahnya, yaitu تَشِيْعَ yang menjadi fi‘il muḍāri‘ manshūb dengan tanda fatḥah
ẓāhirah di akhir kata. Lafaz الْفَاحِشَةُ
bertindak
sebagai fā‘il dari fi‘il tersebut dalam keadaan marfū‘ dengan
tanda ḍammah. Lafaz ini membentuk maṣdar mu’awwal yang berfungsi
sebagai maf‘ūl bih dari kata يُحِبُّوْنَ, sehingga secara makna keseluruhan berarti “mencintai
tersebarnya perbuatan keji.” Struktur ini menegaskan bahwa penyebaran keburukan di sini bukanlah pasif,
tetapi tindakan yang disengaja dan disukai oleh pelakunya.
Menurut tafsir
Syaikh Muḥammad bin Ṣāliḥ Ibn ‘Uthaymīn, kata اَنْ
تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ bermakna “agar kemaksiatan tersebut tersebar dan tampak di tengah
masyarakat”, baik melalui ucapan (kata‐kata) maupun melalui perbuatan yang
nyata sehingga orang mampu menyaksikannya. Dengan demikian, penyebaran tidak bersifat
pasif melainkan mencakup manifestasi eksternal dan kesadaran internal bahwa
kemaksiatan itu menjadi terlihat dan diketahui umum.[6]
Lafaz berikutnya, فِيْ الَّذِيْنَ آمَنُوا
tersusun dari huruf jar فِيْ dan ism
maushūl الَّذِيْنَ dalam keadaan majrūr karena mengikuti huruf jar tersebut.
Kata آمَنُوا merupakan fi‘il māḍī dengan wāw sebagai fā‘il,
berfungsi sebagai ṣilah maushūl bagi الَّذِيْنَ. Secara fungsi
sintaksis, lafaz ini menjadi jar wa majrūr yang terikat dengan fi‘il تَشِيْعَ, menjelaskan sasaran
dari tindakan penyebaran, yakni “di kalangan orang-orang beriman.” Hal ini
memberikan penekanan bahwa objek penyebaran fitnah atau keburukan adalah
kelompok beriman yang memiliki posisi mulia dalam masyarakat Islam.
Selanjutnya
pada bagian لَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌ, konstruksi kalimat
menunjukkan susunan khabar-mubtada’ mu’akhkhar, di mana لَهُمْ sebagai jar
wa majrūr berfungsi sebagai khabar muqaddam (predikat yang
didahulukan), sedangkan عَذَابٌ berperan
sebagai mubtada’ mu’akhkhar dalam keadaan marfū‘ dengan tanda ḍammah.
Kata أَلِيمٌ menjadi na‘t
atau sifat dari عَذَابٌ, juga dalam keadaan marfū‘. Struktur ini digunakan untuk
memberikan tekanan makna pada akibat yang akan diterima oleh pelaku penyebaran
keburukan, yaitu “bagi mereka azāb yang pedih.” Adapun frasa فِْي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ berfungsi sebagai ẓarf makān wa zamān (keterangan tempat dan
waktu) yang menjelaskan cakupan azāb tersebut, mencakup kehidupan dunia dan
akhirat.
Berlanjut
pada ayat ke-20, struktur kalimat diawali dengan لَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ. Kata لَوْلَا merupakan ḥarf imtinā‘ li al-wujūd yang berarti “seandainya
tidak,” menunjukkan pengandaian terhadap sesuatu yang mencegah datangnya azāb.
Kata فَضْلُ berkedudukan sebagai mubtada’ marfū‘, sedangkan اللَّهِ menjadi muḍāf
ilayh majrūr karena status genitifnya dalam konstruksi iḍāfah. Frasa
عَلَيْكُمْ berfungsi sebagai jar wa majrūr yang berkaitan langsung dengan فَضْلُ,
menjelaskan arah atau penerima karunia, yakni “atas kalian.” Kemudian وَرَحْمَتُهُ di‘athafkan kepada فَضْلُ اللَّهِ,
sehingga status i‘rāb-nya juga marfū‘.
Selanjutnya, وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ merupakan kalimat penegas yang diawali dengan أَنَّ sebagai ḥarf nasb wa tawqīd, menyebabkan اللَّهَ menjadi ism أنَّ dalam keadaan manshūb, dan رَءُوْفٌ sebagai khabar أنَّ dalam keadaan marfū‘. Kata رَحِيمٌ menjadi na‘t bagi رَءُوْفٌ, juga marfū‘, memperkuat penegasan sifat Allah sebagai Maha Lembut dan Maha Penyayang. Struktur ini menggambarkan kesinambungan makna dari ayat sebelumnya: jika bukan karena karunia dan rahmat Allah, maka azāb yang pedih sebagaimana disebutkan sebelumnya pasti menimpa mereka.
Tujuan Ayat
Seorang mukmin tidaklah
memiliki hak untuk menyebarkan berita palsu atau buruk atas orang lain.
Sedangkan jika berita tersebut terverifikasi benar, maka hendaknya menutup aib
atas keburukan itu.[7]
Q.S an-Nūr [24]:19 ini melanjutkan ancaman sekaligus
pengajaran dari Allah dengan pernyataan sesungguhnya orang-orang yang senang
tersebarnya kekejian entah lisan, perbuatan maupun berita di kalangan
orang-orang yang beriman bagi mereka azāb yang pedih di dunia dan di akhirat,
jikalau mereka tidak berniat untuk taubat maka Allah yang akan
menetapkan hukuman yang tepat.[8]
Ayat ini memiliki tujuan untuk mencegah penyebaran fitnah
dan berita palsu, Allah sangat melarang siapa pun untuk menyukai atau ikut
menyebarkan berita palsu dan perbuatan keji. Pencegahan ini bertujuan untuk
menjaga kehormatan dan martabat seseorang serta mencegah rusaknya marwah akibat
fitnah. Kemudian dilanjutkan dengan memberi peringatan mengenai akibat
menyebarkan berita palsu tersebut yakni dengan ancaman azāb yang pedih di dunia
dan di akhirat bagi orang-orang yang menyebarkan berita palsu dan perbuatan
keji tanpa adanya bukti. Peringatan ini bertujuan untuk memberikan efek jera
agar umat islam tetap berhati-hati dalam berbicara dan tidak mudah menyebarkan
berita palsu tanpa adanya kebenaran fakta yang ada.
Q.S an-Nūr [24]: 20 menjelaskan
bahwa Allah memberi larangan pada ayat-ayat sebelumnya, karena merupakan wujud
kasih sayang Allah kepada umat manusia. Para penyebar berita palsu tetap
terlimpahkan rahmat dan karunia dari Allah salah satunya berbentuk memberi
mereka kehidupan beserta kelengkapannya. Jika Allah bukanlah Maha Pengasih dan
Maha Penyayang, pasti mereka sudah binasa akibat perbuatan mereka. Namun karena
kasih sayang-Nya, Allah senantiasa memberikan berbagai kebaikan kepada
hamba-hamba-Nya, meskipun terkadang mereka melakukan kesalahan dan berdosa.
Karena adanya larangan ini, dunia masih aman sampai sekarang, karena banyak
orang, terutama umat Muslim, masih mematuhi perintah tersebut.[9]
Tujuan ayat ini guna Mengingatkan bahwa hanya dengan rahmat Allah-lah
umat bisa selamat dari perpecahan dan dosa besar akibat lisan, serta membentuk
pribadi Muslim yang bijak, berhati-hati, dan menjaga kehormatan sesama.
Secara garis besar Q.S an-Nūr [24]: 19–20 mengandung
pelajaran penting tentang etika sosial dan adab bermasyarakat. Allah melarang
umat Islam untuk menyukai atau menyebarkan berita keji, karena hal tersebut
dapat merusak kepercayaan dan menimbulkan kebencian. Islam menekankan
kehormatan seorang Muslim oleh karena itu, menjaga kehormatan orang lain
merupakan kewajiban moral setiap individu beriman. Nilai yang diajarkan dalam
ayat ini adalah agar umat Islam tidak mudah mempercayai isu atau berita yang
belum jelas kebenarannya, karena sikap tergesa-gesa dalam menerima informasi
dapat menimbulkan fitnah dan kesalahpahaman. Selain itu, Islam juga melarang
keras menyebarkan aib orang lain, bahkan jika berita tersebut benar, karena
membuka aib sama saja dengan mempermalukan saudara sendiri di hadapan khalayak.
Ayat ini juga menegur orang-orang yang menikmati atau senang mendengar berita keburukan tentang orang lain, sebab sikap seperti itu menunjukkan hati yang kotor dan jauh dari kasih sayang sesama. Dengan demikian, tujuan utama ayat ini adalah membentuk umat beriman yang bersih dari fitnah, berita palsu, dan perilaku tercela, serta menanamkan budaya saling menjaga kehormatan, saling percaya, dan saling menasihati dalam kebaikan. Muslimin yang berpegang pada nilai ini akan menjadi masyarakat yang damai, harmonis, dan berakhlak mulia, sebagaimana yang diharapkan dalam ajaran Islam.
Analisa Ayat : Q.S an-Nūr [24]: 19-20
اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ
اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ فِى
الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Sesungguhnya orang-orang
yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di
kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azāb yang pedih di dunia dan
di ahirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.[10]
Ayat ini diawali dengan kata اِنَّ
, yang menunjukkan keadaan nyata tentang sesuatu yang
tidak bisa dihindari padahal harus dihindari. Kemudian kata يُحِبُّوْنَ
bermakna
sangat
senang, yaitu keadaan yang menunjukkan kebiasaan. Kebiasaan yang dimaksud di
sini merujuk kepada kata الْفَاحِشَةُ
perbuatan yang keji, salah satunya adalah
menyebarkan berita palsu. Orang-orang yang sengaja menyebarkan berita palsu,
menebar berita tentang perselingkuhan di tengah-tengah kaum muslim, apalagi
berita palsu tersebut menyangkut rumah tangga Rasulullah dalam Tafsir Fathul
Qadir disebutkan bahwa mereka adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, Hassan bin Tṡabit,
Masthah bin Utsatsah, dan Hamnah binti Jahsy. Dari orang-orang tersebut yang
paling banyak andil dalam peristiwa ini adalah Abdullah bin Ubay. [11]
Dalam
Tafsir al-Misbah dijelaskan bahwa orang yang dengan gamblang membuat dan menyebarkan
berita palsu menjadi orang menduduki sebagai pokok penyebab peristiwa ini, dia
akan mendapatkan dosa paling besar dan ancaman azāb di dunia dan di akhirat.
Bukan hanya itu, orang-orang yang menyambut gembira berita palsu itu walaupun
mereka tidak terlibat secara langsung, mereka juga turut diancam azāb yang
pedih. Dengan demikian, yang secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi
menyambut berita palsu itu mereka akan mendapatkan azāb. [12]
Imam Ahmad meriwayatkan
dari Tṡauban dari Rasulullah saw beliau bersabda :
“Janganlah kamu sekalian
menyakiti hamba Allah SWT, janganlah kalian mencela dan menjelek-jelekkan
mereka, dan janganlah kalian mencari-cari aib dan kekurangan mereka. Karena
barangsiapa yang mencari-cari dan mengorek-orek aib dan kekurangan sesama
saudara Muslim, maka Allah akan mengorek-orek aib dan kekurangannya sekalipun
yang ia lakukan di dalam rumahnya.” (HR. Ahmad).
Dengan
tersebarnya berita palsu lambat laun akan menyebabkan masyarakat terdorong
untuk menormalisasi hal itu dan seolah olah itu adalah hal yang lumrah. Ayat
ini menunjukkan bahwa hanya dengan menyebarkan berita palsu seseorang akan terancam
mendapatkan azāb. Orang-orang yang secara sadar menyebarkan, kejahatan dan
dosanya jauh lebih besar.
Peristiwa ini memperingatkan kita bahwa penyakit atau
sumber masalah dalam Islam bukan hanya berasal dari faktor eksternal, namun
faktor internal itu sendiri. Lalu apakah Rasulullah menjatuhkan hukuman hadd
qazf dalam peristiwa al-Ifk kepada
pelakunya?, terdapat dua versi pendapat dalam hal ini, yaitu[13]
:
Versi pertama dikatakan bahwa tidak
ada satu orang pun yang dikenai hukuman hadd qazf dalam peristiwa al-Ifk.
Sebab sebuah hukuman hadd akan ditegakkan apabila terdapat pengakuan
dari pelaku atau saksi, sementara Allah tidak memerintahkan penegakan hukuman hadd
atas peristiwa yang kejadiannya diketahui atas informasi dari Allah.
Sebagaimana Allah tidak memerintahkan membunuh orang munafik atas kekafiran
mereka.[14]
Namun, pendapat pertama ini dibantah oleh al-Qurṭhubi bahwa ini adalah
pandangan yang salah dan bertentangan dengan Q.S an-Nūr [24]:4 :
وَالَّذِيْنَ
يَرْمُوْنَ الْمُحْصَنٰتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوْا بِاَرْبَعَةِ شُهَدَاۤءَ
فَاجْلِدُوْهُمْ ثَمٰنِيْنَ جَلْدَةً وَّلَا تَقْبَلُوْا لَهُمْ شَهَادَةً
اَبَدًاۚ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
‘Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang
baik (berzina dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah
mereka delapan puluh kali’
Versi kedua mengatakan bahwa Rasulullah
menjatuhkan hukuman hadd qazf kepada Abdullah bin Ubay, Misṭhah bin Atṡatṡah,
Hasan bin Tṡabit, dan Hamnah binti Jahsy. Al-Qurṭhubi mengatakan bahwa yang
mahsyur dan populer di kalangan ulama yang dijatuhi hukuman adalah Misthah bin
Atsatsah, Hasan bin Tṡabit, dan Hamnah binti Jahsy. Sedangkan Abdullah bin Ubay
tidak dikenakan hukuman karena Allah telah menyiapkan azāb yang besar di
akhirat kelak. Seandainya dia diberi hukuman hadd di dunia, maka hal itu dapat
mengurangi atau meringankan azābnya di akhirat. [15]
Adapun orang-orang Islam yang
dikenakan hukuman hadd qazf bertujuan menjadi kafarat atau penebus dosa qazf,
sehingga tidak ada tuntutan di akhirat nanti. Rasulullah Saw bersabda :
Dan barangsiapa melakukan suatu perbuatan dari
perbuatan itu, lalu ia pun dihukum, maka hukuman itu menjadi kafarat baginya.
(HR. Muslim)
Kemudian pada ayat 19 diakhiri dengan
wallahu ya’lamu wa antum lā ta’lamūn, tidak ada siapapun yang mengetahui
rahasia jiwa manusia melainkan Allah SWT. Dan tidak ada siapapun yang dapat
mengendalikan manusia melainkan Allah saja. Dan tidak ada siapapun yang
mengetaui yang ẓahir dan batin kecuali Ilmu Allah yang Maha Mengetahui dan Maha
Mendalam Ilmu Pengetahuannya.
Meninjau dari
macam-macam pelaku perbuatan keji, dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1.
Orang yang menciptakan fitnah, dalam peristiwa al-Ifk
pencipta berita palsu menanggung konsekuensi berupa hukuman hadd qazf
berupa delapan puluh kali (80x) cambukan. Hal itu dapat menjadi kafarat
baginya, yaitu penebus kesalahannya di dunia sehingga di akhirat dia sudah
tidak dikenakan hukuman atau azāb. [16]
2.
Orang yang menyukai tersebarnya fitnah, orang seperti
ini tidak terlihat secara terang-terangan, namun hatinya bergembira atas
tersebarnya berita miring terhadap saudara semuslim. Walaupun hal ini terjadi
di dalam hati manusia, tetap saja tidak diperbolehkan. Hendaknya sesama muslim
saling berprasangka baik dan segera menyangkal apabila mendengar berita yang
belum diketahui kebenarannya. Bagi mereka yang gembira atas berita palsu
tersebut maka, hukuman hadd di dunia dan di akhirat berupa api neraka.[17]
3.
Orang yang menyebarkan berita palsu, Allah mencela
bagi seluruh mukmin yang menyebarkan berita palsu. Karena seharusnya atas
berita palsu itu mereka menyangkal lalu bertasbih sebagai ungkapan atas tidak
percayanya berita palsu. Hukuman dari perbuatan ini sama dengan pembuat berita
palsu tersebut yakni dera delapan puluh kali.
Kemudian
nasehat Allah dilanjutkan dengan Q.S an-Nūr [24]:20
وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُةُ وَاَنَّ اللّٰهَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Dan kalau bukan karena karunia Allah dan Rahmat-Nya
kepadamu (niscaya kamu akan ditimpa azāb yang besar). Sungguh Allah Maha
Penyantun, Maha Penyayang.
Atas peristiwa al-Ifk yang terjadi
Allah menegaskan bahwa Dia memiliki kemurahan hati kepada hamba-Nya. Jika bukan
karena belas kasihan dan karunia-Nya, maka Allah akan langsung mengazāb orang-orang
yang menyebarkan berita palsu atas ‘Āisyah r.a, akan tetapi Allah memberi kesempatan
dan mengampuni bagi hamba-Nya yang datang kepada-Nya untuk bertaubat. [18]
Hikmah yang dapat diambil dari Allah
yang menunda mengazāb orang-orang yang menyebarkan berita palsu tersebut antara
lain, pertama pintu taubat
terbuka lebar, dengan ditundanya pemberian azāb, pelaku penyebar berita palsu
tersebut diberi waktu oleh Allah untuk merenungi kesalahan yang diperbuat. Dengan merenung, orang tersebut diharapkan menyesali
perbuatannya dan bertaubat dengan sungguh-sungguh sebelum Allah menjatuhkan azāb,
sejalan dengan sifat Allah yang Maha Pengampun.
Kedua perbaikan sosial, berita palsu yang tersebar di
kalangan masyarakat tentu merusak kepercayaan, reputasi dan keharmonisan
masyarakat. Dengan Allah menunda pemberian azāb, maka ada waktu bagi pelaku
dalam memperbaiki hal yang dirusak. Memberikan klarifikasi dengan menarik
berita palsu yang telah disebar dan meminta maaf kepada pihak yang dirugikan.
Islam menekankan keadilan, selain bertaubat kepada Allah juga menekankan
perbaikan hubungan dengan manusia.
Ketiga,
peristiwa tersebut
dapat diambil hikmahnya dalam kehidupan modern seperti saat ini. Berkembangnya
teknologi memiliki kemungkinan besar terjadi penyebaran berita palsu atau hoaks.
Berbagai platform media sosial dapat menjadi lahan penyebaran hoaks.
Sehingga sebagai orang beriman, tentunya kita tidak boleh langsung memercayai
sebuah berita khususnya berita negatif. Dengan literasi digital di mana
pengguna media sosial menyaring seluruh informasi yang didapat. Hal ini sebagai
bentuk tabayyun atas informasi yang beredar sebelum diverifikasi
kebenarannya.
Ayat ini dapat dijadikan petunjuk
bagi yang sedang berada dalam bidang informasi, dari peristiwa al-Ifk
mengandung pesan bahwa dalam menyampaikan informasi seharusnya tidak membawa
dampak negatif dalam masyarakat. Menyampaikan informasi ada baiknya yang benar
dan positif asal tidak berlebihan, sehingga tidak menjerumus kepada pujian yang
menjerumuskan. Sedangkan berita negatif dianjurkan agar tidak perlu diungkapkan
kecuali dalam batas wajar. Seseorang tidak perlu menelanjangi orang lain untuk
membuktikan kejahatannya. Informasi kejahatan atau ketidakwajaran juga dianggap
tidak perlu diungkapkan untuk meminimalisir kejahatan yang baru. [19]
Sejalan dengan UU ITE Tahun 2008 BAB
VII tentang Perbuatan Yang Dilarang, Pasal 27 ayat (3) yang berbunyi “Setiap
orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan / atau mentransmiskan
dan / atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektrik dan / atau Dokumen
Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan / atau pencemaran nama baik”. [20]
Ketentuan pidana terkait
distribusi konten yang merusak kehormatan dalam UU ITE Tahun 2008 BAB VII Pasal
27 ayat (3) sejalan dengan spirit Q.S an-Nur[24]:19-20 untuk menjaga kehormatan
yang mencegah menormalisasi faḥishah.
Ayat tersebut merupakan nasihat yang
Allah turunkan setelah peristiwa al-Ifk, di mana peristiwa tersebut sangat
menyengsarakan kedua belah pihak, yaitu keluarga Rasulullah dan umat Muslim. Turunnya
ayat ini diharapkan dapat dijadikan acuan dalam menjaga etika umat Muslim dalam
melakukan kehidupan sosial dalam masyarakat. Karena saat ini kehidupan sosial
tidak dapat terpisahkan dari media sosial, maka diperlukan seperangkat alat
untuk menjaga integritas dan keamanan pada setiap individu.
Pada dasarnya, setiap individu
memiliki kebebasan bersuara juga menyampaikan informasi. Hal itu termasuk ke
dalam hak asasi setiap manusia, maka sudah sepantasnya manusia sebagai makhluk
sosial saling menghormati hak asasi antar individu. Walaupun kebebasan bersuara
dan memberikan informasi adalah hak asasi individu, hal ini tidak menjadikan
hak negara dalam mengatur kebebasan bersuara tersebut. Hak negara dalam
mengatur kebebasan bersuara bertujuan agar menciptakan situasi yang lebih
kondusif bagi perlindungan hak pribadi, keluarga, kehormatan martabat, dan nama
baik seseorang. [21]
Jika dalam Q.S an-Nūr [24]: 19-20 Allah
memberikan ancaman azāb yang pedih di dunia dan di akhirat pada pelaku penyebar
berita palsu (perbuatan keji). Negara pun memiliki sanksi dalam kasus ini jika
dilanggar yaitu, BAB XI tentang Ketentuan Pidana Pasal 45 ayat (1) yang
berbunyi “Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27
ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 6 (enam) tahun dan / atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000, 00
(satu miliar rupiah).[22]
KESIMPULAN
Pelajaran yang dapat kita ambil dari Q.S an-Nūr
[24]: 19-20 ini sangat beragam, Pertama, Allah menurunkan ayat ini untuk
membersihkan dan menegaskan kesucian ‘Āisyah r.a. Hal ini menunjukkan betapa
Allah meletakkan kasih sayangnya kepada ‘Āisyah r.a. Kedua, Allah secara
langsung melarang kita untuk menyambut dan menyebarkan berita yang belum benar
adanya di kalangan masyarakat agar saling menjaga antar sesama muslim. Ketiga,
selain kasih sayang Allah kepada ‘Āisyah r.a dan keluarga Rasulullah, Allah juga
meletakkan belas kasihnya kepada hamba-Nya yang ingkar. Dengan tidak langsung
menurunkan azāb dan memberikan kesempatan bagi hamba-Nya yang mau bertaubat.
Kehidupan di dunia saat ini yang dikelilingi oleh teknologi memungkinkan terjadinya peristiwa al-Ifk atau tersebarnya berita palsu. Selain bisa menjadi pihak yang dirugikan kita juga bisa menjadi pihak yang menciptakan dan menyebarkan berita palsu. Untuk mencegah hal tersebut dan mencegah rusaknya tatanan sosial maka sebagai pengguna media sosial kita harus bijak. Salah satunya dengan melakukan literasi digital.
[1] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an
& Museum Istiqlal, Qur’an Kemenag,
An-Nur 19-20, last modified 2022, https://quran.kemenag.go.id/.
[2] Imam As-Suyuthi, Asbabun Nuzul : Sebab-Sebab Turunya Ayat
Al-Qur’an (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2014).
h. 371-375
[3] Wahbah Zuhaili and Abdul Hayyie, Terjemah Tafsir Al-Munir Jilid 9 (Gema
Insani 9, 2018). h. 466
[4] Burhanud Din Abul Hasan Ibrahim bin
Umar Al Biqa’i, Nazhmud Duror Fi
Tanasubil Ayat Was Suwar (Maktabah Shameela, n.d.), https://shamela.ws/book/9098/6463#p1.
[5] Misbah, h. 309.
[6] Mahmud bin Umar bin Ahmad
Zamakhsyari, Al-Kasysyaaf ‘An Haqaa’Iq
at-Tanziil Wa ‘Uyuun Al-Aqaawiil Fii Wujuuh at-Ta’Wiil Jilid 3 (Kairo: Dar
al-Rayyan, 2000), 221, ://shamela.ws/book/9776/6362#p1.
[7] Prof. Dr. Hamka, Tafsir Al-Azhar Jilid 7 (Depok: Gema
Insani Press, 2015). h. 4910
[8] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan Dan Keserasian
Al-Qur’an Jilid 9 (Jakarta: Lentera Hati, 2005).
h. 305-306
[9] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an & Museum Istiqlal, Qur’an Kemenag, An-Nur 19, last modified 2022, https://quran.kemenag.go.id/.
[10] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an
& Museum Istiqlal, Qur’an Kemenag,
An-Nur 19, last modified 2022, https://quran.kemenag.go.id/.
[11] Yahya bin Ali Asy-Syaukani Abdullah
Al-Syaukani, Tafsir Fathul Qadir Jilid 7
Tahqiq Dan Takhrij Sayyid Ibrahim (Pustaka Azzam, 2016).
h. 809
[12] Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur’an Jilid 9.
h. 305
[13] Hayyie, Terjemah Tafsir Al-Munir Jilid 9.
h. 469
[14] Al-Munir ,
469.
[15] Ibid
[16] Hayyie, Terjemah Tafsir Al-Munir Jilid 9. h. 470
[17] Hayyie, Terjemah Tafsir Al-Munir Jilid 9. h. 473
[18] Hayyie, Terjemah Tafsir Al-Munir Jilid 9.
h.471
[19] Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur’an Jilid 9.
h. 307
[20] Pemerintah Pusat
Indonesia, Undang-Undang (UU) Nomor 11
Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik (Jakarta, 2008).
[21] Larangan Penghinaan et al., “1 Larangan Penghinaan
Dan/Atau Pencemaran Nama Baik Dalam Pasal 27 Ayat (3) Uu Ite” (2021). h. 3
[22] Indonesia, Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi
Elektronik.

Komentar
Posting Komentar